Journal

Menangkis Isu “Mati Suri” Blog + 5 Alasan Nge-Blog


Suatu hari ketika sedang scrolling Instagram, saya menemukan suatu postingan yang “menggelitik” untuk dikomentari perihal eksistensi blog sebagai media sosial yang dianggap hidup segan mati tak mau alias “mati suri”. Menurut caption yang tertera, admin belakangan lagi sering baca medium.com dan melihat masih banyak orang yang sharing cara bikin blog. Berikut kutipan lanjutannya :

Jadi penasaran, apa emang masih efektif ya bikin blog gitu sampe masih banyak dibahas? Gemes aja gak sih liatnya kayak hidup segan mati gak mau. Apa cuma efektifnya di niche tertentu aja? What do you think?

Ikut Berkomentar

Sebagai orang yang masih nge-blog biarpun tidak rutin, bagi saya blog tetap mempunyai kharismanya sendiri. Saya merasakan banyak manfaat, baik itu menulis blog, ataupun membaca blog. Sama seperti sosial media lainnya, ujung-ujungnya yang bikin kita betah adalah manfaat & rasa nyaman dari penggunaan media tersebut. Karena masih merasakan manfaat yang nyata dari platform blog, saya ikut berkomentar untuk menunjukkan pandangan saya betapa masih bermanfaatnya aktivitas blogging. Saking bersemangatnya, untuk menepis isu mati suri sebuah blog ini komentar saya panjang sekali sampai-sampai disindir oleh admin “Bused! Dia nulis blog di kolom komentar.” Sungguh respon yang mematikan semangat diskusi alias bikin ilfeel, karena berfokus kepada panjangnya komentar saya daripada isi yang coba saya kemukakan.

Namun, berkaca dari itu, perlu dipertimbangkan juga bahwa yang berpikir seperti itu mungkin tidak admin saja. Ngapain repot-repot bikin blog kalau orang sekarang into social media? Hmm….

Mengapa kita sebaiknya nge-blog?

1. Blog memberi indexing yang lebih baik di mesin pencari

Ketika kita mencari suatu informasi, mana hasil pencarian yang lebih cepat dan reliable? Apakah lebih cepat mencari lewat mesin pencari seperti Google, atau mencari melalui hashtag di sosial media mainstream?
Saya pikir jawabannya sudah cukup jelas, bahkan untuk mencari sesuatu yang ada dalam platform twitter/instagram kadang kita mencarinya lewat Google terlebih dahulu.

Contohnya begini: Saya ingin mencari informasi yang sedang viral terkait akun X. Akun X ini belum verified, sementara akun palsunya banyak sekali. Biasanya saya akan cek google dulu untuk mencari tau akun yang sebenarnya yang mana sih? Hal ini bertujuan untuk kepo untuk mendapatkan informasi tangan pertama atau first hand dari akun tersebut. Karena kita tahu, ibarat pesan berantai, kadang apa yang disampaikan bisa jadi di tengah jalan informasinya sudah berubah.

Contoh lain yang lebih jelas : ketika mencari informasi tentang suatu topik misalnya materi terkait perkuliahan. Kamu akan buka Google atau buka sosmed? Mungkin untuk tema yang kamu cari bukan berarti ga ada di sosial media, tapi seringkali yang muncul di hasil pencarian Google adalah konten yang dianggap “paling sesuai” dengan informasi yang kamu harapkan. Bisa jadi dari website tertentu atau blog seseorang yang membahas hal itu. Jarang hasilnya berupa link postingan Instagram.

Seberapa sering ketika kita mencari informasi di Google menemukan referensi dari instagram atau twitter (apalagi untuk suatu konten yang berbobot)? Saya pribadi jarang sekali mendapatkannya kecuali kalau secara sadar konten yang saya cari memang berasal dari instagram/twitter tersebut (misalnya orang-orang membahas trending twitter tertentu, tentu saja saya akan klik dari web twitter). Instagram lebih parah lagi, kadang antara foto dan caption suka ga nyambung, hashtag juga suka sembarangan.

