2017 Trend Forecast : Ocean Glam

Terinspirasi dari ombak samudera, corak-corak seperti marble, tie-dye, shibori dan shuminagashi yang dipadu dengan aksen emas akan memberikan kesan natural, personal namun modern. Motif marble mulai menjadi hits di akhir tahun 2016 dan diprediksi akan tetap diminati sepanjang 2017. Berbeda dengan trend marbling dan tie-dye yang sempat hits beberapa tahun lalu yang kental dengan unsur tabrak warna, warna yang akan menjadi trend marbling/tie-dye kali ini justru adalah warna-warna pucat yang masih senada dan tidak terlalu mencolok sehingga lebih berfokus pada motif marble/tie-dye itu sendiri.


Personal Notes

Warna-warna yang saya pilih pada Ocean Glam ini ternyata muncul sebagai koleksi Elie Saab Spring 2017.
Saya merasa cukup terkejut dan sedikit bangga. Jangan-jangan saya punya bakat di bidang ini? Haha.

Sebagai disclaimer, Trend & Pattern Forecast ini saya buat untuk melatih sense saya terhadap kecenderungan selera dan trend global. Tentu masih perlu banyak latihan dan riset untuk benar-benar bisa menjadi pro di bidang ini.

Trend 2017 : Magnificent Iridescent

Trend 2017 : Kembalinya Sang Metalik

Apa kira-kira yang akan menjadi Trend 2017 ?

Dengan semakin berkembangnya teknologi, pada tahun 2017 pasar akan dibanjiri dengan produk-produk Virtual Reality dan fashion akan ikut menyemarakkan perkembangan teknologi tersebut dengan menghadirkan nuansa-nuansa futuristik. Warna-warna seperti hijau, ungu dan biru beraksen metalik akan sanggup meghadirkan nuansa futuristik dan cosmic tersebut, membuat kita seakan-akan siap menghadapi masa depan!

Teori Gestalt

Teori Gestalt merupakan salah satu teori penting dalam desain karena aplikasi teorinya cukup sering dipakai dalam desain. Teori gestalt ini cukup membantu dalam memahami bagaimana persepsi visual dapat terbentuk. Dalam postingan ini, seperti ingin menepati “janji” saya di postingan sebelumnya. Saya menyebutkan bahwa teori gestalt berhubungan dengan konsep kesatuan (unity), dalam teori gestalt akan dijelaskan bagaimana komponen-komponen yang berbeda diolah sedemikian rupa sehingga membentuk suatu visual tertentu yang utuh dan seperti satu kesatuan.

Terdapat 5 poin dalam teori gestalt ini yang mungkin akan mejelaskan yang saya maksud sebelumnya:

1. Kesamaan Bentuk (Similarity)

gestalt-similarityKesamaan atau kemiripan bentuk dalam gestalt terjadi apabila ada satu bagian objek mirip dengan bagian objek lain sehingga memiliki karakteristik yang masih berhubungan.

Seperti pada gambar elang di samping. Terlihat bentuk segitiga yang mengelilingi kepala elang dan juga bulu leher elang yang juga berbentuk segitiga. Kesamaan bentuk antara bulu leher dan segitiga yang mengelilingi kepala elang  memiliki karakteristik yang sama (sama-sama meruncing). Hal ini mampu menghasilkan kesan seperti suatu kesatuan gambar. Namun demikian, kita dapat melihat bahwa segitiga yang menjadi bulu leher elang adalah segitiga yang berbeda dengan yang mengelilingi kepala elang, perbedaan ini disebut anomali dan pada akhirnya akan memberikan penekanan pada kepala elang.

2. Kontinuitas (Continuity)

gestalt-continuity

Kontinuitas terjadi ketika arah penglihatan bergerak dalam satu alur dari satu objek ke objek lain. Dalam logo ‘Space’ di samping, kita bisa melihat ada garis lengkung yang disusul oleh gambar bintang seolah-olah gambar bintang tersebut bergerak dari S menuju E. Garis lengkung itulah yang seolah-olah menuntun penglihatan kita berpindah dari objek satu ke objek lain sampai akhirnya berhenti pada bentuk bintang.

 

3. Penutupan Bentuk (Closure)

Gestalt ClosurePenutupan terjadi ketika bidang negatif pada suatu objek visual masih merupakan suatu kesatuan dari objek sebenarnya.

