Estimated reading time: 0 minutes


Movie & Series

Inventing Anna : Dangerously Remarkable Woman

Inventing Anna : kisah crazy rich Jerman palsu yang berhasil menipu orang-orang penting dan sosialita New York.


Setelah Tinder Swindler, kini Netflix menyuguhkan kita dengan kasus penipuan lain yang juga berdasarkan kisah nyata : Anna ‘Delvey’ Sorokin. Berbeda dengan Tinder Swindler yang berformat dokumenter, Inventing Anna dikemas dalam bentuk drama seri dengan tokoh yang diganti namanya serta beberapa bagian yang dilebih-lebihkan atau bahkan tidak ada dalam kejadian sebenarnya.

Dengan larisnya acara-acara bertema penipu berbalut harta di Netflix, apakah akan menarik minat Indosiar untuk membuat versinya tentang Indra Kenz atau penipu-penipu binary option yang sedang marak di Indonesia? Hmm…..


Sinopsis / Spoiler Inventing Anna

Anna -dikisahkan sebagai ahli waris konglomerat Jerman- yang saat ini tinggal di New York, merupakan sosok yang tidak asing dalam pergaulan sosialita New York. Selera Anna terhadap fashion sangat tinggi sehingga membuat seorang fashion designer bernama Val yakin bahwa Anna Delvey adalah dari kalangan elit. Val mengklaim bahwa dia tahu bagaimana bangsawan bertindak, berpakaian, dan bersikap sampai ke detail-detailnya. Sayangnya tidak dikisahkan (bahkan sampai episode terakhir) bagaimana Anna bisa “naik level” sampai bisa bergaul dengan kalangan sosialita New York.

Cerita berlanjut di fase dimana Anna, Val dan Chase (pacar Anna) tinggal bersama di rumah kediaman wanita elit bernama Nora Radford. Nora adalah seorang sosialita yang memiliki network luar biasa, dan biasa nongkrong dengan high calibre women di New York. Saya merasa sikap Nora yang membiarkan “orang asing” menumpang di rumahnya itu agak aneh ya… Tapi entahlah, mungkin karena dia kaya dan gak suka tinggal sendiri maka membiarkan orang-orang ini “menumpang” di rumahnya. Meskipun dalam kasus Val, ada mutualisme dimana Val juga bertindak sebagai personal stylist untuk Nora. Sementara asumsi saya ketika Nora membiarkan Chase & Anna tinggal di rumahnya adalah selain karena Nora suka rumahnya ramai, Nora juga bertindak sebagai mentor dari Startup yang sedang dibangun Chase : Wake. Yang tidak jelas bagi saya adalah bagaimana Anna bisa bertemu Chase? Apakah Val yang mengenalkan Chase pada Anna? Atau seperti yang secara “implisit” ditampilkan oleh film ini dimana Anna tampak mengadiri Ted Talks yang dibawakan Chase? Saya lumayan paham kalau Anna keluyuran di berbagai fashion event lalu bertemu Val, tapi…. Anna & TedTalks? Hmm, weird. Tapi yaaaa mungkin saja Anna keidean buat menarik hati para founder startup yang baru mendapat pendanaan. Mungkin yah, di film sih ga diceritakan, ini sotoy saya aja.

Kembali ke Nora, Nora dikisahkan tidak terlalu menyukai Anna dan seperti tidak peduli dengan status Anna sebagai “German Heiress” dan hanya menganggap Anna sebagai pacar Chase semata. Hal ini terlihat dari bagaimana Nora memperlakukan Anna seperti meminta Anna untuk melakukan hal-hal remeh seperti membeli makanan, sarapan, kebutuhan Chase dan melarang Anna untuk ikut ke event-event sosialita.

Namun, Anna berhasil memutarbalikkan keadaan sehingga Nora mendukung Anna dalam pembentukan Anna Delvey Foundation (ADF) dan mengajak Anna ke sebuah event sosialita. Berbeda dengan yang ditampilkan Netflix, konon dalam kenyataannya ide tentang ADF muncul ketika Anna sudah putus dengan Chase. Lagi-lagi kesotoyan saya mengatakan bahwa, meskipun ADF muncul ketika Anna sudah putus dari Chase, sepertinya selama tinggal bersama Nora, Anna berhasil menjalin relasi dengan koneksi-koneksi yang dimiliki Nora.

