Februari 25, 2021 – Tentang Update Status

black woman touching screen of smartphone at table

 Baca juga:

Halo semua,

Di blog post kali ini saya ingin sharing sesuatu yang remeh. Sebenarnya dibilang sharing ga juga sih ya, lebih tepatnya curhat atau journaling aja karena postingan kali ini ga ada manfaatnya selain cuma untuk kebutuhan “update status”.

Saat menulis ini, saya pun rasanya ga habis pikir, sejak kapan sih ada kebutuhan buat update status online? spesifiknya “kebutuhan” berbagi hal-hal nonsense ga penting entah itu via fb status, twitter, instagram dll. Tapi dipikir-pikir sebenarnya praktek ini sudah ada sejak jaman internet masih diakses 0809-8-9999 kali ya, misalnya lewat status YM (Yahoo Messenger) atau friendster via update bio atau bulletin board meskipun waktu itu ga disebut “update status”. Pokoknya ada aja caranya untuk menunjukkan ke dunia daring tentang eksistensi kita, tentang…kita tuh lagi begini lho.

Mengikuti perkembangan jaman, update status pun mulai bervariasi. Instagram/Whatsapp/Facebook stories atau snapchat misalnya. Itu update status juga kan? Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam -yang mana sebenernya cukup baru-, kita bisa lihat postingan seseorang di story entah itu sharing pemikiran, misuh-misuh, lagi masak, lagi zoom meeting, atau lagi travelling, dll. Belum lagi twitter, mulai dari topik yang penting banget, viral banget sampe cuma pengen nyeletuk ga penting doang, kayaknya yang baca bakal fine-fine aja. Memaklumi.

Belakangan saya merasa “kehilangan” tempat buat sharing status ga penting yang lumayan panjang. Biasanya saya menggunakan media Instagram story buat urusan ini, namun belakangan igstory saya error, macam-macamlah errornya sehingga membuat kesal. Dari yang netral jadi kesal, dari yang kesal jadi pen ngamok. Kenapa instagram story? karena hilang dalam 24 jam. Jadinya karena gak penting yaudah hilang aja gitu, dump & forget. Beda dengan platform lain yang “masih nyisa” buat dibaca kapan-kapan baik oleh kita ataupun orang lain. Misalnya nih ya, misuh-misuh di twitter karena emosi berat, trus bulan depan atau tahun depan atau entah kapan lah, iseng-iseng scroll lagi twit lama dan ketemu si twit misuh-misuh itu, rasanya tuh malu… “kok gw ngomong bahasanya kasar gini ya”. Meskipun saat status itu diposting mungkin itu respon yang wajar dari emosi yang kita miliki saat itu dan update status adalah salah cara untuk melepaskan unek-unek dan sedikit memberikan kelegaan (dan mungkin juga dukungan dari yang membacanya).

Kenapa sih ada dorongan buat sharing daily life di daring? apakah itu adalah bentuk dari membangun jalinan pertemanan dengan teman-teman online kita? karena toh di dunia nyata pun pertemanan ga melulu tentang hal-hal serius & bermanfaat kan? Yang ga kalah penting dalam berteman juga adalah hal-hal ringan yang menyertainya. Tentu saja kalau terus melulu ringan pertemanan itu tadi jadi kurang terasa “bobot”nya sehingga menjadi biasa saja dan ga berkesan, bahkan bisa lupa satu sama lain. Pertemanan yang baik (dalam konteks obrolan) menurut saya adalah kombinasi proporsional antara obrolan ringan dan obrolan “berbobot”. Obrolan di sini jika dibawa ke ranah online tak lain dan tak bukan adalah si “update status” itu tadi. Update status yang sepele misalnya, bisa jadi respon yang didapat sangat bermanfaat dan si status itu jadi thread yang membuka pikiran.

Tapi yaa bisa juga yang terjadi sebaliknya.

Bisa juga status yang kita buat malah jadi masalah buat kita. Menjadi fitnah, memberikan impresi dan respon yang ga diharapkan, dipelintir oleh pihak-pihak yang ingin menjatuhkan kita dsb.

Yah, intinya “update status” mungkin adalah salah satu cara untuk membuktikan eksistensi kita di dunia dengan segala risikonya, terlepas dari ada yang baca atau tidak, responnya positif atau tidak. Toh, orang purba juga corat-coret goa biar orang-orang tau mereka (orang purba) pernah ke goa tersebut kan? Kalau coretan di goa berbentuk gambar-gambar atau aksara primitif yang diakui arkeolog, maka coretan itu berharga. Tapi kalau coretan goa nya berbentuk tulisan “I WAS HERE” atau “Susan ❤ Maulana” dsb mungkin tulisan itu akan dicibir yang melihat. Persamaan kedua coretan goa itu sama-sama “pengen eksis”. Eksistensi kita menjadi penting (atau tidak) tergantung siapa yang melihat.

Hhh, perkara update status ini dipikir-pikir ribet juga, namun kalau ga dipikirin maka update status menjadi nyaman haha.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest

Salam hangat,

vike sig

Vriske Rusniko

Suka dengan konten ini? Yuk, bantu donasi untuk pemeliharaan situs ini melalui trakteer.com | donate via paypal

Tinggalkan Balasan