2. Blog lebih memberikan persepsi yang utuh

Meskipun ini kembali lagi kepada gaya masing-masing blogger, namun ketika disebutkan sebagai “blog”, kita dapat berasumsi bahwa tulisan yang disediakan lebih banyak dan lebih mumpuni dalam penyampaiannya dibandingkan sekadar status Facebook, sebuah twit, atau caption Instagram.

Menulis blog jelas membutuhkan effort alias usaha yang lebih banyak daripada menulis status. Ketika menulis blog, kita “dituntut” untuk mengolah tulisan dengan kerangka pikiran yang runut dan sebisa mungkin tidak lari dari topik yang sedang dibahas. Berbeda dengan nulis di twitter, ketika membahas sesuatu dan menjadikannya sebagai thread, kita bisa saja ditengah-tengah malah berujar “eh lanjut nanti ya, mau makan dulu”. Betapa anehnya kalau hal itu “terselip” di tengah-tengah postingan blog….

Menulis panjang di caption Instagram juga kerap dilakukan orang-orang. Namun dengan keterbatasan karakter, sering kali pemikiran tersebut “dipaksa nyambung” ke kolom komentar. Meskipun sah-sah saja, kadang bagi saya cukup disayangkan karena seringnya tulisan tersebut cenderung dinikmati sekali saja saat postingan itu diterbitkan. Ketika ingin mengakses kembali tulisan tersebut kita sudah lupa tulisan itu “nyangkut” di foto yang mana, belum lagi kalau antara foto dan caption “tidak nyambung”.

Perkara mana yang lebih menarik, saya pikir itu kembali ke masing-masing orang. Yang jelas dengan belajar menulis yang runut & baik, kita tidak hanya sekadang sharing informasi yang mudah-mudahan bermanfaat bagi orang lain, tapi juga melatih otak kita untuk bekerja lebih baik. Beberapa blogger juga mengaku menulis di blog sebagai terapi : baik itu untuk pelan-pelan menyortir pikiran yang kusut, atau sebagai medium berekspresi.

3. Algoritma yang lebih stabil

Mulai dari tampilan, isi dari blog kita, serta “pengalaman” apa yang kita suguhkan kepada pengunjung blog, kita sendiri yang menentukan. Ketika pengunjung mampir ke website/blog kita, kita bisa saja “membombardir” pengunjung kita dengan iklan dari berbagai penjuru seperti Tribu* Ne*s, namun sebaliknya, kita juga bisa memposisikan iklan di tempat-tempat tertentu sehingga pengunjung website/blog kita tetap nyaman berselancar di website/blog kita. Sementara itu jika kita lihat di Instagram, kita tidak bisa mengatur seberapa sering ketika kita nge-scroll gambar, muncul sponsored ads.

Tahukah kamu kalau belakangan ini algoritma Instagram berubah berdasarkan urutan berikut: Interest, Timeline+Activity, Recognition (gak tau deh udah berubah lagi apa gimana).
Dengan algoritma yang terus berubah-ubah kadang saya suka mikir: ngapain saya follow banyak orang kalau yang muncul di timeline saya itu-itu saja (orang-orang yang dianggap relevan menurut algoritma Instagram)+ dicampur iklan. Berbeda dengan dulu ketika algoritma Instagram lebih jelas, berdasarkan timeline postingan, sehingga tampilan yang ada di feed terasa lebih inklusif. Toh kalau ada orang-orang yang postingannya tidak ingin kita lewatkan, kita bisa mengaktifkan fitur notifikasi bukan?

Dengan adanya perubahan algoritma dari timeline based jadi whatever-based jelas bikin kelimpungan orang-orang yang mengais rezeki dari Instagram. Percuma dong kalau rajin ngepos tapi postingannya gak nongol di timeline orang?

