Sosial Media & Narasi Kemiskinan

 

Sobat Miskin, Sobat Misqueen, Sobat Kismin, dlsb
Belakangan panggilan bernuansa ekonomi kurang mampu ini banyak berseliweran di sosial media. Diantara para warganet yang menggunakan istilah tersebut saya harus mengakui bahwa saya pun pernah menggunakannya.

Namun seperti halnya tren – atau mungkin kesadaran saya yang tiba-tiba pulih-  saya sendiri mulai merasa jengah dan eneg dengan bermacam istilah dan panggilan tersebut. Tentu saja ini bukan karena saya sudah kaya, namun karena makin kesini bangsa kita semakin menjadi bangsa yang penuh ratapan. Jomblo meratap, miskin meratap. Rasanya semua berlomba-lomba ingin jadi yang paling layak dikasihani.

 

Syahrini & Awkarin

Saya sendiri tidak tahu persisnya kapan wabah generasi kismin (baca:miskin) ini dimulai dan semakin menggurita. Jika wabah jomblonesia saya rasa dipopulerkan oleh Raditya Dika dan digencarkan oleh Ridwan Kamil, maka hal yang terpikir oleh saya ketika membahas wabah miskin yang dibesar-besarkan ini dimulai secara tidak langsung oleh Syahrini & (mungkin) secara sengaja oleh Karin Novilda. Tentu saja ini adalah pendapat subjektif.

Syahrini, yang kita tahu sendiri betapa glamor feed instagramnya, dulu sempat disebut hidup dari sensasi, termasuk sensasi berbahasa. Semakin banyak orang menghujat, semakin besar pundi-pundi rupiah yang didulangnya. Karena pada dasarnya dunia entertainment memang dirancang seperti itu. Siapa yang paling banyak memperoleh atensi publik, dialah yang paling “layak” dapat panggung. Masih saya ingat banyak komentar warganet kira-kira sebagai berikut : “Kalian hina-hina aja incess terus, dia yang dapat duit kalian tetap miskin!”.

Hampir senada dengan Princess Syahrini. Karin Novilda atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Awkarin, “mekar” di jagad sosial media karena sensasi. Berbeda dengan incess yang cenderung tidak terlalu merespon kata-kata netizen, Karin dalam beberapa captionnya terdahulu (gak tau sekarang) sibuk “membalas” komentar warganet. Karena saya tidak mengikuti dia di linimasa instagram saya, saat saya scroll banyak sekali “sindiran” Karin untuk warganet. Saya lupa persisnya, namun kira-kira seperti ini: “They told me this and that, but they’re broke”. Karin tahu, uang dan popularitas adalah kelebihannya dibandingkan dengan netizen yang sibuk mencari-cari kesalahannya.

Apakah Syahrini dan Karin salah? tentu tidak. Tidak ada oknum yang salah.

 

Twitter & Gerilya Sobat Miskin

Namun demikian, saya juga menaruh kecurigaan kepada masyarakat Twitter akan hal ini. Meskipun saya bukan pengguna Twitter aktif, namun melihat sepintas tren masyarakat twitter yang penuh akan meme-meme turunan terjemahan, rasanya bisa jadi wabah generasi kismin ini “menular” dari twitter ke instagram, sebagai sindiran atas kehidupan feed instagram yang penuh dengan pencitraan kebahagiaan & hura-hura. Apalagi setelah tayangnya Crazy Rich Asian yang disusul oleh merebaknya hashtag #CrazyPoorAsian.

Dulu, ketika Mario Rapuh masih aktif, saya masih sering berkunjung ke twitter hanya untuk melihat cuitan demotivasionalnya. Setidaknya hal itu membantu saya menertawakan diri saya sendiri. Untuk cuitan ekonomi sulit, saat itu saya sering mengunjungi profil twitter Pakalu Papito. Sama seperti Mario Rapuh, cuitan-cuitan kemiskinan itu terasa akrab dan membuat kita sanggup menertawakan “kemiskinan” kita sendiri. Dan mungkin karena akun tersebut juga akun anonim…

 

Namun, di sinilah yang menjadi masalah…
Kita tidak lagi menertawakan kemiskinan kita sendiri (seperti Pakalu Papito yang sibuk menertawakan kemiskinan, kejelekan dan nasibnya), namun warganet mulai menertawakan kemiskinan orang lain. Head-to-head satu sama lain.

 

Saling menghina soal selera & ekonomi.

 

Salah ga sih? Kalau dibilang salah atau tidak tentu relatif. Karena di masa sekarang dimana sarkas dianggap akrab, siapa yang tidak kuat menahan sarkasme dunia maka disebutlah dia baper. Menurut saya, becandaan soal sobat miskin atau status apapun ya fine-fine saja, asal tidak menunjuk ke muka orang lain.

Apa anehnya dengan shampoo yang diisi air? Lama-lama hidup untuk berusaha tidak mubazir pun dianggap miskin.


 

“It is not the man who has little, but he who desires more, that is poor.”

-Seneca-


 

Romantisme Kemiskinan Masa Lampau & Wejangan Plurk

Berbeda dengan tren sosial saat ini yang berbondong-bondong jual derita. Derita jomblo, derita miskin, dan derita-derita lainnya. Saya kembali tertegun ketika dulu waktu waktu era 90an (?), status ekonomi bukanlah olok-olok namun muncul sebagai suatu bentuk kebebasan khas anak muda.

 

Masih ingat lagu Slank “Makan Gak Makan Asal Kumpul” ?
Masih ingat lagu Koes Plus “Begini Nasib Jadi Bujangan” ?
Ke mana mana asalkan suka Tiada orang yang melarang
Hati senang walaupun tak punya uang.

 

Dulu, semangat woles dan gak pedulian ini sempat disindir sebagai kemalasan dan pembenaran khas anak muda.
Karena, hey, kesuksesan itu standarnya materi & pendapat orang lain kan?

Itulah yang saya maksud. Ribet memang kalau sudah membahas sesuatu yang bukan milik kita , misalnya materi orang lain. Di era serba ngatain (termasuk postingan ini tentunya, hehe) saya ingin membagikan “wejangan” yang saya dapat dari linimasa Plurk saya:

Konon ucapan adalah doa. Kalau kita percaya kita adalah “sobat miskin”, mungkin bisa jadi kita sedang mendoakan dan secara tidak sadar “menyamankan” hidup kita untuk terus tetap miskin. Sebaiknya tidak melabeli diri sendiri (apalagi orang lain) dengan predikat-predikat yang menjatuhkan. Mungkin kita memang tidak kaya, tapi bukan berarti kita tidak berkecukupan. Masih bisa tidur dengan nyaman, masih bisa makan, masih bisa beribadah dengan tenang, bahkan masih bisa internetan sebenarnya sudah memposisikan kita sebagai makhluk yang berkecukupan.

Becanda boleh, namun sebaiknya hati-hati. Bisa jadi orang yang sedang kamu katain miskin adalah orang yang sedang berusaha sekuat tenaga menafkahi keluarganya, berusaha habis-habisan cari uang supaya anaknya bisa makan bisa sekolah. Karena ngatain orang memang gampang. Dengan alasan becanda, kita tidak tahu bahwa kita sedang menambah tumpukan dosa.