Journal

Renungan Malam: Apakah Sombong Lebih Mudah Depresi?


Ibarat zakat, infaq, sadaqah membuka pintu rezeki, apakah sombong membuka pintu depresi?


Postingan blog ini sebenarnya adalah lanjutan dari postingan bertema sama yang saya tulis di akun sosial media saya sbb (saya yang kuning):

Gambar sebelum adalah cuplikan dari status yang saya tulis di sosial media perihal renungan yang akan kita bahas. Pemikiran soal sombong mengakibatkan depresi ini cukup menyita pikiran di malam itu sampai saya merasa perlu “loosen up a bit” dengan menumpahkannya di sosial media. Namun, membaca responnya sepertinya saya membuat pembaca lain menjadi kurang nyaman karena status saya (memang) terlalu dangkal, apalagi kalau kita menghubungkannya dengan depresi.

Pembahasan tentang depresi bisa sangat banyak kita temukan karena mental awareness juga semakin marak. Dan seperti kata Mba Merah yang saya parafrasekan: terlalu dangkal untuk mengatakan sombong sebagai sebab depresi. Dan coba lihat Mba Biru, beliau jadi merelasikan status tersebut dengan dirinya…

Banyak hal yang bisa mengakibatkan depresi, kurang duit pun bisa bikin depresi….

Kenapa berasumsi begitu, hah? Siapa yang bilang?

Baca sub-judul di atas dengan nada Soeharto.

Oke, saya akan ceritakan dulu asal-muasalnya, dan hal-hal apa yang men-trigger saya berasumsi demikian.
Alasan saya menganalogikan hal tersebut dengan zakat adalah : karena buktinya ga ada. Begitupun soal sombong mengakibatkan depresi, ini juga modal saya cuma “merasakannya”.

Gak ada bukti bahwa zakat dan kawan2nya itu membuka pintu rezeki, tapi kita dapat merasakannya. Menurut saya, zakat lebih sebagai “pelumas” bagi rezeki : memperlancar, mempercepat atau memperbesar aliran rezeki yang ada. Namun, apakah tidak berzakat lantas menutup pintu rezeki? Menurut saya tidak begitu. Seperti pelumas tadi, mungkin alirannya ya seret aja gitu tapi ga sampai ketutup sama sekali, karena toh rezeki sudah dibagi. Begitupun hubungan kesombongan dengan depresi yang menurut saya juga seperti “pelumas” namun dalam konotasi yang negatif : aliran emosi negatif seperti sedih dan tertekan menjadi “lebih lancar” masuk ke sanubari kita.

Apa itu Sombong? Apa itu Depresi?

Mari kita samakan persepsi dulu tentang apa itu sombong dan apa itu depresi, karena meskipun istilah ini umum, bisa jadi kita punya pemaknaan berbeda tergantung persepsi kita masing-masing.

Apa itu Sombong?

Som. bong

menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah:

Nemu ini juga di google : Sombong adalah suatu sikap mental yang memandang rendah orang lain dan memandang tinggi dan mulia diri sendiri. Saya pribadi merasa orang sombong punya 2 komponen : gagal melihat dari sudut pandang orang lain (tidak empati) + menggampangkan atau merendahkan orang lain/suatu kasus (merasa lebih&paling).

Mari kita ambil contoh:
Misalnya ada seorang teman (sebut saja Bob) lama ga ikut kongkow bareng (asumsikan di contoh ini covid ga ada). Si Bob baru memulai bisnis dan bisnisnya berkembang. Ada teman yang lain (sebut saja Jack) nyeletuk :”Wah lo udah jadi bos sukses, sombong nih ga mau nongkrong sama kita-kita.” Apakah si Bob sombong? Menurut saya tidak. Ketika menjalankan bisnis, apalagi sedang lepas landas wajar kalau prioritas berubah. Bisa jadi si Bob sibuk mengurus bisnisnya sehingga tidak ada waktu untuk kumpul-kumpul atau kongkow-kongkow. Ini masalah prioritas. Jika suatu ketika si Bob datang ikut kumpul2 yaa bisa jadi karena memang sempat dan ada dorongan untuk menjaga hubungan baik dengan teman-temannya, tapi ga bisa dong teman2nya tersebut memaksa Bob untuk selalu available dan kalau ga available dianggap sombong.

Begitu juga dengan messenger, whatsapp, telegram atau sejenisnya, hanya karena terlambat atau lupa me-reply bukan berarti sombong, bisa jadi ada prioritas lain yang harus dikerjakan. Namun menurut saya, balas saja biarpun terlambat dan jelaskan kenapa lama membalas supaya si pengirim lebih tenang dan ga berasumsi macam-macam.

Ketika kita “membanggakan diri” apakah termasuk sombong? Tergantung konteks. Apabila kita sedang dalam tahap interview kerjaan maka wajar kalau kita meng-highlight pencapaian dan strong points yang kita punya. Namun apabila kita menceritakan kelebihan kita tanpa ada yang nanya….yaaa baru deh itu bisa dianggap sombong.

