Cerita Baca : Membaca? Buat apa?

Oke, sebelum saya lanjut sebaiknya saya disclaimer dulu bahwa postingan ini adalah postingan curhat. Jadi mungkin ga banyak penelitian-penilitian klinis soal membaca yang dapat teman-teman peroleh di sini, melainkan hanya manfaat membaca yang telah saya rasakan sendiri. Ya, postingan ini se-subjektif itu.

Langsung saja menjawab pertanyaan pada judul : Membaca? Buat apa?
Pada awalnya jujur saja saya membaca adalah buat tidur! (sampai sekarang pun masih begitu sih…).
Kalau susah tidur malam, pasti kita entah mengapa akan merasa agak gelisah dan rasanya pengen melakukan suatu kegiatan sampai akhirnya ngantuk dan tertidur. Di era mobile internet ini, biasanya mainan ponsel sebelum tidur kerap dilakukan sampai kita akhirnya tau-tau tertidur, namun dalam kenyataannya main ponsel sebelum tidur itu sebenarnya malah makin bikin ga ngantuk karena kita punya kecenderungan untuk pindah-pindah pilih nge-scroll sesuatu yang menarik. Bosan buka facebook, lanjut buka instagram, dan seterusnya. Gak tidur-tidur deh….

Selain itu seperti yang kita tahu, cahaya biru itu ga baik buat penglihatan, apalagi dalam kondisi gelap. Selain bikin mata cepat rusak, paparan sinar ponsel juga konon bikin kulit cepat tua.  Mengingat skin care bagus biasaya mahal dan sebagai freelancer bergaji absurd dimana keuangan musti cermat dalam mengelola (sebenaranya perkara duit sejak mahasiswa juga harus pandai ngaturnya sih, cuma pas kuliah dulu skin care belum nge-hype kayak sekarang), maka hal-hal mudarat kayak gitu bagusnya dihindari. Emang sih saya sendiri ga bisa total meninggalkan gawai sebelum tidur, namun seenggaknya ada usaha aktif untuk mencoba mengurangi kebiasaan tersebut.

Lalu terpikirkanlah untuk membaca buku. Awalnya mulai dengan membaca novel karena cuma buku itu yang ada, tapi eh kok seru ya…Lagi-lagi malah makin melek karena penasaran alur ceritanya…

Akhirnya saya berpikir lagi cara supaya bisa cepat tidur, sempat kepikiran apakah olahraga saja? Tapi kok malas ya karena kebayang habis olahraga meskipun capek dan pengen tidur, tapi badan bakal lengket keringatan. Belum lagi karena malam ga mungkin olahraga outdoor. Olahraga indoor yang memungkinkan juga paling senam Youtube… Belum lagi kamar kosan yang terbatas.
Next, akhirnya kepikiran untuk membaca buku non-fiksi. Buku pertama yang terlintas di kepala saya adalah : Diktat Pak Haldani.

 

Ternyata menarik….

 

Diktat Pak Haldani adalah buku-buku legendaris di kalangan anak kriya ITB. Bukunya banyak dan tebal-tebal. Beberapa diantaranya bahkan fontnya kecil-kecil. Itupun menurut Pak Haldani belum semua dari koleksinya, hanya intisari-intisari yang dirasa penting.

Pada masanya (saat kuliah dulu), melihat diktat-diktat Pak Haldani saja rasanya sudah mengantuk….

Agaknya strategi ini cukup berhasil. Baru beberapa halaman awal saja rasanya sudah bosan. Namun meskipun membaca dengan kecepatan bekicot, saat itu saya merasa bangga “Wah gokil! Gw belajar sebelum tidur, apa ga ilmu itu langsung terserap di ubun2 dan langsung tertanam dalam sanubari karena alam bawah sadar sedang terbuka?”. Yah, kira-kira pemikiran semacam itu muncul di masa muda yang penuh kesombongan. Ada pencapaian dikit tapi bangganya lebay. Tapi tentu saja tujuan utama saat itu tak lain tak bukan adalah supaya bisa tidur.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya mulailah terasa bahwa isi diktat itu cukup menarik. Akhirnya mengertilah saya kenapa yang dibagikan ke mahasiswa hanya “intisari”nya. Sejujurnya ada perasaan gemas & penasaran karena yang dibagikan ke mahasiswa adalah foto copy dari bagian buku, penasaran lanjutannya apa tapi gak mau keliatan sok pintar juga. Tau-tau sudah habis terbacalah itu diktat-diktat Pak Haldani. Ada perasaan menyesal juga kenapa kok baru sekarang, padahal tiap ujian kuliah Pak Haldani itu open book, cuma karena sumbernya “banyak”, nyarinya aja makan waktu, belum lagi nyalinnya. Kalau udah pernah dibaca kayak gini kan seenggaknya kita bisa ngerasa, ohhh yang itu ada di sekitaran halaman ini, jadi waktu pencarian bisa lebih sedikit. Tapi yasudahlah, dasar mahasiswa, hahaha.

