Journal

Uang, Bank & Kredit explained for Dummies


Untuk memahami relationship saya dengan uang, saya mencoba mengupas apa sebenarnya uang itu? Mengapa sering sekali kesuksesan seseorang dilihat dari seberapa banyak uang yang dia miliki? Apa jadinya jika di dunia ini tidak ada uang?

Saya mulai dari pertanyaan terakhir dulu, apa jadinya jika di dunia ini tidak ada uang? Jika melihat dari sejarah, manusia pernah hidup tanpa uang. Sebelum uang ditemukan, manusia memenuhi kebutuhan dan keinginannya dengan cara barter, baik untuk barang maupun jasa. Saya beri kamu satu kambing, tapi kamu bantu saya bangun rumah ya? Semacam itu.

Namun, kita tahu bahwa sistem barter itu merepotkan. Misalkan saya memiliki kentang dan saat ini saya membutuhkan baju baru. Saya harus mengetahui siapa penjahit yang mau membuatkan saya baju baru dan bersedia “dibayar” dengan kentang. Sayangnya, penjahit favorit saya sudah memiliki banyak kentang dan dia tidak menginginkan kentang, dia ingin daging salmon segar. Maka saya harus mencari orang yang mau menukarkan daging salmon dengan kentang, dan sialnya kami tinggal di pegunungan dimana ikan laut susah ditemukan. Sampai di sini, sudah kebayang repotnya kan sistem barter itu? Keinginan, selera, standar dan modal yang dimiliki orang berbeda-beda sehingga proses transaksi menjadi rumit dan melelahkan.

Singkat cerita, kerumitan sistem barter itulah yang kemudian yang memunculkan suatu “inovasi” bernama uang. Uang menjadi suatu “kesepakatan bersama” yang diinginkan semua orang. Uang berharga karena semua orang menganggapnya berharga. Karena dengan memiliki uang, seseorang memiliki kemampuan untuk menukar uang tersebut dengan apa yang dia mau.

Untuk membeli tomat, saya membutuhkan uang. Namun, jika saya bisa menanam tomat sendiri dan hasil panennya mencukupi untuk kebutuhan hidup saya, saya tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli tomat. Dan jika ternyata hasil panen tomat saya surplus, atau lebih dari yang saya butuhkan, saya bisa menjualnya dan mendapatkan uang dari orang yang menginginkan tomat saya.

Bank & Kredit

Karena semua orang menganggap uang berharga, maka wajar semua orang menginginkan uang. Hal ini dapat memancing tindak kriminal jika seseorang menyimpan uang terlalu banyak di rumahnya. Sehingga pada akhirnya muncul pertanyaan : Bagaimana menyimpan uang yang aman?

Awalnya, masyarakat dan pemerintah (seperti raja/kaisar) “menitipkan” uang yang mereka miliki ke sebuah lembaga yang mereka percaya, yang mereka yakin bahwa yang dititipkan akan menjaga dan tidak akan menyelewengkan titipan kekayaan mereka dan lembaga ini pada masa lalu adalah lembaga agama. Mencuri adalah hal yang dilarang agama, dan baik raja maupun masyarakat yakin bahwa pemuka agama yang mengelola kekayaan ini memiliki sifat yang amanah. Raja pun membutuhkan “pegawai” untuk mengutip dan mengelola pajak yang dikumpulkan dari masyarakat, dan lagi-lagi, butuh orang yang teliti dan amanah untuk mengerjakan itu semua.

Singkat cerita, urusan penyimpanan duit adalah urusan trust alias soal kepercayaan.


Dulu, ada masa-masa ketika orang-orang merasa tidak mau atau tidak perlu menjadi kaya. Karena mereka menyadari sifat yang transaksional. Jika ada orang kaya, pasti ada orang miskin. Sehingga kekayaan tidak membuat seseorang bangga karena itu menandakan distribusi kesejahteraan yang tidak merata. Menjadi kaya tampak sebagai sebuah ketamakan.

Lalu muncullah Adam Smith. Adam Smith berargumen, sistem ekonomi yang sekarang apabila diibaratkan seperti sebuah kue maka kekayaan seseorang akan diibaratkan sebagai porsi kuenya. Jika ada orang yang porsi kuenya lebih besar, berarti ada orang yang mendapat porsi kue yang lebih kecil. Namun, bagaimana kalau seandainya ukuran kuenya yang kita perbesar? Sehingga semua orang dapat menikmati kue lebih banyak sebanyak yang mereka mau tanpa harus mengambil porsi orang lain? Di sinilah muncul yang namanya kredit.

Dulu orang tidak bangga ketika menjadi kaya, karena dengan menjadi kaya berarti ada “porsi kue” orang lain yang kita ambil. Namun dengan munculnya kredit, kekayaan dianggap sebagai kemampuan untuk memperbesar kue itu sendiri. Contohnya begini: Pak Budi mendirikan sebuah bank (Bank Budi), lalu Pak Sugeng, seorang kontraktor, datang dan menyimpan uang sebesar 10 juta, sehingga bank memiliki simpanan senilai 10 juta. Lalu ada Bu Ani, Bu Ani memiliki kemampuan memasak yang oke dan berencana membuat restoran di daerahnya karena setelah riset pasar dia yakin restorannya akan disukai. Untuk membangun restoran ini Bu Ani membutuhkan 10 juta yang dipinjam secara kredit ke Bank Pak Budi. Bank Budi menyetujui dan membukakan akun bank untuk Bu Ani dan mentransfer 10 juta ke rekening baru Bu Ani. Bu Ani menggunakan jasa kontraktor (Pak Sugeng) untuk membangun restorannya, dan Pak Sugeng mematok dana 10 juta untuk jasanya. Maka ditransferlah uang yang Bu Ani punya ke rekening Pak Sugeng. Maka saat ini Pak Sugeng memiliki kekayaan sebesar 20 juta di Bank Budi. Dan ternyata karena satu dan lain hal, biaya konstruksi membengkak sehingga Bu Ani harus membayar 10 juta lagi. 10 juta biaya tambahan ini dipinjam lagi oleh Bu Ani dari Bank Budi, dan kemudian ditransferkan ke rekening Pak Sugeng.

Dari cerita di atas kita bisa lihat kita bisa lihat di akhir cerita Pak Sugeng memiliki total kekayaan sebesar 30 juta. Sementara uang cash yang ada di Bank Budi ada berapa? yup, hanya 10 juta.

Inilah yang terjadi di perekonomian kita saat ini dimana transaksi semakin cashless dan dapat dilakukan cukup dengan transfer saldo, bukan menukar uang fisik dengan barang lagi.


Sampai sini sudah paham kan, bagaimana hubungan antara uang, bank dan kredit? Next post akan kita bahas lebih lanjut soal kredit karena kalau ditulis di sini takut kepanjangan, hehe. Ditunggu ya!

Share on:

with love,

Thank you for all the readers! If you like the content and want to support, you can donate via Ko-fi (Global) or Trakteer (Indonesia)

Postingan selanjutnya

Tinggalkan komentar

Home
Journal
Design
Others
Search