Contoh lain cerita soal sombong yang cukup membekas di ingatan saya adalah cerita orang tua saya waktu haji puluhan tahun lampau:

Mama saya cerita, waktu itu jadwal mereka adalah untuk lempar jumrah. Karena rame, mama-papa mencar cari jalan masing-masing dan janjian ketemu di suatu titik setelah selesai lempar jumrah. Alhamdulillah, ibadah lempar jumrah mereka lancar, papa & mama bisa berdiri cukup dekat dengan tiangnya dan bisa melempar dengan mudah. Nah, karena lempar jumrah hari pertama lancar mereka berdua optimis untuk lempar jumrah besok pasti bisa lancar juga seperti hari pertama. Namun besoknya hanya papa saja yang berhasil sampai ke dekat tiang, mama? not even close. Kata mama saya, “Mungkin karena waktu itu mama ngerasa sombong…. Kan bisa tuh hari sebelumnya, jadinya mikir ‘ah, gitu doang (nyelip2 doang)’ bisalah…Eh, kali ini ga dikasih Allah jalannya, bener2 ga bisa nyelip sama sekali.” Sementara papa? Setelah keberhasilan di hari pertama apa tidak menimbulkan “kesombongan” di dalam hati seperti mama? Surprisingly, kalau pas aku dengar ceritanya, meskipun sama-sama optimis (bisa mendekat ke tiang jumrah) mindset papa tidak terasa sombong. Dalam cerita melempar jumrah versi papa (karena kan mereka mencar anyway) , yang papa lakukan adalah menyusun strategi untuk bisa nyelip. Kalau mama hari pertama nyelip ya sat-set-sat-set nyelip biasa, kalau papa pakai strategi : masukin satu kaki di depan, kalau udah bisa lolos dan ada celah langsung nyelip. Jadi kayak main pintu gerbang gitulah. Begitu terus sampai akhirnya sampai di dekat tiang jumrah. Hari kedua di saat mama ngerasa bisa karena hari sebelumnya lancar (jadi cenderung menggampangkan), fokus papa adalah “memvalidasi strategi pintu gerbang”. Jadi mindset-nya bukan “saya pasti bisa/pasti lancar” tapi “sepertinya saya punya cara yang patut dicoba, karena percobaan di hari sebelumnya berhasil”. See the difference?

Apa itu Depresi?

Mengutip Alodokter:

Depresi adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli. Semua orang pasti pernah merasa sedih atau murung. Seseorang dinyatakan mengalami depresi jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga.

Alodokter – Ditinjau oleh: dr. Merry Dame Cristy Pane

Sementara menurut KBBI:

n Psi gangguan jiwa pada seseorang yang ditandai dengan perasaan yang merosot (seperti muram, sedih, perasaan tertekan)

KBBI

Saya lebih suka pengertian versi KBBI karena pemilihan kata ‘merosot’ memberikan visualisasi bagaimana depresi itu terjadi. Namun penjelasan dari Alodokter saya pakai karena memang lebih komplit (pada alodokter kata merosot seperti diperhalus menjadi ‘mendalam’) disertai dengan rentang waktu kapan suatu “gangguan mood” bisa disebut depresi. Saya memilih menggunakan rentang waktu karena apabila terlalu singkat saya anggap saja moody-an, atau efek hormon, pms, dlsb. Depresi menurut saya melibatkan “proses perenungan” yang memakan waktu ; yang dalam “proses” tersebut kita merasa muram, sedih, tertekan, putus harapan & tidak berharga.

Sombong sebagai “Pelumas” Depresi

Saya ga menampik bahwa ada orang-orang yang diam-diam saya labeli “sombong”. Namun sombong, sebagaimana sifat-sifat manusia lainnya, bukanlah sesuatu yang mutlak hitam & putih. Kesombongan menurut saya juga punya spektrum abu-abu yang luas. Misalnya ada teman yang baik kepada saya, namun dengan mata kepala saya sendiri saya bisa melihat dia sombong ke orang lain. Buat yang lagi nonton drama yang sedang hits (karena bagus dan karena skandal lol) Hometown Cha Cha Cha pasti ingat adegan dimana Female Leader (FL) merasa dirinya levelnya terlalu tinggi dibanding Male Leader (ML). Mungkin saya bisa diposisikan sebagai Ms. Pyo (teman FL), yang tau bahwa FL bersikap baik ke Ms. Pyo namun sombong ke ML hanya karena FL merasa pekerjaannya lebih prestisius. Pekerjaan yang prestisius ini bisa diganti dengan kecantikan, kekayaan, kepintaran, dll. Kondisi dimana seseorang merasa “paling” + menganggap orang lain lebih “rendah” darinya.

Tentu saja saya agak berjarak dengan orang-orang yang saya labelin sombong ini -gak ikrib-ikrib banget lah- apalagi kalau bukan teman dekat. Perlu level kedekatan tertentu untuk “mengoreksi” bad trait orang lain. Bahkan untuk teman dekat pun menyampaikan ini harus sangat hati-hati, namun karena sudah dekat biasanya kita lebih bisa “meraba” situasi saat menyampaikan, itupun kalau dirasa perlu. Namun, kecepatan gosip yang berhembus dihempas angin utara membuat saya kadang “mendengar” kembali kabar orang-orang yang saya labeli sombong ini yang biasanya kurang baik, dan ya biasanya diiringi itu, depresi. Hati kecil saya mecelos “yah, habis sombong sih dia, tapi kasian juga sih…..”.