Selanjutnya ada karakter Alan Reed, bankir kelas kakap yang selalu mendapatkan fasilitas kelas satu. Setelah (sejujurnya) saya agak malas dengan episode-episode awal dimana karakter Anna terlihat sebagai sosok yang “beruntung” yang hadir di waktu dan momen yang tepat, sleeping around with startup founder, good fashion taste because people DO judge you from your cover, episode Alan Reed berhasil memberikan ketertarikan tersendiri buat saya. Hal yang saya sadari adalah bahwa Anna, di umurnya yang masih 20an, tahu bahwa Alan Reed adalah yang terbaik untuk bisnisnya. Dia menginginkan Alan Reed untuk masuk ke timnya. Dan untuk mewujudkan keinginannya dia memperolehnya bukan dengan jalan “jual badan”. Anna punya visi, dan dia mengerjakan semua pekerjaan rumah : Proposoal Bisnis, KPI, Operating Profit Margin, market research dan metriks-metriks lainnya yang diminta Alan Reed untuk proyek ADF-nya. Anna sanggup menyediakan semua itu (terlepas dari dia atau timnya yang mengerjakan) dan Alan Reed tampak puas dengan proposal bisnis yang diajukan Anna. Dari sini kita bisa melihat bahwa Anna punya bakat bisnis: visi yang jelas, jago melihat peluang, dan cakap dalam memilih tim.

ADF to the moon

Anna berhasil mendapatkan dream team-nya dan persiapan ADF-nya pun terbilang lancar meskipun terkendala dengan audit kekayaan Anna yang sebenarnya tidak ada itu. Selanjutnya, sebagian besar sisa seri ini berfokus dengan drama antara Anna dan temannya, Rachel.

Rachel, baik di Netflix maupun di dunia nyata, berhasil mengomersialkan cerita “liburan tragis”-nya bersama Anna di Maroko dalam artikel Vanity Fair dan buku yang dia tulis berjudul “My Friend Anna”. Dan Rachel asli tidak senang dengan bagaimana sosok dirinya ditampilkan dalam Inventing Anna.

Kembali ke kesotoyan saya, saya pikir penggambaran sosok Rachel di serial ini cukup masuk akal dan kekesalan Rachel asli cukup bisa dipahami apalagi jika dia tersinggung karena “tersentil” dengan karakter Rachel di Netflix. Menurut Neff, Rachel sendiri memang terlihat seperti sedang “pansos” (panjat sosial) saat bersama Anna. Bagi Rachel, Anna adalah orang sibuk, kaya raya dan penting dan Rachel bangga menjadi teman di level emosional bagi sang pewaris tahta Jerman. Dan yang terutama, Rachel selalu ditraktir Anna dengan berbagai kemewahan sampai akhirnya Rachel harus “membayar” semua itu dengan tagihan ultramahal dari resort mewah di Maroko.

Setelah kasus liburan di Maroko dan drama Rachel, kita akan melihat Anna berangsur-angsur mendapatkan karma dari perbuatannya. Beekman Hotel, tempat Anna menginap setelah pulang dari Maroko, memutuskan untuk mengunci kamar Anna dan menyita barang-barang Anna sebagai jaminan pembayaran. Selain itu jaringan hotel sudah mem-broadcast fotonya sebagai tersangka penipuan sehingga tidak ada hotel yang mau menerimanya. Anna pun harus menggelandang sambil berusaha untuk mencari tumpangan penginapan di apartemen teman-temannya.

Akhirnya Anna pun dipenjara atas laporan dari W Hotel, yang kemudian menyusul tuntutan-tuntutan lainnya yang nominalnya gak kaleng-kaleng. Adegan-adegan persidangan, tuntutan jaksa hukum, pembelaan pengacara, kesaksian korban sampai drama fashion show persidangan menjadi hidangan akhir series ini.


