Jenis-Jenis Harga Jual (Pricing) : Menetukan Jenis Harga yang Tepat untuk Klien

1. Trial Pricing

Trial pricing adalah harga perkenalan yang ditawarkan biasanya untuk menarik minat calon pembeli untuk mencoba produk/servis baru.

2. Image Pricing

Harga yang dipasang sebagai gambaran yang diharapkan pembeli. Misalnya pada restoran mahal, restoran tersebut menaikkan harga sampai beberapa kali lipat sehingga memberikan kesan “elit”. Begitupun harga murah, agar pembeli mendapat kesan bahwa mereka melakukan transaksi yang menguntungkan dan dapat berhemat. Image pricing berguna untuk membangun kesan dari produk yang dijual.

3. Tier Pricing

Harga yang diberikan pada konsumen setelah mereka melakukan pembelian produk dalam kuantitas tertentu. Misalnya dapatkan 6 produk dengan cukup membayar harga untuk 4 produk.

4. Bundling Pricing

Menjual beberapa produk sekaligus dalam satu paket dan satu harga.

5. Value-added Pricing

Menambahkan nilai tambah tanpa merendahkan atau meninggikan harga jual produk. Misalnya beli pemanas air gratis instalasi (pemasangan).

6. Captive Pricing

Penjual menjual barang pelengkap dengan harga murah untuk “mengunci” pembelian produk utama yang mereka jual. Misalnya pisau silet merk A dijual murah namun untuk menggunakan pisau silet tersebut pembeli harus memiliki alat cukur merk A terlebih dahulu (yang mana alat cukur tersebut adalah produk utama merk A.

7. Pay-One-Price

Mengacu pada harga yang dibayar sekali untuk mendapatkan produk/servis yang tidak terbatas (unlimited). Misalnya pembayaran internet unlimited per bulan, konsumen cukup bayar sekali sebulan untuk mendapat akses internet tanpa batasan quota. Contoh lainnya adalah taman hiburan yang menjual tiket terusan, cukup 1 tiket pengunjung dapat main sepuasnya berkali-kali sepanjang hari.

8. Non-Negotiating Pricing

Contoh dari Non-Negotiating Pricing ini adalah supermarket yang mengklaim menjual produk paling murah dan bersedia mengganti selisih harga apabila pembeli menemukan harga yang lebih murah di tempat lain.

Istilah, digunakan untuk memberikan ‘label’ khusus dengan maksud tertentu yang spesifik sehingga penyampaian bisa lebih singkat namun tepat sasaran. Begitupun ketika menyebutkan “jarak” dalam konteks pencetakan desain. Karena “jarak” dalam desain cetak bisa macam-macam, ayo kita simak istilah yang tepat yang sering dipakai perihal cetak-mencetak hasil desain.

Margin

Mungkin di antara istilah yang akan kita bahas, istilah ‘margin’ adalah yang paling familiar karena sering kita pakai pada software pengolah dokumen seperti Microsoft Word. Margin adalah istilah untuk menyatakan jarak antara tepi ujung kertas dengan konten. Margin yang terlalu rapat dengan tepi kertas bisa mengakibatkan kenyamanan membaca berkurang misalnya pada buku atau literatur yang dijilid.

Contoh margin pada buku. 
(Kadang stock image bisa rese gitu ya....)

Trim = Cutline & Safe Area

Trim atau Cutline adalah istilah desain yang digunakan untuk menyatakan bagian yang akan dipotong. Misalnya kamu punya kertas A4 dan mau dipotong jadi A5, maka “garis” yang dibuat untuk membagi A4 menjadi 2 itulah yang disebut cutline atau garis yang akan di”trim”. Contoh lainnya misalnya pada buku menggunting dan menempel, biasanya ada garis putus-putus untuk menggunting gambar, nah, si garis itu adalah garis trim/cutline.

Pada Photoshop juga ada istilah Trim, biasanya digunakan untuk membuang bagian transparan yang tidak diperlukan (misalnya saat mengolah file png).

Sementara Safe Area adalah bagian dalam dari garis trim yang merupakan isi/konten yang akan dicetak.

Bleed

Bleed adalah area yang sengaja dibuat berlebih di luar trim/cutline. Fungsinya sebagai bidang toleransi pada mesin potong. Jadi semisal mesin potong tidak memotong tepat pada cutline hasil desain tetap masih bisa “ditoleransi” alias tidak melenceng amat dari desain yang sudah dibuat.

