Mengulang Pelajaran

 

“We Only Learn If We Repeat”.

 

Dulu, ketika frasa mengulang pelajaran ini muncul, satu hal yang ada di benak saya adalah : Bosan.
Saya rasa sebuah acara tv berjudul “Are you smarter than a 5th grader?” (Apakah kamu lebih pintar dari anak kelas 5 SD?) adalah sebuah sindiran bagaimana dalam kehidupan kita banyak pengetahuan yang kita sentuh namun menguap begitu saja karena kita tidak menjaganya ada dalam kepala kita sehingga kita “kalah” dengan anak kelas 5 SD.

Mengulang adalah cara untuk menjaga pengetahuan & informasi. Sungguh absurd membayangkan kita telah menyerap pengetahuan ke dalam sanubari kita dengan hanya mempelajarinya sekali saja. Contohnya orang yang belajar menggambar, sesederhana pun suatu gambar, tetap ada proses yang dilalui. Dan proses itu juga dapat dikatakan sebagai perulangan, sehingga kita dapat sampaikan juga bahwa mengulang adalah sebuah latihan untuk menjaga bahkan meningkatkan ilmu dan atau skill kita. Contoh lainnya adalah dalam beragama. Sebagai seorang muslim, saya diwajibkan untuk salat 5 kali sehari. Salat adalah suatu bentuk perulangan, memiliki tahapan rukun salat, memiliki ayat-ayat yang harus dibaca. Agak mustahil saya rasa bagi orang yang baru pertama kali salat langsung tepat tata caranya, bacaan-bacaannya dll, namun kita memiliki setidaknya 5 kali sehari untuk belajar melakukannya. Suatu hal menarik dimana pada akhirnya agama mengajarkan kita pentingnya mengulang. Hal-hal yang tidak sering kita ulangi membuat hal itu menjadi lebih cepat menguap. Mengulang adalah suatu cara membangun kemantapan bahkan kekuatan atas ilmu yang kita miliki. Lalu, pada akhirnya kita akan melihat teman kita yang paling banyak mengulang pelajaran & melatihnya adalah memang pantas mendapatkan posisi puncak atas hal yang dia ulang-ulangi tersebut.

 

Mengulang untuk melekatkan

Apa yang kita dengar pagi hari ini, bisa jadi kita sudah lupa di sore hari. Pernah dengar kasus susah menghafal nama? Baru kenalan, ngobrol-ngobrol sebentar, tau-tau sudah lupa lagi saja siapa nama dari orang yang kita ajak bicara ini. Salah satu tips agar kita bisa mengingat nama orang adalah langsung menggunakan nama orang tersebut beberapa kali dalam percakapan, contohnya :

V : “Selama siang Bu, saya Vriske. Saya berbicara dengan Ibu siapa?”
N : “Nisa”
V : “Oh, baik Bu Nisa. Bu Nisa kalau ga salah bertanggung jawab untuk bidang blablabla?”
N: “Ya betul”
V: “Bu Nisa bisa bantu saya untuk mendapatkan kontak untuk blablabla”

Ya kira-kira gitu deh…
Namun dalam beberapa obrolan dengan teman, ternyata ada juga orang-orang yang tidak suka namanya dipergunakan sebagai kata panggilan, jadi sebaiknya kita juga harus cukup peka dalam penggunaannya.

Pengulangan adalah salah satu cara atau bahkan mungkin satu-satunya cara untuk memastikan bahwa suatu informasi benar-benar lekat di otak kita.

Kita sepertinya tidak sadar seringkali menyepelekan soal ulang-mengulang ini. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita mengulangi perbuatan baik kita kepada orang lain, orang-orang pun akan ingat kita sebagai orang yang melakukan kebaikan. Apabila kita terus mengulang-ulangi mengingatkan orang atas prestasi dan jabatan kita maka orang-orang akan mengingat kita sebagai tukang pamer. Karena sejatinya pengulangan akan menjadi habit, dan habit-lah yang pada akhirnya mendefinisikan kita di mata orang-orang.

 

Pengulangan adalah cara membentuk habit

Mungkin teman-teman pernah menemukan suatu quote atau puisi yang sangat indah yang maknanya  membekas. Ketika membacanya kita merasa damai dan diselimuti aura positif. Pertanyaannya: Berapa lama?
Kita berekspektasi bahwa aura positif dari quote tersebut akan  bertahan lama. Namun setengah jam kemudian kita sudah kembali dengan kegilaan dunia dan aura positif dari quote tadi pun menguap entah kemana…
Menyadari hal ini, kita harus secara sadar & aktif mengetahui apa & bagaimana kita meraih kembali kewarasan kita, menjaga agar kita tidak masuk aura negatif. Dan ketika mengetahui tips-nya, kita harus mencoba untuk mengulang hal tersebut secara sadar sehingga akhirnya dapat terekam secara tidak sadar.

Kita tahu bahwa pendidikan adalah perjalanan seumur hidup sampai akhir hayat, dan perulangan adalah bagian penting dalam pendidikan. Maka mulailah mengulang hal-hal baik dan ilmu-ilmu bermanfaat yang telah kita pelajari agar tidak hilang dimakan usia, karena kita adalah makhluk yang bisa dan bahkan mudah lupa.

Pernah dengar pepatah “Kebohongan yang diucapkan terus-menerus berulang-ulang lama-lama akan menjadi kebenaran” ? Dari pepatah tersebut bisa kita lihat betapa saktinya kekuatan perulangan. Maka, dalam hal bagaimanakah kita akan menggunakan kekuatan tersebut? Tentunya saya berharap digunakan untuk kebaikan.