Contoh yang familiar adalah pada logo WWF di samping. Antara bagian positif (bewarna hitam) terdapat ruang-ruang kosong. Namun ruang-ruang kosong tersebut justru melengkapi bentuk dan memberi kesan belang pada panda yang menjadi ikon WWF.

 

 

4. Kedekatan Posisi (Proximity)

gestalt-proximity

Kedekatan elemen-elemen pada suatu gambar dapat mempengaruhi bagaimana kita melihat elemen-elemen tersebut dalam satu kesatuan. Seperti contoh gambar rusa di samping yang dibentuk dari elemen-elemen seperti garis yang berdekatan dan diletakkan dalam komposisi tertentu sehingga membentuk siluet rusa yang berlari/melompat. Bayangkan apabila garis-garis tersebut diletakkan berpencar, maka kita akan sulit menangkap elemen-elemen garis tersebut sebagai satu kesatuan rusa.

 

 

 

5. Figure

gestalt1Figur atau gambar dalam gestalt adalah penggabungan 2 obyek gambar sehingga pada bidang negatif (negative space) muncul obyek baru.

Seperti contoh gambar di samping, kita bisa melihat 2 orang anak sedang bermain bola dan diantara 2 anak itu terlihat bentuk lain seperti benua Afrika.

________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Prinsip-prinsip desain sebenarnya penting diketahui oleh siapapun yang memiliki pekerjaan yang bersinggungan dengan desain. Kenapa? Dengan memahami prinsip desain, kita memiliki semacam “kosakata” dasar yang dapat digunakan untuk membahas desain sehingga membantu desainer untuk menghasilkan desain yang diharapkan.

Apa saja prinsip-prinsip desain tersebut?

Keseimbangan (Balance)

Seimbang berarti tidak “berat” sebelah. Dalam desain, keseimbangan terjadi ketika objek visual didistribusikan sedemikian rupa sehingga nyaman dipandang keseluruhan. Dalam desain, keseimbangan dibagi lagi menjadi 3, yaitu:

  1. Keseimbangan Simetris (Symmetrical Balance)
  2. Keseimbangan Asimetris (Asymmetrical Balance)
  3. Keseimbangan Radial (Radial Balance)

Keseimbangan Simetris

Keseimbangan simetris adalah ketika elemen-elemen desain di satu sisi sama dengan elemen-elemen di sisi lainnya. Keseimbangan ini membagi rata “berat”nya baik dari sisi atas-bawah atau kiri-kanan.

symetrical-design

Contoh keseimbangan simetris dalam advertising

 

Keseimbangan Asimetris

Berbeda dengan keseimbangan simetris dimana distribusi berat dilakukan dengan membagi rata elemen. Keseimbangan asimetris tidak sama antara sisi kanan, kiri, atas, bawah namun tetap terasa seimbang. Seringkali kita melihat sebuah desain dengan gambar yang begitu besar diimbangi dengan teks yang kecil namun terlihat seimbang karena permainan kontras, warna, dsb.

Contoh keseimbangan asimetris

Contoh keseimbangan asimetris

Keseimbangan Radial

Dalam keseimbangan radial, elemen-elemen desain disusun melingkar seolah-olah memiliki pusat. Biasanya desain -desain mandala memiliki keseimbangan radial.

radial-balance

Contoh penggunaan keseimbangan radial pada logo

Penekanan (Emphasis) / Focal Point

Saya sendiri lebih suka menyebut penekanan ini sebagai focal point. Sebenarnya masih ada kata-kata lain yang menurut saya sama saja seperti : Center of Interest, Eye Catcher, dlsb. Tapi saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai focal point. Penekanan (Emphasis) atau focal point adalah bagian yang dibuat menonjol untuk menarik perhatian yang melihat. Dapat dilakukan dengan memberikan kontras baik bentuk, warna, tekstur, dlsb.