Kapabilitas Anna: Scheming & Unsparing

Ada beberapa hal dari Anna yang menarik perhatian saya, salah satunya sudah saya sebut di atas tentang kegigihannya saat menginginkan Alan Reed masuk ke dream team-nya. Namun, ada hal lain yang saya pikir menarik untuk didiskusikan, seperti bagaimana Anna memperlakukan pekerja kerah biru ketika menginap di 12 George (yang merupakan plesetan dari Hotel 11 Howard dalam cerita aslinya) . Anna memberikan banyak tip kepada para bellboy dan para pekerja hotel yang membantunya, namun -seperti yang dikeluhkan beberapa pegawai hotel- dia juga merupakan tamu yang annoying dan banyak permintaan. Mengapa Anna begitu royal pada para pegawai saya rasa (lagi-lagi kesotoyan saya) ada hubungannya dengan masa lalu Anna yang sulit: Anna paham bahwa tidak seperti para bankir yang hidupnya bakal baik-baik saja meskipun rugi jutaan dollar, para kerah biru akan sangat terbantu dengan tip-tip yang diberikan kepada mereka. Seperti yang dikatakan Anna yang kemudian dikutip Rachel dalam tulisannya di Vanity Fair, “People have families to feed. That’s no joke.” Lalu kenapa dia meminta ini-itu dan “merepotkan” orang lain? Karena dia adalah orang yang ingin selalu memaksimalkan keadaan, maximizing every moment.

Menjadi sangat royal juga memungkinkan Anna mendapatkan “asisten” yang sangat loyal. Seperti Neff. Yang dalam hal ini Anna sangat beruntung karena Neff memiliki kecakapan dan informasi yang berguna untuk Anna.

“Anna looked at the soul of New York and recognized that if you distract people with shiny objects, with large wads of cash, with the indicia of wealth, if you show them the money, they will be virtually unable to see anything else. And the thing was: It was so easy.

Jessica Pressler, New York Magazine “Maybe She Had So Much Money She Just Lost Track of It”

Kelebihan Anna selanjutnya, saya rasa kita bisa berasumsi bahwa Anna memiliki photographic memory, atau kemampuan mengingat yang bagus dan detail. Hal ini paling kelihatan ketika Chase menunjukkan artikel di iPad tentang siapa dan apa yang harus diingat Anna sebelum wawancara, juga ketika Anna diam-diam memperhatikan teman-teman sosialita Nora. Cara dia bersikap, kapan harus tenang, kapan harus cuek, kapan harus marah, kapan harus tegas, kapan harus merengek dan kapan harus menangis terartikulasi baik sesuai dengan kondisi yang sedang dia hadapi. Sikap pantang diremehkan ini bisa jadi ter-influence saat momen Anna kecil diajak ayahnya makan di restoran dan ayahnya memesan wine mahal. People can’t look down at you when you can afford luxury.


Menyusuri Jejak Kekayaan Anna

Satu hal yang paling tidak jelas dalam series ini adalah aliran dana Anna Delvey, yang mana sebenarnya aspek ini lah yang paling membuat penasaran bagi saya. Untungnya rasa penasaran ini lumayan terjawab dengan membaca artikel asli yang ditulis Rachel (Vanity Fair) dan Pressler (New York Magz).

Rekomendasi Artikel

“As an Added Bonus, She Paid for Everything”: My Bright-Lights Misadventure with A Magician of Manhattan” – Rachel Deloache Williams

Jelas dalam cerita bahwa Anna bukanlah keturunan ningrat. Keluarganya terpaksa pindah dari Rusia ke suatu kota kecil di Jerman bernama Eschweiler. Ayahnya adalah seorang supir truk yang kemudian membuka bisnisnya sendiri di bidang efisiensi energi. Keluarganya jelas bukan konglomerat namun juga bukan keluarga miskin. Meskipun demikian keluarganya “memutus hubungan” dengan Anna karena tidak ingin dilibatkan dengan hutang Anna yang jumlahnya mungkin tidak sanggup mereka bayangkan apalagi mereka lunasi. Balik ke masa kecil Anna, keluarganya selalu mensupport keinginan dan pendidikan Anna. Anna pindah ke London untuk melanjutkan pendidikan di Saint Martins College, drop out, kembali ke Berlin, dan magang di bidang fashion sampai akhirnya mendapatkan kesempatan magang di Purple Magazine dan mengaku sebagai Anna Delvey. Kehidupan Anna sehari-hari seperti akomodasi dan lain-lain masih disupport oleh keluarga dan keluarganya yakin dengan kesungguhan Anna di dunia fashion sehingga biaya-biaya tersebut (seperti yang diyakinkan oleh Anna kepada keluarganya) adalah sebuah best investment.