Gutter

Biasanya ketika kita mencetak kartu nama, kita bisa mencetak beberapa kartu nama sekaligus dalam 1 kertas. Tentu saja jarak antar kartu nama yang satu dengan yang lain harus diatur agar tidak tumpang tindih, mudah untuk dipotong namun bisa memanfaatkan bidang kertas secara optimal. Nah, jarak antar kartu nama inilah yang disebut dengan Gutter.

 

 

 

Theta App : Quick View

Theta App adalah aplikasi yang dapat diinstal pada smartphone kita untuk meningkatkan performance dari Theta Camera. Overall, aplikasi ini cukup mudah digunakan dan sangat membantu terutama karena fitur remote shutter dan live view-nya. Pengaturan lain yang bisa kita lakukan melalui Theta App ini antara lain pengaturan Shutter Speed, ISO dan White Balance.

Auto Mode

 

Auto Mode bisa dibilang cukup baik. Entah karena ketika dicoba cahayanya lagi bagus atau gimana. Tapi memang dibanding fitur ‘shutter priority’ atau ‘ISO priority’ (yang distel asal saja) pada waktu pemotretan yang sama, fitur auto ini adalah yang paling jelas dengan bintik (grainy)  lebih sedikit dibandingkan fitur ISO Priority atau Shutter Priority.

Shutter Priority

 

Pada fitur “Shutter Priority“, kita bisa mengatur shutter speed yang kita inginkan. Shutter speed ini berfungsi “membekukan” gerakan. Angka yang tampil pada menu adalah 1/(focal length). Semakin besar focal length-nya maka sensor kamera akan semakin cepat. Jadi, kalau memotret benda bergerak supaya terlihat “beku” (misalnya hewan peliharaan) perbesar nilai focal length-nya.

ISO Priority

ISO Priority merupakan kebalikan dari shutter priority pada kamera Theta S ini. Jika Shutter Priority membebaskan kita mengatur shutter speed sementara ISO-nya otomatis ditentukan kamera, maka pada mode  ISO priority kita diberi kebebasan mengatur ISO yang akan digunakan. Semakin besar ISO maka semakin terang foto yang dihasilkan (namun dapat berakibat foto menjadi grainy atau berbintik).

Manual Mode

 

Pada Manual Mode, kita bisa mengatur baik ISO, Shutter speed, Exposure dan White Balance (WB). Memang Theta S hanya terdapat 4 settingan itu saja untuk fitur pemotretannya. Exposure dan WB sendiri bisa kita temukan dalam semua mode, baik auto, shutter priority, ISO priority ataupun manual.

Lainnya

Selain melakukan settingan untuk pemotretan, Theta App juga mendapatkan tugas untuk mengatur kualitas foto yang kita ambil. Tersedia 2 pilihan ukuran foto yang dapat kita pilih.

Selain itu kita juga bisa men-setting timer melalui aplikasi ini dengan fitur interval shot. Seperti yang saya keluhkan pada postingan pertama, saya masih merasa sayang sekali Theta S ini tidak memiliki fitur timer langsung pada body kamera. Jika sudah tersedia pada body kamera, kita bisa menggunakan fitur tersebut meskipun smartphone kita mati.

Personal Notes

Ada beberapa hal lain yang mungkin perlu kamu ketahui perihal Theta S + Theta App ini. Penggunaan app ini pada smartphone saya bisa dibilang sangat-sangat boros baterai dan bikin smartphone saya jadi luar biasa panas (saya pake Zenfone 5 btw).  Entah smartphone saya sedemikian usangnya atau bagaimana, yang jelas begitulah yang terjadi. Ibaratnya jika smartphone saya dalam keadaan baterai 100%, maka jika menggunakan aplikasi ini terus menerus selama 1 jam bersama Theta kameranya maka dalam satu jam kemudian smartphone saya bisa drop dead alias baterai 0%.

Selain itu konektivitas antara Theta S camera dengan Theta App adalah via Wi-Fi. Agak ga paham juga kenapa tidak ada opsi menggunakan bluetooth ya? Apa karena jangkauan wifi lebih luas dibanding bluetooth? Entahlah. Terlepas dari apapun alasannya, saya rasa koneksinya tidak sestabil kalau menggunakan bluetooth. Apalagi kalau ada wifi lain dalam jangkauan smartphone, seringkali smartphone malah otomatis mengoneksikan diri dengan wifi lain sehingga koneksi dengan Theta kamera jadi terputus. Dan tidak ketinggalan, Theta app ini juga berfungsi untuk men-share hasil foto kita ke sosial media termasuk Theta360.com.