 

kontras

Contoh penggunaan kontras warna untuk menghasilkan focal point pada tangga

yellow-focal-point

Contoh penggunaan warna kuning sebagai focal point dalam interior

Pergerakan (Movement)

Pergerakan dalam desain adalah suatu prinsip dimana desain yang dihasilkan memiliki suatu alur ketika dilihat.

alur-desain

Contoh desain dimana kita dapat melihat ‘alur’ pergerakan objek desain yang seolah-olah menjauh dan bergelombang

Pattern, Repetition & Rythm

Pattern adalah elemen-elemen yang dibentuk dan diulang dalam suatu susunan yang teratur dan sama.
Repetition adalah pengulangan yang terjadi namun dalam interval tertentu.
Rythm adalah kombinasi dari unsur-unsur yang diulang yang mengalami variasi namun masih sinergis.

sumber-sophia-learning

Sumber gambar : Sophia.org

Proporsi (Proportion)

Proporsi masih ada hubungannya dengan keseimbangan yang telah saya paparkan sebelumnya. Proporsi meliputi perbandingan skala antara satu elemen dengan elemen lainnya sehingga hasil akhirnya tidak aneh. Contohnya ialah perbandingan kepala dan badan. Pada gambar kartun biasanya skala proporsi kepala terhadap badan lebih besar daripada keadaan normal untuk menekankan penonton pada ekspresi wajah tokoh kartun.

Variasi (Variety)

Variasi dalam desain meliputi penggunaan berbagai elemen visual untuk menghasilkan suatu karya yang kompleks. Memang ada kecenderungan orang-orang memperoleh minat/ketertarikan terhadap sesuatu yang dianggap rumit. Contoh yang sering kita lihat adalah pengguna beberapa font yang dikonsep secara sengaja dalam suatu poster.

Lettering work by Drew Ellis

Lettering work by Drew Ellis

Kesatuan (Unity)

Prinsip unity dalam desain merupakan harmoni antara semua elemen sehingga menciptakan suatu perasaan yang lengkap dan memiliki makna. Agak sulit dideskripsikan tapi dapat kita rasakan jika ada sesuatu yang kurang atau bahkan berlebihan (too much) ketika kita meihat desain tersebut.

Untuk konsep tentang kesatuan ini mungkin akan lebih komprehensif jika dikaitkan dengan Teori Gestalt.

Efek-Efek Media

mac

Sejujurnya mengamati masyarakat begitu reaktif terhadap berita di media membuat saya agak sedikit capek juga melihatnya. Bukan masalah pro-kontra tapi lebih kepada reaksi itu sendiri yang dirasa berlebihan baik dalam menyampaikan kesetujuan atau ketidaksetujuan. Rasanya tidak ada salahnya menekan tombol “pause” sebelum kita benar-benar meledakkan emosi atau pemikiran kita terhadap berita tersebut alias over-reactive. Tombol “pause” itu berfungsi agar reaksi kita tidak semata-mata mengedepankan emosi, namun juga memberi waktu untuk menyiapkan reaksi yang lebih baik dengan cara yang lebih bijak.

Kadang saya merasa bersyukur mengambil S2 di bidang Digital Media, sebab ilmu-ilmu yang diperoleh tentang per-media-an itu sendiri membantu saya menekan tombol “pause” diri saya sendiri terhadap konten-konten yang tersedia. Mungkin dengan semakin terbukanya pengetahuan kita tentang efek-efek yang menempel pada media memberikan kebijaksanaan bagi bagaimana merespon efek tersebut.

Jadi, apa saja efek-efek yang dapat diakibatkan media? Berikut penjabarannya

Reaksi Kolektif / Kepanikan Moral

Media memiliki efek memunculkan kecemasan yang tidak berdasar tentang berbagai isu. Seperti : Hukum, politik, kesehatan, tatanan publik, dlsb. Reaksi kolektif juga memberikan efek dalam penentuan atensi masyarakat.

Misalnya kasus vaksin palsu. Kasus vaksin palsu membuat masyarakat tidak percaya kepada institusi pemerintah seperti Dinas Kesehatan dan BPOM atas persebaran vaksin dan obat yang beredar di masyarakat dan juga pada rumah sakit. Ketika isu ini berlangsung maka atensi masyarakat akan berfokus pada pihak-pihak terkait tersebut.

Perubahan Sikap

Media sanggup memodifikasi sikap seseorang terhadap orang lain.

Contohnya adalah jika ada status facebook A (yang dalam hal ini facebook sebagai media) direspon secara offensive (menyerang) oleh si B padahal mereka dalam kehidupan sehari-hari baik-baik saja dan tidak ada masalah. Sikap offensive B dapat merubah sikap A terhadap B, begitupun sebaliknya.