Anna mampu membuat dirinya menjadi orang yang disukai targetnya, termasuk diantaranya adalah Olivier Zahm, editor-in-chief Purple Magazine. Sepertinya Anna memulai hidupnya sebagai con artist alias penipu sejak magang di Purple, -dan orang-orang mempercayai bahwa dia anak konglomerat- dan Anna akhirnya mendapatkan respek dari orang-orang meskipun statusnya hanya “anak magang”. Anna selalu hadir di pesta dan acara-acara penting. Mudah diduga bahwa she’s good at work yang berarti dia dipercaya untuk berbagai proyek dan bertemu tokoh penting. Namun sepertinya Anna tidak tertarik menapaki karir sebagai budak korporat.

Dalam artikel Rachel, disebutkan bahwa Anna pernah meminjam uang dari seseorang berkebangsaan Jerman -yang masih kenalan Rachel- yang mengenal Anna dari sejak Anna masih tinggal di Paris dan percaya bahwa Anna akan mengembalikan uangnya, karena toh, Anna adalah anak dari keluarga kaya pengusaha minyak yang mana ayahnya “menjual” minyak dari Russia ke Jerman. Namun, Anna tidak kunjung mengembalikan uang yang dipinjamnya sampai pada akhirnya si orang Jerman tersebut geram dan mengancam akan melaporkan Anna ke pihak berwajib.

Bergaul dengan para sosialita dan orang-orang kaya membuat Anna menyadari bahwa orang-orang kaya ini terkadang “tidak sadar” akan pengeluarannya (seperti misalnya Nora yang baru sadar “dirampok” ketika menerima laporan kartu kredit dan melakukan audit keuangan). Sepertinya Anna mengeluarkan strategi dimana dia berhutang dulu ke teman-teman elitnya, menganggap itu hal receh dan berjanji akan melunasinya, pura-pura lupa dan terakhir lupa beneran. Orang-orang kaya juga sepertinya terlalu malas untuk menagih hutang-hutang seperti ini karena kesibukan dan karena uang mereka juga sudah banyak. Mungkin bagi mereka hutang Anna terlihat “kecil” dan menagihnya adalah hal merepotkan. Namun sekecil-kecilnya hutang kalau memang itikad ga mau bayar dan sifat “menggampangkan” terendus, tentu saja membuat orang malas bergaul ke tingkat yang lebih personal. Mungkin ini yang pada akhirnya membuat Anna tidak punya teman.

Sampai akhirnya dia “dipelihara” oleh Chase, kehidupan dan tempat tinggal Anna pra-Chase masih merupakan misteri.

Pasca putus dari Chase, tentu saja Anna harus mencari sumber dana lain untuk menafkahi kehidupan glamornya. Cara licik pun dilakukan seperti misalnya melakukan pemalsuan dokumen. Anna terbukti melakukan pemalsuan dokumen dari bank internasional yang menunjukan total saldo sekitar €60 juta. Dokumen-dokumen ini dibawa ke City National Bank untuk mendapatkan pinjaman sebesar $22juta sebagai modal ADF. Pengajuan pinjaman ini ditolak dan dokumen (palsu) tersebut dibawa Anna ke Fortress Investment Group. Fortress menyanggupi untuk memberikan pinjaman jika Anna bersedia membayar $100,000 untuk biaya uji tuntas. Uang $100,000 ini didapatkan Anna dari pinjaman overdraft akun City National Bank miliknya.

Fortress sudah menggunakan uang ini sebesar $45,000 dan berniat untuk melakukan langkah akhir uji tuntas dengan memvalidasi langsung aset Anna di Jerman. Anna pun membatalkan kesepakatan dengan Fortress, menarik sisa uang $55,000 dan menggunakannya sebagai “amunisi akhir” kehidupan glamornya. Uang inilah yang digunakan Anna untuk membayar hotel, personal training, dan shopping.

Setelah uang dari Fortress habis, selanjutnya yang dilakukan Anna adalah mencairkan cek panas dari berbagai bank untuk mendapatkan cash. Cash inilah yang selanjutnya digunakan Anna untuk membeli tiket pesawat ke LA beserta akomodasinya di Chateu Marmont untuk selanjutnya melancarkan taktik “rehabilitasi”-nya di Malibu. Namun sayang strateginya tidak berhasil karena pada akhirnya Anna ditangkap polisi dan “dipulangkan” ke New York.