Dari sekian kenalan yang secara random saya jadikan “sample” untuk asumsi ini, ada satu orang yang saya cukup kenal sifat & tabiatnya dan orang itu adalah saya sendiri. Namun ketika saya berpikir lebih lanjut mengenai si orang ini, saya beri jeda sejenak. Ketika mengetahui dan mengkritik diri sendiri ada 2 hal yang bisa terjadi :

  1. kita bisa introspeksi dan menjadi lebih baik lagi ; dan/atau
  2. kita semakin menyalahkan diri, menjadi putus harapan dan tidak berharga.

Kedua hal ini bukan sesuatu yang bertolak belakang, namun kadarnya yang harus diperhatikan : kita harus memastikan dan mengusahakan bahwa kadar nomor satu lebih banyak daripada nomor dua. Wajar ketika kita menyadari bad trait yang kita punya (dalam hal ini menyadari bersikap sombong) kita jadi merasa sedih, namun jangan sampai berkepanjangan dan mengarah kepada depresi yang tidak sehat.

Ketika meng-kritik diri sendiri saya tidak menempatkan pikiran batin saya menjadi malaikat & setan seperti di kartun-kartun. Kalau pilihan yang muncul sekentara itu jahat-baiknya, maka pilihlah yang baik. Namun, biasanya ketika kita berkontemplasi dengan diri sendiri persoalannya adalah, manakah pilihan yang lebih baik dari pilihan yang lain? Pilihan-pilihan yang tersedia ini bisa jadi sama-sama buruk ( jadi kita memilih mana yang kita rasa less buruk), atau justru sama-sama baik, jadi kita memilih mana yang memberikan keuntungan lebih optimal. Kalau pilihannya baik & buruk, nah, that’s an easy choice.

Salah satu kesombongan yang bisa saya ceritakan di sini mungkin soal kerjaan. You know… I was Freelance Graphic Designer for years. Saya bekerja remote & online beberapa tahun lebih dahulu sebelum corona menyerang. Corona atau Covid-19 berhasil membuat pekerjaan yang sifatnya remote & online menjadi sebuah normal yang baru buat kebanyakan orang. Saat orang-orang panik dengan cara yang baru, saya merasa “lebih di depan” karena sudah terbiasa dengan keadaan remote & online ini. Di sini bibit-bibit sombong itu mulai muncul. Karena merasa seperti biasa, dalam hal pekerjaan saya tidak meng-adjust kondisi pekerjaan saya dengan situasi covid-19. Banyak orang di-PHK, banyak bisnis gulung tikar, service design banting harga habis-habisan-bahkan saya mendapatkan iklan di Instagram ada jasa desain & kelola sosial media yang rela dibayar seikhlasnya-. Saya? Rate saya tetap “mahal” seperti biasa, tanpa saya menyadari bahwa buying power (calon) klien saya menurun.

Dari cerita di atas 2 komponen manusia sombong sudah terpenuhi : Saya gagal (berempati) kepada calon klien saya yang buying power-nya menurun karena corona + saya merasa lebih unggul dari orang2 lain yang baru terjun ke remote working.

Seperti banyak bidang lain yang terdampak akibat corona, peta kompetisi creative service pun tak luput dari perubahan. Saya ngomongin creative service karena tentu saja ga punya kapasitas untuk ngomongin industri yang lain. Menyadari perubahan ini membuat saya malu dengan kesombongan saya yang saya sampaikan sebelumnya. Rasanya gak pantas buat sombong dan memang sebaiknya ga sombong. Covid membuat pekerja lepas kreatif “lebih agresif”. Bahkan pada kondisi lain, pemilik bisnis yang ga mempunyai uang lebih untuk membayar jasa desain mulai mencoba2 membuat desain sendiri, apalagi beragam tools & software yang memudahkan seperti template2 yang notabene lebih murah daripada hire freelace atau freeware gratis yang ciamik seperti canva juga makin menjamur. Sebenarnya, sikap saya yang ogah perang harga ga sepenuhnya salah, namunnn yang jadi masalah adalah menyadari dimana kesombongan tersebut terselip. Wallahualam.

Sebenarnya masih mau cerita lagi, tapi dipikir-pikir yang saya tulis ini mungkin sudah merangkum kira-kira apa yang ingin saya sampaikan, selebihnya tinggal variasi saja. Lagian ini juga rasanya udah panjang banget hehe. Yasudah sekian dulu lah ya.

Share on:

with love,

vriske rusniko | @vriskerusniko |vriske@windowslive.com

Thank you for all the readers! If you like the content and want to support, you can donate via Ko-fi (Global) or Trakteer (Indonesia)

Postingan sebelumnya

Tinggalkan komentar

Home
Journal
Design
Others
Search