 

Jadi Tertarik Buku Non-Fiksi

 

Semenjak itu membaca buku non-fiksi adalah alternatif pertama saya jika tidak bisa tidur. Kalau saya misuh-misuh gak bisa tidur itu tandanya sedang ga ada bacaan atau bacaan yang lagi dibaca benar-benar tidak menarik. Karena pada akhirnya saya merasakan bahwa membaca sebelum tidur itu ibarat mendayung 2-3 pulau terlampaui. Menambah wawasan iya, bikin ngantuk iya juga (in this case ngantuk is a good thing ofc!). Cuma kadang sebal kalau bacaannya jelek rasanya tidur pun mood jadi jelek juga hahaha. Nah karena sebal dengan buku-buku yang saya anggap “buang-buang waktu” bacanya, secara naluriah saya pun mulai lebih selektif memilih buku yang saya baca. Gimanapun ada waktu dan uang (buat beli bukunya) yang diinvestasikan dalam aktivitas membaca itu, dan saya ingin value kembalinya adalah kepuasan akan wawasan baru yang saya dapat setelah membaca buku tersebut.

Alasan lain kenapa tertarik buku non-fiksi adalah banyaknya “oooo” dan “aha” moment di saat membaca. Kalau dalam novel ooo & aha moment adalah adegan-adegan dimana sesuatu terkuak, kalau dalam non-fiksi hal itu lebih kepada hal-hal yang relatable di dunia nyata. “Ohh iya ya…bener juga ya”, hal-hal semacam itu adalah perasaan menyenangkan yang saya dapat saat membaca buku non-fiksi dan mungkin suatu hari hal dalam buku tersebut bisa saya praktekan dalam kehidupan nyata.

 

Reading Challenge

 

Membaca adalah aktivitas positif dan bukan rahasia kalau banyak orang-orang sukses biasanya punya hobi membaca. Namun, dari cerita saya itu, saya harap teman-teman memahami bahwa kadang kita tidak perlu alasan yang heroik untuk membaca. Kita gak perlu punya ambisi untuk sukses baru mulai membaca, baca ya baca saja. Saya sendiri sampai saat ini masih membaca lambat kok, sering cuma baca 1-2 halaman saja sehari karena tujuannya ya buat bikin ngantuk tadi. Tapi saya tidak menampik bahwa memang pada akhirnya banyak sekali manfaat dan wawasan yang bisa kita peroleh dengan membiasakan membaca.

Reading Challenge, sebuah “gamification” tertarget dimana kita ditantang untuk membaca buku yang kita tentukan sendiri jumlahnya dalam setahun, mungkin bisa jadi bumbu penyemangat kita untuk membaca. Saya sendiri dalam menentukan reading challenge hanya mematok angka 12 untuk jumlah buku yang saya baca dalam setahun. Sederhananya, yah minimal 1 lah sebulan. Dan reading challenge saya selalu sama jumlahnya tiap tahun, tidak bertambah.

Dalam menyikapi reading challenge, berhubung namanya juga challenge ya “tantangan”, ada orang-orang yang terus menambah jumlah buku tiap tahun, namun ada juga yang mengurangi karena kecepatan dan kesempatan membacanya ternyata sedikit. Intinya jadikanlah reading challenge ini hanya sebagai tolak ukur kemampuan rata-rata baca buku kita per tahun berapa. Jika target terlalu banyak, tahun depan dikurangi, atau sebaliknya. Atau mungkin seperti saya, tetap 12 biar seenggaknya selalu diingatkan setidaknya ada 1 buku yang dibaca tiap bulannya.
Saya bilang seperti ini soalnya pernah ketemu teman yang seperti “pundung” membaca karena target reading challenge-nya tidak tercapai. “Yah daripada sedih gue gak nyampe target mending ga usah bikin sekalian deh”, akhirnya doi malah malas baca karena ngerasa ga punya target.

Saran saya, sediakanlah target itu meskipun 1. Tapi tolong yang 1 itu jangan yang easy-reading seperti komik atau buku puisi ya. Kalau itu sih berapa menit juga udah kelar dong dong kedondong.

Last but not least :

Mulailah membaca apapun alasannya, bahkan kalau ga ada alasan sekalipun.

Karena manfaat membaca itu nyata adanya dan hanya bisa kerasa ya kalau sudah selesai membaca. Begitchu~

Selamat membaca!