Kembali ke episode awal, dimana Vivian Kent menjanjikan Anna ketenaran, sepertinya sekarang strategi Anna adalah menggunakan ketenaran untuk mendapatkan uang. Sekarang eranya Attention Economy, dan Anna berhasil menarik perhatian kita. Dengan ceritanya beredar dimana-mana bisa jadi memang ada orang-orang yang tertarik berbisnis bahkan mengagumi Anna. Bedanya, kali ini dia tidak perlu memakai nama Anna Delvey, dan tidak perlu memalsukan identitas sebagai anak crazy rich Jerman. Seperti Awkarin yang berhasil riding the wave setelah video nangisnya saat putus dengan Gaga viral, bisa jadi Anna pun akan memanfaatkan ketenaran dari drama kehidupannya ini untuk mengisi kembali pundi-pundi hartanya. Anna adalah sosok yang pintar, namun kita harus berhati-hati saat berhadapan dengan orang seperti Anna.


Inventing Anna : From Fashion to Prison

Menjadi hal menarik bagi saya dimana Shonda Rhimes memilih artikel Jessica Pressler sebagai acuan utama serial Inventing Anna dibandingkan artikel tangan pertama -bahkan buku- dari sudut pandang Rachel Williams.

Rekomendasi Artikel

“Maybe She Had So Much Money She Just Lost Track of It” – Jessica Pressler

Alasan yang utama adalah : untuk urusan hak siar Rachel sudah menjual cerita versinya ke HBO. Namun bagi saya pribadi, artikel Pressler memang terasa lebih berimbang daripada artikel Rachel yang cenderung jual derita. Sebagai sesama pansos, Rachel berhasil memutarbalikkan hutang menjadi peluang dan menjual cerita dan deritanya (yang menurut series) dijual ke tiga pihak berbeda dan menghasilkan pundi-pundi yang tidak sedikit sekaligus menyelamatkan karirnya di Vanity Fair.

Hal menarik lainnya adalah bagaimana Inventing Anna menunjukkan kepada kita dunia fashion Anna yang glamor & sophisticated yang disesuaikan sedemikian rupa dengan “persepsi” penonton. Kalau membaca artikel tentang Anna, diceritakan bahwa Anna justru adalah tipe yang doyan belanja Supreme -merek hits dengan desain yang cenderung kasual. Dalam kisah nyatanya, ketika diusir dari Beekman dan W Hotel, Anna “menggelandang” dengan mengenakan baju olahraga Alexander Wang sportsware, bukan dengan gaun dan coat yang terlihat – dan memang – mahal. Masih bermerek, tapi di mata orang yang awam fashion mungkin penampilan asli Anna itu akan dianggap tidak fashionable. Gak Anna Delvey banget lah (bagi penonton).

Sebenarnya hal ini kerap dilakukan untuk menyesuaikan dengan target market acara. Seperti misalnya tokoh Captain Ri di drama Korea ‘Crash Landing on You’. Ketampanan Captain Ri dikisahkan “digilai” oleh seantero desa + Seo Dan, teman masa kecil Captain Ri, anak taipan Korea Utara. Padahal menurut yang saya baca (atau saya tonton di Youtube? Lupa 😅), sosok seperti Hyun Bin tidaklah dianggap ganteng di Korea Utara. Perempuan-perempuan Korut justru lebih menyukai sosok yang “gemuk” dan berisi seperti Kim Jong Un karena dianggap sebagai simbol kemapanan.

Malah belok ngebahas Crash Landing on You, tapi mudah-mudahan maksud yang mau saya sampaikan dapat dipahami 😬.

Kembali ke Inventing Anna, apakah saya merekomendasikan serial ini? Jawabannya adalah iya. Saya harap dengan menonton acara ini dan maraknya acara-acara fraudster aka penipu yang memanfaatkan teknik glam for scam, menyadarkan kita bahwa jangan silau akan harta. Harta menjulang dengan cara yang curang? Duh, amit-amit.

Share on:

with love,

Thank you for all the readers! If you like the content and want to support, you can donate via Ko-fi (Global) or Trakteer (Indonesia)

Postingan selanjutnya

2 pemikiran pada “Inventing Anna : Dangerously Remarkable Woman”

Tinggalkan komentar

Home
Journal
Design
Others
Search