Movie & Series

[Review+Spoiler] Don’t Look Up : Pop Culture, Political Sh*t & Mishap


Don't Look Up

It’s good & relatable.

Akhirnya tengah malam kemarin memutuskan buat nonton Don’t Look Up setelah belakangan makin sering digeber meme dan segala macam postingan tentang film Netflix yang satu ini. Belum lagi ‘Pandemic Talk’, sebuah akun instagram yang saya ikuti dan lumayan sering nongol di feed instagram saya sepertinya ga berhenti buat make film ini sebagai konten. Sebelum terpapar spoiler lebih lanjut, akhirnya nonton juga biar saya pun bisa ikut bikin spoiler.

Cast Bertabur Bintang

Film yang bertema komedi satir ini bisa dibilang cukup all out dengan pilihan bintang-bintangnya. Semua bintang dipasangkan pas dengan karakter tokoh sehingga ketika menonton terasa sesuai ekspektasi. Pemilihan Leo sebagai tokoh utama benar-benar sesuai mengingat dia pribadi juga merupakan aktivis lingkungan. Saya rasa untuk tokoh sekaliber dan seberduit Leonardo DiCaprio yang sudah melanglang buana untuk kegiatan-kegiatan lingkungan pasti sudah ketemu dengan para ilmuwan yang mewanti-wanti tentang global warming, dan seperti yang ditampilkan pada karakter Dr.Randall Mindy yang diperankan Leo, para ilmuwan ini dianggap kurang “Media Training” : canggung, kaku & ga asyik.

Don't Look Up
Apakah sengaja dibuat komedi satir supaya bisa ikut gelombang Meme Culture? Memang meme melesat lebih cepat daripada komet

Sebaliknya, kalau terlihat terlalu panik, menggebu-gebu, marah-marah dan emosi seperti karakter Kate Dibiasky yang diperankan Jennifer Lawrence, maka bakal dikira “gila”. Dibiasky bagi saya memang terlihat seperti mahasiswa, namun sejujurnya dia tidak kelihatan seperti tipikal calon Doktor, yah, mungkin karena masih muda dan panik juga kali ya…

Selanjutnya ada Meryl Streep & Cate Blanchett. Ibu-ibu berdua ini sungguh, ugh, mantappu paripuruna 👌✨. Tokoh Madam President yang diperankan Meryl Streep dapet banget sensasi annoying dan abuse of power-nya. Lumayan ngingetin sosok Trump yang kelihatan ga terlalu respek dengan sains, belum lagi anaknya yang merangkap Chief of Staff, Trump pun kalau ga salah juga memboyong anak-menantu ke dalam pemerintahan Amerika saat itu. SementaraCate Blanchett juga berhasil menampilkan sosok entertainer yang khas acara gosip infotainment ala-ala Insert Trans TV dengan gayanya yang glamor dan senyum gigi happydent white .

Selain Cate Blanchett, film ini juga menawarkan sosok “ala elf” lain seperti Timothee Chalamet yang berperan sebagai Yule. Yule dalam film mampu menampilkan personifikasi bagaimana iman dan agama yang mungkin sudah memudar di kalangan masyarakat Amerika. Meskipun sifat dan penampilannya terlihat “berandal” namun dia masih memiliki pengetahuan agama yang dirasa “bermanfaat” untuk menghadapi kiamat.

Satir Tepat Sasaran

Saya sampai berpikir, bagian apa dari Don’t Look Up yang tidak menyindir apa yang ada di dunia ini?

Ingat bagian Jendral Themes (diperankan Paul Guilfoyle) meminta uang buat bayar snack white house yang gratis? Sikap ini ga hanya membuat Dibiasky bingung, namun saya yang menonton pun jadi bingung dan ikut kepikiran juga. Sayangnya sampai akhir film kita tidak tau alasan Sang Jendral meminta uang untuk snack tersebut. Hal ini mungkin semacam representasi bahwa ada oknum-oknum yang memanfaatkan posisi mereka dan ketidaktahuan orang lain demi keuntungan pribadi. Ambil contoh misalnya tes antigen harga maksimal yang ditetapkan pemerintah adalah 100k, namun karena informasi tidak menyebar dengan baik dan banyak orang yang belum tau akan hal ini maka mereka rela membayar lebih dari itu. Atau misalnya dokter “nakal” yang meresepkan obat-obat yang tidak perlu (meskipun juga tidak berbahaya) karena mereka mendapatkan keuntungan dari penjualan obat tersebut.

