The Art of Thinking Clearly by Rolf Dobelli (Review Buku)

The Art of Thinking Clearly by Rolf Dobelli

 Baca juga:

The Art of Thinking Clearly adalah sebuah buku yang ditulis oleh Robert Dobelli yang berisi tentang 99 kesesatan berpikir. Singkat cerita, buku ini sangat berguna untuk “mereview” kembali apakah kita benar-benar sudah berpikir logis? atau ternyata apa yang kita pikir “logis” ternyata hanyalah sebuat sesat pikir yang tidak kita sadari?

The Art of Thinking Clearly – Buku yang To The Point

Tanpa babibu, buku ini langsung dimulai dengan sesat berpikir nomor 1. Tiap-tiap kesesatan berpikir ditulis dengan jelas, lengkap dengan contoh. Selain itu setiap bab hanya berkisar 2 sampai 4 halaman (mungkin beberapa ada yang lebih tapi rata-rata sih segituan). Karena per bab-nya cukup pendek, menurut saya buku ini cukup enak buat daily reading atau orang yang reading span-nya pendek kayak saya, karena sehari bisa menarget satu bab untuk dibaca.

Alasan lain yang sempat dikemukakan oleh Rolf Dobelli tentang mengapa setiap poin kesesatan berpikir ditulis pendek-pendek adalah karena pada mulanya catatan tentang thinking fallacy (sesat pikir) ini hanya untuk sebagai catatan pribadi. Namun seiring waktu, teman Dobelli menyarankan agar catatan ini dipublikasikan ke khalayak agar orang-orang juga mendapatkan manfaatnya.

Tidak semuanya sesat

Betul bahwa kadang ada pemikiran-pemikiran yang kita anggap atau terasa “rasional” namun ternyata hanya sesat pikir belaka. Meskipun demikian, ada beberapa “sesat” pikir yang sebenarnya kita sadari kesesatannya namun sengaja kita lakukan untuk memanipulasi sifat dan motivasi kita. Saya ambil contoh yang cukup sering muncul di sekitar kita : Mungkin kita familiar dengan seseorang (entah itu teman, keluarga atau bahkan kita sendiri) membeli paket member gym padahal bukan penyuka olahraga. Ketika ditanya “kamu kan ga suka olahraga, kok daftar member gym?” “Biar ngerasa ga mau rugi karena udah bayar. Jadi dipaksa olahraga.”

Menurut Dobelli, skenario tersebut dikategorikan salah satu sesat berpikir. Kenapa? Karena tidak ada hubungan antara membayar iuran dengan rajin berolahraga. Uang yang sudah dibayarkan ya sudah hilang, tidak otomatis membuat kita menjadi rajin nge-gym. Perasaan tidak mau rugi itu juga sebenarnya mempunyai efek yang sama dengan sahutan “ayo olahraga jangan malas!” namun dimanipulasi menjadi “ayo ke gym, kan udah bayar”, karena toh kedua pemikiran itu sama-sama bertujuan mengajak kita berolahraga. Kita berpikir dengan melakukan “pengorbanan” lebih banyak (seperti membayar iuran gym) membuat kita berpikir akan lebih mudah untuk “termotivasi”.

Menurut saya pribadi hal tersebut memang gak logis, tapi dalam kehidupan nyata saya melihat “manipulasi” pemikiran seperti itu adakalanya berhasil memotivasi teman-teman saya. Yang jelas buat saya jarang sekali pernah berhasil sih…. Kalau saya daftar gym membership itu kemungkinan besar ya emang pengen ikut kelasnya atau pake alat-alat gym nya, gak bisa tuh pakai alasan “sayang udah bayar”.

Kesimpulan

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, list sesat berpikir yang dikumpulkan Dobelli cukup membuat kita mengevaluasi cara berpikir kita, dan mungkin ke depan juga sebagai pengingat : apakah saya benar sudah berpikir logis? atau hanya merasa sudah berpikir logis padahal yang sebenarnya terjadi adalah sebuah kesesatan berpikir?

Buku The Art of Thinking Clearly ini bisa ditemukan di Periplus untuk versi asli berbahasa Inggris. Atau juga dapat diperoleh di Gramedia untuk versi terjemahannya.

Overall rating : 4/5
4/5

Salam hangat,

vike sig

Vriske Rusniko

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest

Tinggalkan Balasan