Ingin membuat foto 360° tapi malas men-stitching beberapa foto jadi satu dan mengatur formatnya agar terbaca sebagai spherichal image dlsb? Kini tak perlu repot lagi karena sudah banyak dijual kamera 360° untuk kebutuhan foto 360°, salah satunya adalah Ricoh Theta S.

Satu hal yang perlu dicatat adalah : ketika kita berbicara tentang Kamera 360 kita tidak sedang membicarakan sebuah aplikasi kecantikan yang cukup terkenal di AppStore ataupun Playstore. Untuk itulah saya sebisa mungkin menulisnya dengan menggunakan simbol derajat (°) pada 360, cuma ya kalau lupa mohon maafkan saya.

Diantara beberapa merk dan seri kamera 360°, akhirnya saya memutuskan untuk memilih Ricoh Theta S sebagai kamera 360° pertama saya.

Ricoh Theta S : Spesifikasi & Harga

  • Baterai : Lithium ion  (built in)
  • Battery life ± 260 foto*3
  • Image file format
    • Still image: JPEG (Exif Ver. 2.3), DCF2.0 compliant,
    • Video: MP4 (Video: MPEG-4 AVC/H.264, Audio: AAC)
  • External interface Micro USB terminal: USB 2.0
    HDMI-Micro terminal (Type-D): HDMI 1.4
  • Remote release CA-3-compatible
  • Exterior/external dimensions 44 mm
    • (W) x 130 mm (H) x 22.9 mm (17.9 mm *4) (D)
  • Berat ± 125g
  • Lens configuration 7 elements in 6 groups
  • Lens_F value : F2.0
  • Image sensor_size 1/2.3 CMOS (x2)
  • Effective pixels : ± 12 megapixels (x2)
  • Output pixels Equivalent to approx. 14 megapixels (x2)
  • Still image resolution L: 5376 x 2688, M: 2048 x 1024
  • Video resolution/frame rate/bit rate
    • L: 1920 x 1080/30 fps/16 Mbps
    • M: 1280 x 720/15 fps/6 Mbps
  • Live streaming resolution/frame rate (USB)
    • L: 1920 × 1080/30fps
    • M: 1280 × 720/15fps
      *The resolution and frame rate in Windows 7 is 1280 × 720 and 15fps.
  • Live streaming resolution/frame rate (HDMI)
    • L: 1920 x 1080/30 fps
    • M: 1280 x 720/30 fps
    • S: 720 x 480/30 fps
      *Automatically changes to match the display
  • Wi-Fi Communications Protocol HTTP (Open Spherical Camera API *7 compatible)
  • Usage temperature range 0°C – 40°C
  • Usage humidity range 90% or less
  • Storage temperature range -20°C – 60°C
  • Bundled items Soft case and USB cable

Sumber : https://theta360.com/

Harga pasaran ketika saya beli di akhir tahun 2016 adalah sekitar 5 juta ke atas. Tapi berhubung saya beli pas Harbolnas, jadi saya memperoleh kamera ini dengan harga 4,7 juta dengan diskon nego Bukalapak. Selain di Bukalapak, kamera ini juga dapat dibeli di e-commerce lainnya atau bahkan di toko kamera langganan anda.

Haruskah saya membeli Ricoh Theta S ?

Setelah sebulan lebih menggunakan Theta S, ada beberapa manfaat yang saya dapatkan dari kamera 360° ini. Mungkin manfaat ini lebih ke manfaat secara general dari kamera 360° daripada spesifik pada Theta S. Selain itu saya paparkan juga “masalah” yang saya alami selama penggunaan Theta S ini.

Bukan buat foto cantik

Bisa dibilang belum mapan untuk estetika fotografi. Memang Theta S bisa dikontrol jarak jauh karena memiliki wi-fi yang bisa disinkronisasikan dengan smartphone kita via Theta App. ‘Live View’ memungkinkan kita melihat  hasil tangkapan Theta S secara keseluruhan melalui layar ponsel. Namun keterbatasan ukuran layar smartphone dan cakupan gambar yang cukup luas (sampai 360°) membuat kita sulit menentukan fokus kamera ada dimana. Mengingat lensanya hanya 2, maka bisa diasumsikan fokus point-nya 2 juga, jadi di luar fokus agak blur. Masalahnya adalah : kita sulit menetukan fokusnya dimana, sehingga objek atau bagian yang ingin kita tonjolkan bisa jadi malah kurang tajam hasilnya.