Tokoh Madam President Orlean juga terlihat sebagai representasi dunia politik saat ini. Bagi dunia politik, urusan elektabilitas dianggap jauh lebih penting daripada urusan hal-hal yang mengancam nyawa. Para politisi lebih rela mengucurkan uang untuk acara-acara dan baligo-baligo yang dianggap dapat mendongkrak elektabilitas. Selain itu cara Madam Presiden mengglorifikasi misi menyerang komet dengan segala macam kembang api cukup sesuai dengan mental “entertainment” yang dimiliki Trump sebagai ex-host The Apprantice. Kayaknya mereka tau bahwa masyarakat suka yang “menggelegar dan sensasional”.

Meskipun Don’t Look Up ingin membuat kita lebih menyadari untuk fokus pada masalah-masalah yang cukup esensial bagi keberlangsungan hidup manusia seperti pandemi dan global warming, film ini memberikan reaksi seperti apa yang ditampilkan dalam film itu sendiri. Alih-alih kita diajak untuk lebih fokus pada “masalah keberlangsungan hidup manusia”, media lebih suka membahas film ini pada hal-hal yang kurang esensial seperti urusan salah edit, cameo Chris Evans, improvisasi Ariana Grande, dst. Hal ini digambarkan dalam film bahwa urusan asmara selebriti lebih penting daripada 5-6 bulan lagi dunia terancam kiamat. Dan somehow media lah yang bisa dibilang bertanggung jawab atas hal itu : lebih banyak exposure buat gosip selebriti, pop culture, pernikahan influencer, dan hal-hal yang memancing gibah online dibandingkan hal-hal penting yang mengancam kehidupan manusia seperti global warming. Padahal semakin banyak kita membahas global warming maka otoritas akan semakin serius membahasnya. Begitulah kekuatan viralitas & viralisme bekerja.

“Speaking as a climate scientist doing everything I can to wake people up and avoid planetary destruction, it’s … the most accurate film about society’s terrifying non-response to climate breakdown I’ve seen. The scientists [in the movie] are essentially alone with this knowledge, ignored and gaslighted by society. The panic and desperation they feel mirror the panic and desperation that many climate scientists feel.”

Peter Kalmus in ‘The Guardian

Sosok tech billioner dalam cerita yaitu Sir Peter Isherwell sebagai pemilik BASH mungkin akan mengingatkan kita pada Elon Musk dan Bill Gates. Tech billioner yang “ingin” menyelamatkan dunia namun juga ingin mendapatkan profit dari hal tersebut. Meskipun hal itu masuk akal dan dapat dimaklumi, kadang hal-hal serba profit ini memang agak bikin sedih ya. Sepertinya orang kurang tertarik untuk melakukan sesuatu hal baik kecuali ada profitnya. Ngomong-ngomong soal Musk, saya masih menanti kelanjutan tantangan UN kepada Elon Musk bagaimana cara uangnya bisa mengakhiri kelaparan di bumi.

Cryo-Chambers – Kapal Nuh “VIP”

Saya sempat membaca alternatif ending Don’t Look Up yang sempat ditawarkan McKay untuk film ini, dimana para ultrarich berhasil kabur dari bumi dan menemukan planet lain untuk ditinggali. Di planet yang baru Peter Isherwell menawarkan uang 10juta dollar Amerika kepada siapapun yang mau membuatkan rumah di planet barunya. Lalu ada celetukan lain dimana orang itu menawarkan 20juta, lalu ada yang menawarkan 25juta dst. Akhirnya mereka sadar bahwa pesawat hanya berhasil membawa para konglomerat yang jarang bekerja berat. Mereka terbiasa diservis sehingga penonton dipersilakan memprediksi sendiri survival skill dan survival rate dari orang-orang kaya ini. Lagipula bagaimana cara mereka membayar sementara bank-nya saja sudah habis diterjang komet?

“What do these trillions of dollars matter if we’re all going to die with the impact of this comet?”

Namun, akhirnya McKay memutuskan untuk memakai Bronteroc sebagai ending.

Bagi saya ending Bronteroc agak membuat saya mengernyitkan kening. Kenapa? Karena ternyata mesin peramal nasib manusia milik BASH cukup akurat, yang berarti seharusnya BASH bisa memprediksi bahwa ledakan akibat komet terjadi dan membunuh hampir semua di Bumi kecuali Jason. Dengan adanya pengetahuan akan kiamat melalui “mesin peramal” mereka, maka sifat Isherwell yang memutuskan untuk menarik profit dari penambangan komet alih-alih menghancurkan komet karena sesuai dengan ramalan mesin mereka merupakan tindakan yang sungguh-sungguh tidak berperasaan.

Oke, mari kita kuis sejenak. Seandainya kamu memiliki kekuasaan untuk menentukan siapa yang boleh menaiki kapal penyelamat, maka siapakah yang akan kamu selamatkan?