Perubahan Kognitif

Media memiliki efek mengubah cara orang berpikir, cara orang menilai berbagai hal bahkan memodifikasi kepercayaan-kepercayaan.

Contohnya : kepercayaan bahwa perempuan berkulit putih itu lebih cantik daripada warna kulit lainnya. Cara berpikir dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tercipta suatu stigma bahwa berkulit gelap membuat perempuan terlihat “lebih kusam” daripada wanita berkulit putih.

Tanggapan Emosional/Reaksi Personal

Merupakan bagian yang lebih kecil dari reaksi kolektif. Singkatnya, kumpulan reaksi-reaksi personal yang sama akan membentuk suatu reaksi kolektif.

Penetapan Agenda

Media memiliki efek menetapkan agenda topik-topik yang penting.

Penetapan agenda ini mengajak bahkan cenderung memaksa masyarakat untuk mengikuti agenda tersebut, dan bahwa hal ini lah saat ini yang layak menjadi fokus kita semua.

Sosialisasi

Media memiliki efek mensosialisasikan kepada kita berbagai norma, nilai dan prilaku yang diterima dalam masyarakat kita. Contoh : Sosialisasi pengurangan penggunaan kantong plastik sebagai upaya melindungi alam/lingkungan.

Kontrol Sosial

Media memiliki efek mengontrol audiens dengan mengemukakan berbagai argumen yang menyokong konsensus, hukum, tatanan dengan menekankan, mempertanyakan serta mempertemukan berbagai argumen tersebut sesuai dengan cara-cara masyarakat beroperasi.

Hal ini maksudnya lebih kurang adalah pernyataan atau argumen-argumen tersebut dipaparkan dalam bahasa yang jelas yang dapat dimengerti masyarakat. Contohnya adalah talkshow yang mempertemukan berbagai kubu dan ahli sehingga didapat gambaran yang lebih jelas dari berbagai pihak. Contoh lebih spesifik lagi adalah acara ‘Mata Najwa’ di Metro TV 😀

Mendefinisikan Realitas

Media mendefinisikan realitas sosial, yaitu apa yang kita anggap sebagai nyata, normal dan memang semestinya.

Seperti misalnya Borobudur sebagai salah satu kebanggaan Indonesia yang sepatutnya dijaga dan dirawat. Borobudur kaya akan aspek historis, dan merupakan artefak penting bagi peradaban manusia dan sekaligus tempat keramat bagi umat Budha. Realitas yang dibangun adalah bahwa Borobudur itu penting dan harus dijaga karena faktor-faktor yang saya sebutkan di atas tadi. Hal ini akan kacau jika dikaitkan dengan sentimen bahwa Indonesia adalah negara mayoritas muslim dan Borobudur adalah tempat berhala maka harus dimusnahkan. Justru Borobudur adalah salah satu simbol bahwa Indonesia haruslah memiliki toleransi antar umat beragama karena itulah yang membuat kita kaya sebagai bangsa.
Di sinilah peran media untuk membangun kesadaran tentang realitas Indonesia sebagai bangsa yang ber-Bhineka dan Borobudur sebagai aset penting negara.

Penyokong Ideologi Dominan

Media memiliki efek menyokong pandangan dominan bagaimana suatu hal sepatutnya dijalankan. Maksud ‘Dominan’ dalam hal ini adalah sangat erat dengan penguasa.

Mirip seperti mendefinisikan realitas, tapi lebih ke arah norma/sikap. Media harus mematuhi perintah-perintah yang dianggap penting oleh penguasa yang memiliki tujuan prilaku tertentu. Contoh: proses sensor yang bertujuan melindungi pandangan masyarakat dari sesuatu yang dianggap mengundang berahi, pornografi & pornoaksi. Meskipun dalam prakteknya sering sekali absurd, ini adalah contoh bahwa stasiun televisi tetap menyokong “ideologi” tersebut, yang mana dalam hal ini penguasa adalah lembaga sensor yang berhak mencabut hak tayang suatu acara atau bahkan stasiun televisi yang melanggar.