Dan juga perlu diingat bahwa Theta S menggunakan lensa fish-eye. Jadi, jangan kaget kalau misalnya secara proporsi kita terlihat seperti crayon Shinchan yang kepalanya besar badannya kecil, atau justru sebaliknya badannya besar kepalanya kecil.

Handy & Efisien

Ukuran Theta S ini terbilang kompak dan ga menuh-menuhin tas. Mantap digenggam dan juga kokoh. Theta S atau spherical camera pada umumnya cocok buat kamu yang suka observasi. Kalau pakai kamera biasa mungkin kita harus mem-foto dari berbagai sudut untuk mendapatkan informasi, dengan kamera 360° cukup sekali jepret sekeliling kita sudah terekam dalam 1 file saja. Berguna banget buat share info misalnya kamu mau share foto ruangan (lagi cari kosan misalnya) atau suasana kafe. Lebih jujur daripada foto normal yang cenderung memilih sudut-sudut tertentu sebagai point of interest.


Bisa diedit tapi belum tentu bisa di-share dalam format 360° view

Post-processing cukup memungkinkan untuk pengolahan file 360° images karena format filenya masih JPEG. Biarpun untuk saat ini proses editing untuk image 360° ini cukup tricky.  Foto yang tampil seolah-olah “menggelembung” seperti hasil tangkapan lensa fish-eye pada umumnya. Yang paling aman sih, ganti tone warna atau menambah filter ala instagram. Kalau menambah elemen seperti tulisan atau shape  (lingkaran, kotak, segitiga, dll) perlu perlakuan khusus, karena bisa mengakibatkan teks atau shape tersebut mengalami distorsi yang tidak diinginkan.

Untuk proses editing langsung dari smartphone, Ricoh menyediakan aplikasi Theta+ untuk proses editing sederhana ala kadarnya. Kalau kamu pake ASUS Zenfone, aplikasi editing bawaan Zenfone juga bisa dipakai buat editing foto 360°. Another nice thing about Zenfone, ponsel ini bisa membaca foto 360° dengan format 360° view langsung dari gallery bawaan Zenfone itu sendiri. Yay!
Untuk aplikasi photo editing di smartphone (seperti Line Camera, Candy Camera dan Beautyplus) kebanyakan belum bisa baca spherical images/360° images. Jadi kalau kamu edit filenya di aplikasi itu data 360°-nya bakal ilang dan ketika di-upload ke Facebook tidak akan terbaca sebagai 360° images.  

Sementara untuk sharing file. Tempat paling asyik buat sharing foto 360° saat ini masih Facebook. Youtube juga sudah support untuk 360° video. File yang sudah kamu edit di Photoshop tadi bisa kamu save dan upload ke Facebook dan tetap terbaca sebagai 360° image. Yay (lagi)!
Sementara kalau kamu share via messenger seperti WhatsApp, Line atau Telegram, file tersebut akan ter-‘convert’ jadi still image biasa berbentuk persegi panjang. File ini ketika di-share ke Facebook tidak akan terbaca sebagai 360° images.

Penggunaan live view/remote shutter bikin boros baterai smartphone

Memang sih asyik karena bisa diatur jarak jauh via smartphone. Tapiiii, kalau pake aplikasi Theta App buat live view atau sebagai remote shutter bikin boros (banget!) baterai smartphone. Mungkin ini ponsel saya yang sudah kampring T_T. Sementara kalau tekan tombol shutter-nya langsung bikin jari-jari kita kelihatan aneh. Selain itu belum tersedia remote shutter khusus untuk Theta ini selain pakai smartphone. Sebenarnya untuk mengakali problematika itu harusnya bisa dengan timer pada body bawaan Theta S, tapi sayang sekali tidak ada fitur timer pada body bawaan Theta S.

Sekian dulu review kali ini. Untuk hands-on review alias review pemakaian Theta S nya nanti akan saya tulis di postingan lainnya. Stay tuned!

 

7 Muslim Countries, 7 Kingdom.
Donald Trump, Joffrey Baratheon.
Justin Trudeau, Robb Stark.

Inilah dia, ketika cocoklogi dimulai…….

