Review Buku : Malas itu Perlu

Apakah Malas itu Perlu? Apakah buku ini menjawab pertanyaan itu?
Jawabannya tidak. Bahkan aku pun bingung kenapa aku beli buku ini…. Mungkin ini yang dinamakan takdir.

 

Kilas balik ketika membeli buku ini: saya tidak sengaja melihat buku ini dan mengernyitkan kening ketika membaca judulnya. “Clickbait macam apa ini?”, pikir saya. Namun demikian, saya sendiri harus mengakui bahwa ada kalanya saya menikmati hal-hal yang demotivasional macam ini. Akhirnya saya mengintip isi buku ini, dan surprisingly saya cukup menikmati isinya yang dikemas ringan dan kadang-kadang menghibur. Karena ternyata ketika saya mengintip buku ini sudah hampir jam tutup toko buku sementara saya masih merasa asyik sendiri membacanya, tau-tau tangan saya sudah membawa buku ini ke meja kasir. Duh.

 

Saya akan mengategorikan buku ini sebagai easy reading karena untuk menyelesaikan membaca buku ini memang tergolong cepat. Seperti buku hits ‘Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini’ (NKCTHI) yang minim tulisan namun dalam – bahkan buku NKCTHI ini tergolong buku ilustrasi daripada buku cerita/literatur- buku Malas itu Perlu pun berisi banyak ilustrasi dan komik-komik pendek. Namun ada beberapa cerita juga dalam buku ini yang dikemas melalui tulisan tanpa ilustrasi.

 

Tentang Self-Acceptance

 

Saya sendiri bingung kenapa pengarang atau penerbit atau siapalah memilih judul yang clickbait begitu. Padahal isi buku ini sungguh jujur bercerita tentang self-acceptance alias penerimaan diri pengarangnya. Pengarang mengetahui bahwa berdasarkan pandangan sosial, dirinya tidak cukup “keren”, namun demikian dia sendiri menyadari bahwa yaa memang dia tidak keren dan merasa tidak butuh untuk berusaha lebih demi terlihat keren di mata orang-orang. Dan sebenarnya ketika kita hidup Tuhan tidak mewajibkan kita untuk menjadi keren. Tuhan memberikan kita hidup untuk dilaksanakan sampai akhir hayat, perkara hidup kita keren atau tidak itu terserah kita menggunakan waktu hidup kita. Pengarang sendiri secara implisit saya rasa memutuskan untuk menggunakan waktu hidupnya dengan cara yang mainstream, dibiarkan mengalir apa adanya dan menyesuaikan seseuai kebutuhan.

 

 

Kalau teman-teman yang membaca ini juga memfollow instagram pribadi saya, mungkin ingat dengan komik tentang ubi dan gingseng yang pernah saya posting di igstory. Nah, komik itu ada di buku ini. Beberapa komik dan cerita-cerita pendek yang disampaikan di buku ini terasa akrab dengan kehidupan sehari-hari, beberapa diantaranya membuat saya berceletuk “Ah, ini kayak si X nihh hahaha”. Apakah hal-hal keseharian yang ada di buku ini dilengkapi tips untuk menjadi sukses? Saya rasa tidak. Hanya beberapa kalimat untuk mengubah mindset kita sehingga pikiran kita menjadi lebih positif dan perasaan kita menjadi lebih baik. Ironisnya, pengarang justru merasa bersalah ketika dia merasa malas, sungguh bertolak belakang dengan judul buku ini bukan? Saya rasa daripada embel-embel sukses, embel-embel “ikhlas” mungkin lebih tepat.

 

Overall, saya sendiri bingung apakah harus merekomendasikan buku ini atau tidak. Tapi saya akui bahwa buku ini entah mengapa cukup menghibur kok. Untuk ratingnya saya beri 2,7/5.  Separo lebih sedikit dari total score lah… Lebihnya adalah karena saya merasa buku ini sangat “human” sekali. Ya seenggaknya human disekitar saya lah.