Elemen-Elemen Desain

Secara singkat elemen-elemen desain bisa dikatakan sebagai bagian-bagian pembentuk karya. Mungkin jika ini kita asumsikan seperti memasak kue, elemen-elemen desain adalah bahan-bahannya, sementara prinsip-prinsip desain adalah cara membuatnya. Akan ada tips-trik untuk mencapai kue yang diharapkan, namun kita juga harus memperhatikan “kualitas” bahan pembentuknya.

Untuk artikel tentang Prinsip-Prinsip Desain bisa dicek pada tautan berikut ini.

 

Titik

Elemen Desain Titik

Sebenarnya kalau melihat literatur-literatur atau sumber-sumber lain, ada yang menganggap bahwa titik adalah bagian dari elemen desain, namun ada juga yang mengatakan sebaliknya. Alasan mengapa titik tidak dianggap merupakan elemen desain adalah karena dianggap terlalu sederhana sebagai elemen. Namun demikian saya (dan beberapa pihak tentunya) merasa justru karena keberadaannya yang sangat sederhana, maka dia menjadi “elemen” penting yang membentuk elemen lain. Penjelasan soal titik ini juga menarik : seperti pembahasan sebenarnya seperti apakah bentuk titik itu? Apakah bulat? Mengapa dikatakan titik, mengapa tidak dikatakan bulatan saja?
Terlepas dari semua kontroversi soal titik, ada beberapa hal yang bisa dijadikan kesepakatan antara lain : titik merupakan “noktah” yang sangat kecil dibandingkan dengan bidang/kanvas/ruang yang menampungnya. Bisa jadi setelah di-zoom berkali-kali kita mendapati noktah ini tidak berbentuk bulat sempurna, atau bentuknya sulit untuk kita definisikan. Namun karena perbandingan dengan bidangnya sangat kecil maka terlihat seperti bulat kecil saja (misalnya kita menorehkan/menitik sedikit ujung pulpen ke kertas A3. Karena bidangnya besar dan coretannya yang kecil maka coretan itu terlihat seperti titik saja).

 

Garis

Elemen Desain Garis

Garis adalah pertemuan antara 2 titik. Bentuknya bisa macam-macam, bisa lurus, melengkung atau awut-awutan. Biasanya garis tidak terlalu tebal. Ada batas ketebalan yang bisa kita rasakan apakah itu garis atau bukan, lagi-lagi  bergantung kepada perbandingan dengan bidang/kanvas yang digunakan. Agak sulit menjelaskannya karena ini kembali kepada persepsi dan imajinasi masing-masing, tapi akan saya coba. Misalnya, bayangkan sebuah garis lurus antara A dan B, bayangkan garis yang sama tapi ketebalan garisnya kita naikkan 100x . Mungkin garis ini sudah tidak terlihat sebagai garis lagi namun lebih terlihat sebagai persegi panjang.

 

Bentuk (Shape)

Elemen Desain Bentuk

Betuk adalah suatu wujud yang timbul akibat peranan garis yang membatasi ruang dan bersifat 2 dimensional. Contohnya segitiga, kotak bahkan bentuk yang abstrak.

 

Dimensi/Volume (Form)

Elemen desain dimensi volume

Sebenarnya agak bingung ketika membedakan dalam bahasa Indonesia antara Shape & Form, maka saya memutuskan untuk mengartikan form sebagai dimensi/volume karena form umumnya mengacu kepada bentuk yang memiliki volume : seperti kubus, balok, prisma, dlsb.

 

Warna

Elemen Desain Warna

Saya rasa warna sudah cukup jelas maksudnya. Teori tentang warna jika dijabarkan di sini bisa panjang sekali. Pembahasan soal warna bisa mencakup terang, gelap, penggabungan warna-warna primer, panjang gelombang sehingga kita bisa melihat warna tertentu dan lain sebagainya.

 

Ruang

Elemen Desain Ruang

Ruang dalam pembahasan elemen desain ini bisa dibilang adalah bidang tempat kita menuangkan karya. Salah satu contoh pembahasan yang cukup populer tentang ruang ini adalah pembahasan tentang ‘Negative Space’ atau bagian karya yang seolah-olah dibuat kosong begitu saja atau kita bisa sebut juga sebagai “ruang kosong”. Banyaknya ruang kosong dalam desain untuk beberapa pihak menganggap  hal itu sebagai “kemalasan” desainer, namun ada juga yang menganggap bahwa permainan ruang kosong dan peletakan elemen desain lain dengan memperhatikan posisi, keseimbangn dlsb terhadap ruang kosong akan memberikan desain yang minimalis & elegan. Salah satu subjek penggunaan ruang pada desain yang menarik adalah tentang Teori Gestalt yang pernah saya bahas sebelumnya.

 

Tekstur

Elemen Desain Tekstur

Tekstur mengacu pada bentuk permukaan pada karya sehingga menimbulkan kesan visual yang diasosiasikan biasanya dengan indra peraba. Misalnya tekstur semen yang terlihat kasar dan sedikit berbutir, atau tekstur yoghurt yang lembut, dlsb. Contohnya: jika kita menggambar kursi dan menambahkan tekstur suede pada bantalan kursinya maka yang melihat bisa membayangkan sekaligus dengan menggunakan imajinasi & pengalaman merasakan tekstur suede yang ingin diinformasikan dari gambar kursi tersebut.