Awal Mula…

Cerita ini dimulai gara-gara postingan beberapa teman yang ikut nge-share tentang video Justin Trudeau atas sikapnya pasca Donald Trump menandatangani larangan masuknya imigran dari 7 negara muslim.

Sikap Trudeau ini langsung dielu-elukan oleh beberapa netizen dan ada yang menyebut Trudeau sebagai “King in the North”. Teman saya marah karena nasib King in The North tidak berakhir baik dalam serial Game of Thrones (GoT). Lalu kemudian saya berpikir, ada beberapa hal dari serial GoT yang bisa di-cocoklogi-kan dengan kondisi Amerika dan dunia saat ini. Hmm..

Donald Trump as Joffrey Baratheon

Donald Trump adalah Joffrey versi tua dan sedikit bengkak. Dia lahir dari keluarga kaya dan memiliki ego yang tinggi serta emosi yang meledak-meletup jika keinginannya tidak terpenuhi. Baik Joffrey atau Trump punya istri cantik dan tinggi semampai, Sansa dan Melania. Kenapa saya pilih Sansa bukannya Margaery? Karena Sansa lebih nurut sama suaminya, berusaha sabar meskipun suaminya semena-mena dan juga tetap menjaga wibawa suaminya (at least pada season-season awal). Kesan seperti itu juga muncul ketika melihat Melania saat ini.
Namun, akankah Melania ikut berubah sikapnya seperti Sansa? *insert dramatic music here*

Justin Trudeau as Robb Stark

King in The North

 

Tampan, berkuasa dan baik hati. Itulah sosok Robb Stark dan Justin Trudeau.
Dan tidak ketinggalan, dua-duanya berasal dari Utara!

Selain 3 hal yang bikin cewek klepek-klepek sama 2 orang ini, ternyata baik Robb Stark maupun Justin Trudeau punya papah yang lumayan berpengaruh dan “sempat menguasai pasar”. Dua tokoh ini sama-sama pernah dikucilkan karena dianggap hanya mendompleng nama besar orang tua dan tidak memiliki kualifikasi terutama dalam urusan politik. Namun pada akhirnya dua tokoh ini sanggup memenangkan hati banyak orang. Semoga Trudeau ga berakhir tragis seperti Robb ya…Amit-amit.

 

Daenerys Targaryen?

Setelah ada beberapa tokoh yang terkesan mirip dengan alur cerita GoT saya pun jadi berimajinasi tentang tokoh-tokoh lainnya dan men-“cocoklogi”-kannya dengan kondisi politik Amerika. Sayangnya cocoklogi ini dibatasi oleh lemahnya pengetahuan saya tentang politik Amerika dan dunia. Mungkin kalau saya orang Amerika saya bisa menerka-nerka siapa kiranya Peter Baelish dalam kasus ini…

Lalu,
Apakah Barney Sanders adalah Mace Tyrell atau justru Hillary Clinton adalah Olenna Tyrell?
Apakah Khal Drogo mewakili pangeran Arab  padang pasir yang kaya tapi yaudah si gitu doang….(?)
Apakah Tywin adalah Putyn? *sengaja typo*

Dan yang tak ketinggalan, siapakah gerangan Daenerys?

Daenerys dalam GoT digambarkan sebagai sosok pemimpin perempuan berambut perak dan mengendarai naga. Kalau menurut analisis kesotoyan cocoklogi saya, di satu dan lain hal Daenerys ini “mirip” dengan Ratu Elizabeth. Sama-sama wanita yang memimpin, sama-sama berambut silver dan sama-sama “terbuang”. Daenerys terbuang dari Westeros, Ratu Elizabeth dan Inggris “terbuang” dari Uni-Eropa karena Brexit-nya. Sementara Naga bagi saya identik dengan China dan Shenlong. Memang sih dari segi anatomi naga yang ditampilkan berbeda, naga GoT berbentuk kadal raksasa bersayap sementara naga China berbentuk ular terbang. Tapi toh sama-sama naga kan?

China yang selama ini diam saja sama seperti naga GoT yang dianggap sudah punah. Sekarang Sang Naga sudah tumbuh besar dan siap menguasai Essos bahkan Westeros. Ekspansi China di Asia sudah tidak diragukan lagi keagresifannya, namun akankah China bekerja sama dengan Inggris untuk menguasai negara barat?

Dan pertanyaan selanjutnya adalah:
Siapakah tokoh GoT lain yang kiranya pantas kita cocoklogi-kan dengan kondisi Amerika terkini?

