Ego is The Enemy by Ryan Holiday (Review Buku)

Ego is The Enemy adalah salah satu buku self improvement karya Ryan Holiday yang bercerita tentang ego (lah ya iya, dari judulnya juga udah ketauan sih pik). Ego dapat muncul ketika kita belajar, bekerja, bahkan ketika kita sukses. Ego muncul seakan-akan dia adalah hal “natural” ketika terjadi, yang seringkali kita dampingi bersama “pembenaran-pembenaran”. Menyerah untuk mengendalikan ego sama artinya dengan menabur masalah dan memanennya di kemudian hari.

Kisah lama

Hal yang paling saya sukai dari buku ini mungkin lebih ke mindset yang sama dalam menyikapi kesuksesan. Kita sama-sama pernah menganggap bahwa kesuksesan adalah segala macam hal dimana seolah-olah dunia bergerak mengikuti apa yang kita mau dan kita merasa pantas, “You are awesome, you deserve better!” they said. Singkatnya, kita merasa pantas untuk naik gaji, pantas untuk lebih dicintai dsb dsb.

Hal ini mengingatkan saya ketika masa-masa saya resign kantoran karena gaji. Well, sebenarnya dibilang karena gaji kurang tepat sih, lebih tepatnya karena gengsi. Ketika perpanjangan kontrak saya meminta tambahan gaji yang mana secara persentase angka tersebut sebenarnya terlalu besar. Alasan saya sederhana : dengan job desc yang sama (bahkan saya notabene lebih banyak), gaji saya lebih rendah dari si X. Saking sebalnya membandingkan diri dengan si X, saya bahkan rela gaji saya gak dinaikin asal gaji si X diturunin setara atau lebih rendah dari saya.

I was so cruel.

Sebenarnya masalah perbedaan gaji ini sudah saya ketahui sejak lama, tapi saya pikir memang perlu momen khusus untuk menyampaikannya dan masa perpanjangan kontrak adalah momen yang saya pikir pas. Long story short, permohonan saya ditolak. Perusahaan tidak mengabulkan permintaan saya karena dianggap kenaikannya tidak realistis, dan ga ada ceritanya perusahaan nurunin gaji orang.

That was my ego story.

“Kepercayaan diri menjadi kesombongan, ketegasan menjadi keras kepala, dan keyakinan menjadi ketidakpedulian”.

Cyril Connoly

Contoh Kasus dan Sentuhan personal Ryan Holiday

Buku ini juga banyak mengambil contoh dan insight dari filsafat-filsafat Stoa. Hal ini akan kentara sekali karena memang Ryan tampak sangat mendalami dan mengagumi filsafat-filsafat Stoa tersebut. Banyak juga contoh-contoh tentang “manusia sukses” versi Ryan yang diceritakan dalam buku ini. Meskipun demikian, terdapat bagian dari buku ini mengisahkan tentang perjuangan Ryan menghadapi ego-nya sendiri yang menjadikan buku ini juga memiliki sentuhan personal.

Ryan dianggap sebagai anak muda cemerlang dengan karir yang melesat di umurnya yang cukup muda itu. Dia melihat perusahaan tempat dia bernaung menjadi besar dan bahkan menguasai pasar namun juga melihat keruntuhannya. Dia juga harus mengalami kehilangan mentor-mentornya, dan kemudian menyadari apa-apa yang dia peroleh entah mengapa hilang begitu saja. Namun, kejadian-kejadian tersebut membuat Ryan menyadari bahwa syair kesuksesan yang umum diperdendangkan orang-orang tentang karir, kekayaan dan ketenaran adalah fana, adalah bagian menarik dari buku ini.

Ego is My Enemy

Kembali ke kisah saya. Keputusan saya untuk resign mungkin bagi orang terdengar sangat dangkal. Sejujurnya perkara si X sering membuat masalah di kantor bukanlah urusan saya dan tidak berdampak langsung kepada pekerjaan saya. Saya tetap mendapat gaji, pekerjaan saya juga tetap begitu-begitu saja. Namun, ketika mendengar perusahaan mendapat masalah karena si X, saya selalu berpikir dalam hati “Wow, company paying this person higher than me, someone who seems made more troubles than profit.” Dan mungkin pemikiran itu terus muncul dan menggunung sehingga tertimbun dalam hati dan menjadi racun. Racun yang saya pikir adalah sebentuk gengsi & ego. Dan ketika “racun” itu dikeluarkan, saya tidak mendapatkan “penawar” yang pas.