Hal inilah yang sempat dibahas Gary Vee dalam salah satu postingan Instagram yang kira-kira isi videonya seperti ini : “Jika kamu ingin “melawan” algoritma Instagram, berikan follower-mu banyak konten. Kuantitas di atas Kualitas. Quantity over Quality. Karena machine learning Instagram tidak bisa menilai konten mana yang berkualitas dan yang tidak kecuali setelah ada engagement, dan balik lagi bagaimana kita mengetahui konten mana yang akan ditampilkan Instagram kepada user A atau user B sebelum engagement itu terjadi? Berikan konten yang banyak dan terus-menerus ke followermu sambil secara bertahap meningkatkan kualitas kontenmu.”

4. Lebih bebas dalam menambah/mengurangi/ mengatur fitur

Ketika kita punya website sendiri (misalnya wordpress berbayar), kita mendapat kemudahan untuk meng-install berbagai plugin yang berguna untuk mengatur pengalaman pengunjung yang mampir. Berbeda dengan sosial media kebanyakan, dimana kita harus menunggu sampai muncul fitur terbaru. Bahkan meskipun terkadang kita tidak merasa sreg dengan fitur baru tersebut, fitur tersebut tidak bisa kita hilangkan (hanya bisa diabaikan). Jadi intinya : Pasrah saja lah.

Namun, di blog/web kita, kita bisa mengatur, menambah, mengurangi fitur yang kita rasa perlu/tidak perlu. Misalnya di blog saya ini, saya mempunyai form di bagian footnote (bagian paling bawah blog ini) yang bisa digunakan untuk mengontak saya tanpa harus membuka dulu gmail atau platform email yang kita gunakan. Tentu saja form itu bisa saya hilangkan jika saya mau.

5. Penghasilan Tambahan

Hal lain yang menyenangkan dari blog adalah potensinya sebagai sumber penghasilan. Tentu saja ada yang menjadikan blog sebagai sumber penghasilan utama, ada juga yang hanya sebagai penghasilan tambahan. Menariknya, dia bisa berwujud passive income, alias penghasilan yang terus ngucur biarpun kita sedang tidur.

Instagram atau Twitter juga bisa dijadikan sumber penghasilan. Kerennya dibilang ‘Selebgram’, ‘Key Opinion Leader (KOL)’, atau ‘Buzzer’. Tapi menurut saya itu bukan passive income. Selebgram misalnya, dia dibayar untuk memposting suatu produk. Berarti dalam membuat foto/konten tersebut dia harus secara aktif menyiapkan sesi fotografi, outfit, caption dlsb yang sesuai dengan permintaan klien, diposting, and done. Udah dipost, udah deh terima bayaran. Tapi menjelang dapat titel sebagai selebgram atau buzzer tersebut dia harus membangun “brand image” yang diharapkan terlebih dahulu untuk menggaet sponsor dan kadang untuk membangun brand image ini modalnya bisa besar. Antusias follower pun akan lebih besar saat postingan itu masih “fresh” alias baru diposting. Makin lama ditinggal, postingan itu akan makin ditinggalkan bahkan dilupakan.

Sebaliknya dengan blog, saat dia baru terbit, bisa jadi justru peminatnya sedikit (apalagi kalau penulisnya tipe yang tidak gencar mempromosikan postingan terbarunya). Namun, semakin kebelakang apabila blog tersebut sudah terindeks Google dan yang mampir ke blog tersebut semakin banyak, otomatis nilai dari blog tersebut terus meningkat. Dan blog yang ramai adalah sumber pundi-pundi penerimaan adsense! (Tentu saja blog tersebut harus didaftarkan dan diterima dulu oleh Google Adsense ya). Jadi gak perlu terkenal buat dapat penghasilan dari blog, yang terutamanya diperlukan adalah konten yang baik 🙂 .