Sumber: ‘Yang Tersembunyi di Balik Media’ oleh Greame Burton. 2008.

bertemu-klien

Kalau dulu saya pernah bercerita tentang pentingnya kesepakatan awal ketika memulai project. Sekarang saya ingin sharing tentang proses sebelum kita membahas kesepakatan itu. Kan gak enak aja kalau klien datang lalu langsung kita sodori S&K (Syarat dan Ketentuan) kalau mau kerja dengan kita harus begini-begini-begitu. Pasti ada sesi ngobrol dulu untuk membahas sebenarnya seperti apa sih project yang kita hadapi. Untuk ngobrol mengenai project ini juga ada tahapan-tahapannya, jangan langsung nyerocos tentang sulitnya ini-itu blabla atau bahkan sebaliknya “iyaa iyaa beress gampaaaang”.

Mengenal Proyek Klien : Konsep, Tujuan, Target Market, Highlight

Seringkali klien itu sebenarnya tidak tahu apa yang mereka hadapi. Mereka taunya ya sekadar jadi saja, misalnya : “Saya baru buka restoran, restoran Italia gitu…Saya butuh desain brosur”. Request yang standar dan familiar ya? Kita mungkin bisa kebayang membuat desain dengan warna-warna khas Italia: merah, cokelat, kuning, hijau. Lalu apa setelah dengar permintaan itu kita langsung mengiyakan? Di masa-masa awal inilah adalah kesempatan kita untuk menggali kebutuhan klien lebih lanjut karena mereka dalam kondisi siap menghadapi kita (percayalah bahwa kondisi klien yang siap/tidak siap untuk mengobrol itu bisa berefek dalam proses produksi dan berguna dalam penyamarataan persepsi plus saat yang tepat juga buat edukasi desain).

Untuk kasus restoran Italia itu kita mulai dengan bertanya konsep dari restorannya itu sendiri seperti apa. Apakah klasik, funky, modern, minimalis, dlsb. Tujuannya supaya desain kita memang mencerminkan restoran itu dan nyambung. Jika klien sulit untuk mendeskripsikan, mintalah mereka untuk menunjukkan foto-foto restoran. Tanya juga apa yang diharapkan klien tersebut dari brosur ini, ini akan menjadi panduan kita untuk menentukan highlight. Kalau hanya sekadar pengen “ya biar orang bisa tau kita buka restoran”  maka sebaiknya kita gali lagi kebutuhan klien tersebut. Bukan apa-apa, design yang bagus adalah design yang memiliki impact. Mungkin bisa ditonjolkan discount promo, menu favorit (misalnya pizza yang dengan keju meluber-luber sebagai highlight brosur), atau tempat yang cozy, dlsb. Ketika orang melihat brosur maka audience hanya perlu 1 detik untuk melihat apa yang paling menonjol dari brosur tersebut, baru kemudian menyisir info-info lainnya. Highlight berfungsi menjadi attention seeker di sini.

Masalah yang biasanya timbul: 

Klien tidak tau apa yang harus jadi highlight. Klien merasa semua hal harus jadi sorotan, ya interior, ya menu, dlsb. Sehingga tidak ada hal yang menjadi fokus. Padahal otak kita tidak bekerja seperti itu, otak kita akan lebih mudah mengenali sesuatu yang “berbeda” dibanding lainnya atau kita sebut saja “kontras”, “fokus” atau dalam artikel ini saya sebut “highlight” tadi. Klien seperti ini akan mengarah pada dua kemungkinan : Klien yang pasrah apa adanya dan membiarkan kita berkreasi (yay~), atau client from hell yang pas ditanya ga bisa dijawab, tapi ketika disodori hasil bilangnya “kok saya ga suka ya, ini ga seperti yang saya bayangkan. Saya ga tau salahnya dimana tapi saya tau bukan ini yang saya mau”. Makanya, menggali info di awal adalah modal kita para designer, selain sebagai guidelines kerja, juga sebagai tameng kalau dicecar komentar pedas tak berdasar dari klien.

Masalah lainnya yang mungkin timbul adalah bercampurnya selera pribadi klien dengan target market. Untuk masalah ini maka dituntut pengetahuan desainer tentang target market untuk meyakinkan klien. Kadang dari klien suka muncul ide-ide aneh yang cukup didengarkan dengan hormat tapi tak perlu dilakukan karena mencemari desain kita. Misalnya: Klien minta tulisannya dibuat 3D pelangi ala-ala wordart powerpoint supaya brosurnya mencolok. Iya, brosurnya sih mencolok, tapi balik lagi ke tujuan brosurnya, apa dengan brosur yang mencolok orang-orang jadi tertarik datang ke restoran lo? Engga gitu juga kan….