Ketika saya sudah mengeluarkan unek-unek dan perusahaan tidak mengabulkan, hari-hari kantor saya terasa semakin berat. Muncul “secuil” perasaan untuk ogah-ogahan, untuk bikin masalah, because it seems doesn’t matter if you make troubles or make profit.

Padahal kenyataannya, it’s matter. A lot. Bukan hanya untuk perusahaan, namun yang terutama adalah untuk diri kita sendiri. Saya merasa pantas untuk dihargai lebih dari X karena kontribusi & performa kerja saya. Namun di saat yang sama, saya telah kalah dengan ego saya, dengan gengsi saya.

Profesionalisme ga bisa didefinisikan dengan mood, kita bekerja baik adalah untuk mendefinisikan kita. Bahwa kita profesional, kita bertanggung jawab. Still, dalam hati memang terasa semangat kerja itu sudah layu. Begitulah, saya memutuskan untuk resign, untuk meninggalkan diri saya yang mulai dikuasai rasa toxic itu.

Kesuksesan yang sebenarnya bukan tentang diri kita

Bagaimana Ryan menambahkan ceritanya sendiri sehingga menjadikan buku Ego is The Enemy ini sedikit personal, saya harap cerita tentang saya bisa seperti itu juga : menambah unsur personal di blog post ini. Hikmah dari cerita saya yang bisa saya petik sendiri yaitu bahwasannya saya harus mengakui bahwa kendali ego saya tidak sekuat itu. Saya (pada saat itu) tidak bisa untuk ikhlas dan rendah diri, alih-alih saya meninggalkan arena dan memutuskan untuk memulai lembaran baru. Berkaca dari itu muncul perasaan apakah saat ini saya sudah bisa lebih rendah diri? Kita tidak tau, karena ujian dan pembuktian akan hal ini mungkin akan muncul tiba-tiba entah kapan.

Ego is The Enemy, karena musuh terbesar kita di dunia ini adalah diri kita sendiri. Saya sepakat dengan Ryan bahwa kesuksesan bukan seberapa hebat karir kita, seberapa terkenal kita, seberapa kaya kita. Kesuksesan yang sebenarnya adalah bagaimana menempatkan diri kita sebagai supporting role terbaik buat orang-orang. Orang-orang di belakang layar yang bagi orang-orang yang berada di depan layar tau bahwa tanpanya pertunjukan tidak akan berhasil dengan gemilang. Seandainya pun dia harus tampil di depan layar, itu bukan karena keinginan untuk tampil atau terkenal, melainkan itulah hal yang dirasakan perlu agar dapat membantu orang dengan maksimal, kalau dia bisa memilih di belakang layar dia akan memilih untuk ada di belakang layar karena kesederhanaannya. Orang-orang sukses ini tidak terdeteksi, bahkan terlihat “plain“, tidak mencolok, namun mengerti betul hal-hal yang esensial. Urusan dirinya adalah perkara gampang, sehingga dia bisa memfokuskan energinya untuk orang lain.

Kesimpulan

Sepertinya akan mudah ditebak bahwa pada akhirnya saya akan merekomendasikan buku ini. Buku ini adalah sebuah pengingat bahwa kehidupan yang serba aku, self-love yang berlebihan, pada akhirnya hanya akan berujung pada sebuah kehampaan. Kehampaan yang mungkin baru akan kita pahami setelah kita sampai kepada puncak “kesuksesan” seperti standar orang-orang : kekayaan, ketenaran dan kekuasaan.

Saya baca versi Bahasa Indonesia dan sudah tersedia di Gramedia.
Untuk versi asli dalam bahasa Inggris juga tersedia di Periplus.

Selamat membaca!

Salam hangat,

vike sig

Vriske Rusniko

Share

this:

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest

Tinggalkan Balasan