Kalau saya, saya akan melakukan pendekatan seperti kapal Nabi Nuh. Saya akan menyelamatkan satu orang terbaik di bidangnya +pasangannya, sepasang dari tiap-tiap suku yang ada di bumi, sepasang dari setiap spesies hewan, dan untuk versi yang egois adalah keluarga dan teman-teman terdekat saya.

Ending

For me, It’s a beautiful sad ending.

Tidak seperti film-film kepahlawanan dimana selalu ada pahlawan yang berkorban untuk menyelamatkan penduduk bumi dan bumi berhasil diselamatkan, dalam film ini kita disuguhi ending dimana pada akhirnya penduduk bumi harus punah dihantam ego komet yang sudah bisa diprediksi 6 bulan sebelumnya. Kalimat penutup yang diucapkan Dr.Mindy (yang konon kalimat tersebut merupakan usulan dari Leo sendiri) cukup powerful untuk menutup film yang memancing kita berpikir ini :

“We really did have everything, didn’t we? I mean, when you think about it..”

Dr. Randall Mindy

Ya. Bumi kita cukup untuk menghidupi seluruh manusia dan makhluk hidup lain yang ada di dalamnya, namun tidak cukup untuk memuaskan ketamakan dan keserakahan manusia. Kebahagiaan tidak hanya milik orang kaya. Kadang (dan bahkan sering) hal-hal sederhana seperti ngobrol santai sambil ngopi dan ngeteh bersama keluarga dan kerabat, bisa ketawa bareng dan menikmati waktu, sudah cukup untuk membuat kita bahagia. Makan makanan hangat, air yang bersih, udara yang segar, lingkungan yang asri, keluarga yang harmonis, teman yang suportif dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak melulu soal materi dan luxury. Jelas tidak enak hidup sebagai orang miskin yang mungkin masih bingung besok mau makan apa, dapat uang darimana dan mudah silau dengan glamornya orang-orang kaya. Dan menjadi orang kaya pun tidak berarti setiap saat bahagia, bahkan mungkin uang sudah terlalu hambar sekaligus candu, sehingga menimbun harta bukan lagi sebagai cara bertahan hidup namun lebih kepada obsesi. Bahkan menimbun harta terlalu banyak bisa jadi justru menambah ancaman hidup.

Daripada melulu soal quantity, bagaimana cara mengeksploitasi alam & manusia dan menjadikannya sebagai saldo bank -juta menjadi milyar, milyar menjadi triliun, triliun menjadi quadriliun, dst, yang tidak ada ujungnya- , bisakah kali ini kita berfokus pada equality? Karena, ga seharusnya kekayaan alam yang ada di bumi hanya dinikmati segelintir orang dengan modal kertas, stempel dan tanda tangan. Jangan menganggap manusia hanya angka semata.

Film ini menunjukkan kepada kita bahwa ketika kita lebih mementingkan materi daripada yang hakiki, maka semua akan rugi.

Pertanyaannya, apakah akhir kehidupan kita di dunia nyata akan seperti film Don’t Look Up ini? Gagal mengantisipasi masalah yang sudah jelas memiliki data & bukti dan memilih untuk  “sit tight and assess”? Saya harap tidak.

Apakah film ini recommended? Yep! 10/10 ⭐⭐⭐⭐⭐.

with love,

Thank you for all the readers! If you like the content and want to support, you can donate via Ko-fi (Global) or Trakteer (Indonesia)

Share on:

Postingan sebelumnya

Postingan selanjutnya

2 pemikiran pada “[Review+Spoiler] Don’t Look Up : Pop Culture, Political Sh*t & Mishap”

  1. BASH sukses memprediksi presiden mati karena Bronteroc, tapi prediksinya ttg Dr. Mindy salah. Dibilang Dr. Mindy bakal mati sendirian, tapi di ending dia mati bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya.

    Tapi ga tahu juga sih apa Isherwell waktu itu jujur bilang hasil prediksinya begitu, atau boong karena lagi emosi sama Dr. Mindy, hehe.

    Balas
    • ah iya juga!! Tapi prediksi mati gara2 Bronteroc itu asli absurd wkwk. Cuma harusnya selain Dr. Mindy kan ada orang-orang lain yang “ditrack” matinya, masa sekian juta orang mati karena komet ga masuk data sama sekali, kalau pake grafik harusnya menjulang tuh data mati karena komet. Kayaknya emang ga terlalu digarap serius jadinya rada blunder si mesin peramal ini…..

      Balas

Tinggalkan komentar

Home
Journal
Design
Others
Search