Memberitahu Proses Bekerja

Setelah selesai membahas tentang konsep, tujuan, target market, highlight dan sebagainya itu, ceritakan tentang proses kerja kita. Mulai dari persiapan bahan, kemungkinan penggunaan source berbayar, waktu pengerjaan, dlsb. Oiya, kita harus menyampaikan juga masalah tentang hak cipta. Soalnya di Indonesia masih rendah banget pengetahuan penggunaan hak cipta, jadi kesannya apa yang ada di google boleh dipake. Memang ada konten-konten gratis yang bisa dipakai, tapi mencarinya juga butuh waktu. Biasanya saya kembalikan lagi resikonya kepada klien kalau semisal mau menggunakan konten-konten yang gak jelas hak ciptanya.

Memastikan PIC (Person In Charge)

Sering kali tawaran yang masuk ke saya adalah dari rekomendasi teman. Jadi ada teman yang tau saya designer, trus nawarin proyek A, saya mau apa engga? Nah, yang sering kebablasan adalah kita jadi koordinasinya sama teman kita itu. Sebaiknya, hindari “klien ber-layer” seperti itu. Cari tau siapa yang benar-benar merupakan PIC dari proyek ini untuk mengurangi bias. Meskipun teman kita yang menawarkan dan ngobrolnya lebih enak, tanyakan siapa PIC yang sebenarnya, karena itulah sebenar-benarnya klien kita (teman kita bisa bantu juga untuk menengahi pemikiran karena kenal kedua belah pihak).

Untuk ilustrasi kasus kira-kira begini : Kita diminta buat brosur, spesifikasi ABCD, trus jadi, kita kirim, lalu kemudian datang jawaban “bentar ya, di ACC boss gue dulu”. Lalu kemudian, “Boss gw minta diubah ini-itu ini-itu”. Laah rempong kan.

Semenjak dulu masih ngantor hal ini juga pernah terjadi, saya lapor sama senior, eh ternyata harus revisi ini-itu sesuai selera dia, pas dia suka trus dilanjutkan ke bos, eh bosnya ga suka. Pas akhirnya pak bos nyamperin, ehhh sukanya sama desain yang pertama……Duhh rasanya seperti banyak waktu dan energi yang kebuang. Ya gak sih?

Kesimpulan?

Jika kita simpulkan dengan list mungkin kira-kira seperti berikut:

  1. Pastikan tujuan dari proyek (untuk menentukan fokus/highlight).
  2. Kenali konsep, target market, impact yang diharapkan dapat timbul dari desain kita.
  3. Menyiapkan outline rencana kerja, termasuk memprediksikan kendala-kendala yang mungkin akan dialami saat bekerja (tapi jangan sampai nakut-nakutin klien juga).
  4. Memastikan PIC dan komitmen klien agar pekerjaan berjalan lancar (misalnya: klien merespon ketika kita hubungi, memberikan aset sesuai waktu yang ditentukan, fokus pada kesepakatan awal).
  5. Setelah mengetahui aspek-aspek yang perlu kita ketahui, kita bisa memutuskan untuk menerima/menolak proyek.
  6. Jika lanjut, buatlah kesepakatan sebelum proyek tersebut dimulai.

Yah, ini sharing aja sih… Menurut kamu bagaimana?

cabut gigi

Akhirnya satu lagi PR per-gigi-an tuntas (biarpun belum tuntas-tuntas amat karena masih harus cabut jahitan minggu depan), yaitu cabut wisdom tooth alias gigi geraham bungsu. Kali ini saya ingin sharing tentang pengalaman operasi cabut geraham bungsu di USU.

Bukan Operasi yang Pertama

Sebelumnya saya juga pernah melakukan operasi geraham bungsu waktu masih muda dulu (cailah masi mudaaa~). Seingat saya sih gak sakit-sakit amat…Makanya akhirnya ketika harus operasi geraham bungsu lagi saya ingin dengan dokter gigi yang sama yaitu Drg. Edy Ketaren. Saya pun operasinya ditempat yang sama dengan yang pertama, yaitu di ruang praktek bedah mulut Universitas Sumatera Utara (USU).

