Mengenal Diary Study

Pengertian & Manfaat Diary Study

Diary study adalah sebuah metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai perilaku pengguna, aktivitas, serta pengalaman seiring waktu. Partisipan diary study mencatat pada kurun waktu tertentu tentang hal-hal dan aktivitas spesifik yang sedang diteliti.

Diary study sangat berguna terutama untuk memahami perilaku user dalam jangka panjang. Karena proses diary study itu cukup lama, biasanya peneliti juga memberikan pengingat agar user tidak lupa mengisi “diary”-nya. Berikut adalah insight yang bisa didapatkan dari diary study:

  • Mengetahui kebiasaan / habit.
    Contoh : Kapan user menggunakan produk/aplikasi? Dalam kondisi seperti apa mereka share konten ke orang lain? Melalui aplikasi apa biasanya mereka share konten tersebut?
  • Usage Scenario (Skenario penggunaan)
    Seberapa tinggi penggunaan user terhadap produk? Apa tujuan utama mereka memakai produk? Bagaimana workflow ketika user harus mengerjakan task dengan tahapan yang lumayan panjang?
  • Mengetahui sikap & motivasi
    Apa motivasi pengguna ketika melakukan task tertentu? Apa yang mereka pikirkan & rasakan?
  • Mengubah perilaku & persepsi
    Seberapa mudah produk untuk dipelajari pengguna? Seberapa loyal pengguna seiring waktu? Bagaimana persepsi pengguna ketika berinteraksi dengan organisasi/perusahaan terkait?
  • Customer Journey
    Bagaimana pengalaman perjalanan pengguna ketika berinteraksi dengan organisasi/perusahaan terkait pada berbagai device dan channel, seperti email, telepon, website, aplikasi chat, sosial media dll. Untuk mengetahui elemen-elemen yang sering muncul pada Customer Journey bisa dilihat di postingan berikut agar lebih jelas.

Meskipun terlihat luas, diary study juga bisa dilakukan untuk mendalami kasus/aktivitas tertentu yang lebih spesifik. Misalnya hanya membahas bagaimana user berinteraksi dengan website tertentu, mengumpulkan informasi mengenai penggunaan smartphone, cara user menyelesaikan suatu task, dll.

Metodologi

Biasanya diary study akan terbagi dalam 5 fase:

  1. Perencanaan & Persiapan.
    Tentukan fokus yang ingin dicapai dan perilaku yang ingin dipahami. Tentukan timeline, siapkan alat dan fasilitas untuk partisipan menuliskan diary study-nya. Rekrut partisipan, dan siapkan instruksi yang jelas untuk partisipan.
  2. Tahap orientasi.
    Berikan waktu bagi partisipan agar siap untuk mulai menulis catatan harian. Jadwalkan waktu tatap muka apabila memungkinkan, bisa diganti dengan video call atau phone call untuk mendiskusikan detail-detail yang perlu disampaikan. Sampaikan penjelasan mengenai timeline dan apa yang diekspektiskan pada mereka. Diskusikan juga alat yang digunakan dan pastikan partisipan sudah familiar dengan teknologi untuk men-submit diary study mereka.
  3. Waktu pencatatan diary study.
    Untuk memudahkan partisipan, buatlah kerangka kerja sederhana. Pastikan tentang data-data yang harus diinput oleh partisipan dan berikan instruksi yang bisa dimengerti oleh partisipan. Agar lebih jelas, peneliti bisa memberikan contoh agar partisipan lebih kebayang apa yang perlu mereka kerjakan. Namun yang harus diperhatikan dalam memberikan contoh adalah agar partisipan tidak mencontoh mentah-mentah dari contoh yang diberikan yang dapat mengakibatkan hasilnya menjadi tidak natural.
  4. Post-study interview
    Setelah melakukan penelitian dan informasi telah diberikan partisipan, lakukan follow up untuk mendiskusikan detail-detail yang ada pada catatan partisipan. Gali lebih dalam, dan tanyakan juga feedback atau saran dari partisipan mengenai penelitian yang dilakukan.
  5. Analisis Data
    Periksa kembali pertanyaan yang kita berikan, lalu gali insight yang terdapat dalam catatan peserta. Evaluasi juga perilaku yang diharapkan selama riset. Apakah ada perilaku yang berubah? Apa yang menyebabkan perubahan tersebut?

Tips melaksanakan Diary Study

  • Rencanakan Diary Study dalam jangka waktu yang proporsional.
    Memang pada umumnya diary study dilakukan dalam kurun waktu yang cukup panjang untuk mendapatkan informasi yang diharapkan, namun jika terlalu panjang biasanya motivasi partisipan akan semakin rendah yang dapat mengakibatkan data menjadi kurang akurat.
  • Rekrut partisipan yang berdedikasi.
    Karena jangka waktu yang cukup panjang dalam diary study, maka dedikasi partisipan menjadi penting untuk memastikan data yang kita peroleh nantinya juga berkualitas. Sampaikan apa yang kita ekspektasikan kepada partisipan dan konfirmasi kembali bahwa mereka akan available selama proses riset.
  • Update dengan data.
    Jika partisipan mencatat diary study melalui platform digital, sebisa mungkin evaluasi secepatnya. Hal ini membuat kita dapat memberikan pertanyaan follow-up mengenai catatan yang diinput selagi masih fresh diingatan partisipan.
  • Pertimbangkan untuk melakukan pilot-study
    Masih karena jangka waktu diary study yang cukup lama, pilot study bisa dibilang sebagai masa uji coba terhadap diary study tersebut. Tujuannya adalah mengetes material, instruksi, briefing partisipan dan hal-hal yang bersifat teknis. Setelah memastikan semuanya oke, pilot study bisa dihentikan dan dilanjutkan dengan proses diary study yang sebenarnya.

Sumber : Nielsen Norman Group

Share on:

with love,

vriske rusniko | @vriskerusniko |vriske@windowslive.com

Thank you for all the readers! If you like the content and want to support, you can donate via Ko-fi (Global) or Trakteer (Indonesia)

Postingan selanjutnya

Tinggalkan komentar

Home
Journal
Design
Others
Search