Dengan adanya faktor adsense sebagai sumber penghasilan blog, tentu saja blog akan tetap terlihat seksih~


Begitulah kira-kira alasan kenapa sebaiknya kita ngeblog, dan mengapa blog masih banyak peminatnya. Tentu saja masih ada alasan lainnya yang luput dari ingatan saya. Jika ada hal-hal lain yang bisa ditambahkan, silakan ditulis di kolom komentar yaa 😀

Share on:

with love,

vriske rusniko | @vriskerusniko |vriske@windowslive.com

Thank you for all the readers! If you like the content and want to support, you can donate via Ko-fi (Global) or Trakteer (Indonesia)

Postingan sebelumnya

9 pemikiran pada “Menangkis Isu “Mati Suri” Blog + 5 Alasan Nge-Blog”

  1. Berapa hari ini saya juga lagi questionng my self…ngapain ngeblog ya.

    Membaca tulisan mbak VR ini, sedikit banyak memberi inspirasi, kenapa ngeblog.

    Thanks mbak.

    Balas
  2. Blog masih tetap juara sih sebenarnya. Apalagi kita gak perlu punya akun khusus jika sekedar ingin membaca postingannya.

    Sementara Sosmed, biasanya diharapkan punya akun lebih dulu supaya bisa mengakses milik orang lain. Hihihi..

    Pun kalo bisa, kadang seribg dibatasi, misalnya Instagram via web. Scroll ke beberapa foto sedikit udah dikirim reminder buat bikin akun. .

    Ada sih Blog yang bisa begitu, tapi umumnya Blog lebih mudah diakses dalam hal mendapatkan informasi.

    Balas
  3. Aku setuju 1000% persen sama Mbak. Awalnya cuma mikir dikit kelebihan blog, eh ditambahin Mbak jadi banyak. Apalagi soal postingan “medsos” yang sudah ditinggalkan, sedangkan “blog” akan tetap hidup “selamanya” . Justru aku nyesel kenapa baru
    aktif ngeblog sekarang huhu

    Balas
  4. Aku setuju banget, Mbak, dari jaman masih sekolah dulu sampai sudah jadi ibu-ibu, setiap kali search di google aku lebih suka klik situs blog daripada media sosial. Menurutku apa yang dishare di blog lebih natural dan lebih terpercaya daripada yang di media sosial. Dan entah mengapa setiap kali membaca blog seolah-olah sedang mendengar langsung cerita dari empunya blog, seolah-olah mengenal sifat dan karakteristik pribadinya, dan itu yang membuat aku masih betah baca blog sampai sekarang. Ngomong-ngomong belakangan ini aku juga ketularan untuk nulis blog. Bahkan sekarang aku lebih nyaman menulis di blog daripada di media sosial.

    Balas
  5. lama punya blog tapi nggak pernah posting karena mikirin mau fokus di topik apa, padahal aku ingin ini ingin itu banyak sekali~
    sekarang saya sudah tercerahkan 😉

    Balas
  6. Mbak vriske, mimin SGPC sependapat dengan tulisan ini, dan permasalahan sejenis ini mimin sempat bahas di blog mimin sendiri.

    Yang minSGPC tahu, kendala orang membuka blog kebanyakan adalah tren. Ada yang bilang era sekarang itu vlogging, video blogging, karena adsense menggiurkan. Tapi, minSGPC lihat, kebanyakan ya maksa….. karena secara esensi lebih enak dalam bentuk bacaan, bukan dalam bentuk video. Ada juga yang lebih enak pakai medsos karena ya karena praktis pakainya yah….. kuotanya gratis.

    Kalau enggak tren, ya biasanya kebentur duit. Blog yang kreatif, kaga viral dan nemuin celah niche biasanya pemasukannya seret, dan juga biaya hosting tinggi. Belum lagi kompetisi SEO dan indexing dari portal berita yang, maaf, mau enaknya sendiri. Mimin sendiri merasakan seperti itu, untungnya kadang diundang sama teman-teman dari kalangan arsitek buat membantu menyelesaikan penelitian mereka.

    Sebenarnya, cost bikin blog itu lebih murah daripada bikin vlog!

    Cheers!

    Balas

Tinggalkan komentar

Home
Journal
Design
Others
Search