Ketika saya datang dan masuk, ternyata Drg.Edy sudah ada di tempat tapi masih menindak operasi, jadilah saya harus menunggu terlebih dahulu. Selagi menunggu, saya sempatkan membaca e-book di hp dan bermain candy crush soda saga. Saya menunggu sekitar 45 menit dari waktu kesepakatan awal yaitu 8.30 pagi. Sekitar 20 menit-an ketika menunggu, tak sengaja saya mengamati 2 mbak-mbak hijab fashionista yang mondar-mandir depan ruang praktek bedah, berhubung kita hidup di Medan yang mana kalau orang ngobrol bisa kedengeran satu kampung, sepertinya salah satu mbaknya berniat operasi bedah mulut juga…Lalu kemudian ada ibu-ibu dari dalam memanggil mbak-mbak tersebut dan mbak-mbak itu ikut masuk ke dalam dan gak keluar-keluar lagi…
Laaah? ini gue kesalip apa gimana nih???

Ternyata Ga Kesalip

Sepanjang menunggu memang sih kita jadi suka curiga-curiga gitu sama pasien-pasien umum yang berkeliaran di sekitaran ruang praktek bedah. Apalagi kalau orangnya ga kontak sama mahasiswa, trus masuk dan ga keluar-keluar lagi…Kalau sempat kontak sama mahasiswa biasanya tandanya doi adalah pasien mahasiswa tersebut, tapi kalau tidak bisa diduga yang dia cari adalah dokter/dosen senior. Hmm….

Tapi pikiran itu berusaha saya tepis karena kan suudzon itu ga baik. Jadinya saya mengalihkan perhatian dengan lanjut membaca saja.

Nah, selain mbak-mbak hijab fashionista tadi, sempat ada bapak-bapak berpenampilan apik dan trendy dengan wireless earphone masuk ke ruang praktek bedah. Terlihat sehat sebetulnya, tapi masalah gigi mah siapa yang tau ya? Lagi-lagi si Bapak ini pun ga keluar-keluar….Saya pun mulai ngintip-ngintip apa perlu harus proaktif atau gimana gitu? Soalnya memang di USU ini ga ada nomor antrian atau semacamnya, jadi seperti menunggu tanpa kejelasan.

Lalu kemudian ada bapak-bapak lainnya yang masuk menggotong kursi roda. Ketika kursi roda itu keluar, kursi roda itu diduduki oleh ibu-ibu yang sudah tua dan didampingi oleh si bapak apik trendy (+wireless earphone) tadi. Muka ibunya sudah kuyu, mungkin menahan sakit ketika dioperasi, mulutnya menggigit kapas dan kelihatan lemas sekali. Melihat adegan itu tiba-tiba saya pun jadi ketar-ketir…..

Saya menduga ibu itu adalah pasien yang sedang ditindak Drg.Edy ketika saya datang. Prediksi saya harusnya setelah ini giliran saya, namun nama saya tak kunjung dipanggil juga. Wah jangan-jangan beneran disalip si mbak-mbak hijab fashionista tadi? Tapi apa mungkin antriannya ganti-ganti ya, pasien Drg. Edy dulu, baru pasiennya ibu-ibu dokter tadi, baru kemudian saya? Ya, ya bisa jadi…
Saya lanjut menunggu dan tak lama kemudian nama saya dipanggil.

Ketika di dalam ruangan, saya disuruh masuk ke ruangan yang ada di sebelah kiri, namun saya sempat mengintip ruangan sebelah kanan dan melihat mbak-mbak hijab fashionista itu ada di dalamnya. Doi terlihat sedang mengobrol dan air mukanya tampak cemas. Ohh, ternyata saya tidak disalip toh. Mungkin si mbaknya mau konsultasi dulu dan menyiapkan mental.

Proses Operasi

Saya disuruh rebahan di meja (?) operasi dan kepala+mata saya dibalut kain. Bagi saya, ritual penutupan mata ini membuat hati saya semakin mencekam. Tapi ternyata selain supaya air atau cipratan-cipratan sesuatu ga kena mata, ternyata balutan kain itu melindungi pandangan kita dari lampu operasi yang supersilau. Akhirnya saya pun kembali tenang. Tak lama kemudian operasi pun dimulai….