つづく

Rasanya masih belum ada yang bisa menggeser kedudukan Photoshop sebagai graphic design software yang paling sering dipakai. Memang sih, sejak Adobe mengeluarkan seri CC dengan model bisnis berlanggan, produk keluaran Adobe jadi lebih “terjangkau” dibandingkan seri sebelumnya yang satu software-nya saja bisa belasan juta.

Nah, sebagai alternatif dari Photoshop & Illustrator hadirlah Affinity Designer. Cukup sekali bayar kita sudah bisa memiliki software ini secara full dengan harga yang tidak terlalu mencekik.

Affinity Designer : First Impression 

Pertama kali saya tahu Affinity Designer karena ada teman yang share video introduction-nya Affinity Designer di timeline Facebook saya. Videonya beneran bikin ngiler designer! Waktu itu saya cuma bisa gigit jari karena Affinity hanya tersedia untuk Mac. Untungnya sekarang Affinity sudah tersedia untuk Windows, yay!

Affinity Designer : Interface

Untuk kamu yang sudah terbiasa dengan Photoshop, maka interface dari Affinity Designer ini harusnya cukup mudah dimengerti. Selain itu shortcut-nya juga mirip dengan Photoshop. Yang paling mencolok adalah adanya fitur Persona, yang mana jika diklik maka interface-nya akan berubah sesuai dengan persona yang dipilih. 

Berikut tampilan interface untuk mode ‘Draw Persona‘, cukup familiar bukan?

Tampilan Interface Affinity Designer untuk mode ‘Draw Persona’

Seperti yang saya bilang, dari segi layout si Affinity Designer ini cukup mirip dengan Photoshop. Mulai dari penempatan Menu Bar (File, Edit, Text, dll pada bagian atas), Options Bar yang memuat pilihan 3 Persona : Draw Persona, Pixel Persona & Export Persona. Ada juga tombol editing standar ala Microsoft Office, seperti Move Object Front/Back , Flip/Rotate Object. Dan juga tombol Add, Subtract, Intersect, dll untuk mengolah beberapa shape, seperti menggabungkan beberapa shape jadi satu, membuat irisan objek dlsb yang juga bisa kita temukan pada Adobe Illustrator. Tak ketinggalan penempatan Tools Panel di sisi kiri layar dan Docked Panels di sisi kanan layar. Selain itu, (masih mirip dengan Photoshop) ada beberapa tombol di bagian Tools Panel yang memiliki panah kecil di sisi kanan bawah tombolnya yang menandakan masih adanya pilihan lain dari fungsi tombol itu. Fungsi-fungsi lainnya ini bisa kita akses dengan mengklik kiri cukup lama atau klik kanan pada tombol yang memiliki panah kecil tersebut.

 

Perlukah Saya Membeli Affinity Designer?

Sebelum memutuskan apakah Affinity Designer ini cocok untuk kamu, maka ada hal yang harus kamu perhatikan.
Yang paling menentukan adalah kecenderungan penggunaan Photoshop. Jika kamu menggunakan Photoshop untuk mengedit foto, maka Affinity Designer ini kurang cocok untuk kamu. Namun demikian, Affinity mengeluarkan varian lain yaitu Affinity Photo sebagai software untuk mengedit foto.

Tapi jika kamu menggunakan Photoshop untuk membuat ilustrasi digital, maka Affinity Designer ini pilihan yang bisa kamu pertimbangkan. Cukup satu kali bayar kamu bisa mendapatkan software yang menggabungan tools esensial Photoshop dan Illustrator sekaligus. Software ini dibanderol seharga $39.99 atau sekitar 540 ribuan kalau dirupiah-kan (untuk Windows). Dan itu berlaku selamanya dan juga free updates! Jelas lebih murah dibandingkan produk Adobe CC yang 400ribuan (all-app)/bulan atau 196ribu (single app)/bulan. Asal jangan dibandingin dengan software bajakan aja 😛 .

Tertarik untuk mencoba atau membeli Affinity Designer ini?

Kamu bisa beli Affinity Designer dengan mengklik tautan berikut : https://affinity.store/en-us/

Atau pelajari lebih lengkap tentang fitur Affinity Designer di sini : https://affinity.serif.com/en-us/designer/

1 2 3 4 Page 1 of 4

Search stories by typing keyword and hit enter to begin searching.