Pertama-tama area sekitar mulut bagian luar dan dalam diberi betadine. Ketika dioles, dokternya sempat berujar, “Ini saya oles betadine dulu ya ke, maaf ni lipsticknya jadi kehapus” “Gapapa dok”. Saat itu saya megenakan lipstik purbasari matte #89 yang dioles tipis saja ke bibir (ah elah pik! ga penting juga keleus infonya!). Lalu kemudian saya jadi teringat mbak-mbak hijab fashionista tadi yang pakai lipstick tebel banget (at least keliatannya begitu) dan warnanya merah cabe jreng-jreng! Wah, kalau doi dioperasi dan dioles betadine juga lipsticknya bisa celemotan banget kayaknya yaa.

Lalu saya disuntik anestesi  di beberapa tempat termasuk di bagian pipi dalam. Rasanya senut-senut pediss gimana gitu, habis disuntik mulut pun terasa kebas. Selanjutnya saya lupa karena memang ga ngeliat dan mulut juga udah mati rasa, yang jelas kita pasti notice ketika suara bor berderum. Ketika bor berderum, saya jadi ingat Ganis yang ketika operasi geraham bungsu biusnya kurang jadi sakitnya minta ampun. Saya pun berdoa semoga anestesinya cukup dan ga perlu merasakan sakitnya dibor tanpa dibius. Dan Alhamdulillah ga kenapa-kenapa sih….Cuma rasanya, dibanding operasi terdahulu operasi yang sekarang lebih rumit karena giginya sudah jauh lebih besar. Bunyi bor yang seperti membelah keramik, dan tang yang narik-narik gigi serta penggunaan benang buat narik giginya (?) dan aktivitas ramai di dalam mulut membuat saya merasakan perasaan diobok-obok aneh ibarat pembawa acara mengaduk nomor undian di acara Gebyar BCA…
Setelah gigi berhasil dikeluarkan, kemudian dilakukan penjahitan. Saya entah mengapa takut kalau si lidah dan bibir ikut kejahit juga, soalnya si lidah ini kayak ngerasain sensasi “kesayat” benang. Ga sakit gimana gitu sih, cuma bikin berimajinasi ga enak saja.

Pasca-Operasi

Selesai sudah operasi. Setelah operasi, ibu dokter memperlihatkan gigi yang diambil tadi. Seperti yang saya duga, giginya gede dan untuk pengoperasiannya harus dipecah jadi 2 bagian(?). Si ibu bertanya, “Ini mau dibuang aja apa mau disimpan?” “Ih buang ajalah Bu!” kata saya spontan. Yakali mau dijadiin kalung kayak suku-suku pedalaman gitu….
Lalu kemudian saya pun diberi resep, membayar biaya bedah mulut dan pulang.

Sehabis operasi, tidak ada masalah berarti. Masalah muncul ketika perlahan-lahan anestesi habis. Saya hanya bisa berguling-guling seperti kucing kutuan. Peluk-peluk guling dan berusaha tidur selagi menunggu papa menjemput obat. Setelah minum obat, kembali berguling-guling ria dan berusaha tidur. Akhirnya ketiduran juga dan ketika bangun dunia sudah lebih baik 🙂

Rincian Biaya

  • Sebelum operasi, beberapa hari sebelumnya diharuskan mengambil foto rontgen gigi panoramic. Saya melakukan foto panoramic di RS. Bunda Thamrin di Jl. Sei Batanghari Medan. Biaya : Rp. 100,000 dan hasilnya langsung jadi.
  • Operasi Geraham Bungsu di USU biayanya Rp. 1,5 juta/gigi. Ini tergolong murah atau standar murah setau saya.
  • Biaya resep obat : Dapat 3 obat untuk 3 hari dengan dosis 3x sehari. Biaya sekitar Rp. 186,000.

Saran saya sih, kalau ada masalah dengan kesehatan sebaiknya langsung diobati/ditindaklanjuti karena semakin ditunda bisa semakin kronis. Kalau sudah kronis otomatis biaya bisa lebih mahal.

Semoga bermanfaat ya!

 

1 2 3 4 Page 3 of 4

Search stories by typing keyword and hit enter to begin searching.