Efek-Efek Media

mac

Sejujurnya mengamati masyarakat begitu reaktif terhadap berita di media membuat saya agak sedikit capek juga melihatnya. Bukan masalah pro-kontra tapi lebih kepada reaksi itu sendiri yang dirasa berlebihan baik dalam menyampaikan kesetujuan atau ketidaksetujuan. Rasanya tidak ada salahnya menekan tombol “pause” sebelum kita benar-benar meledakkan emosi atau pemikiran kita terhadap berita tersebut alias over-reactive. Tombol “pause” itu berfungsi agar reaksi kita tidak semata-mata mengedepankan emosi, namun juga memberi waktu untuk menyiapkan reaksi yang lebih baik dengan cara yang lebih bijak.

Kadang saya merasa bersyukur mengambil S2 di bidang Digital Media, sebab ilmu-ilmu yang diperoleh tentang per-media-an itu sendiri membantu saya menekan tombol “pause” diri saya sendiri terhadap konten-konten yang tersedia. Mungkin dengan semakin terbukanya pengetahuan kita tentang efek-efek yang menempel pada media memberikan kebijaksanaan bagi bagaimana merespon efek tersebut.

Jadi, apa saja efek-efek yang dapat diakibatkan media? Berikut penjabarannya

Reaksi Kolektif / Kepanikan Moral

Media memiliki efek memunculkan kecemasan yang tidak berdasar tentang berbagai isu. Seperti : Hukum, politik, kesehatan, tatanan publik, dlsb. Reaksi kolektif juga memberikan efek dalam penentuan atensi masyarakat.

Misalnya kasus vaksin palsu. Kasus vaksin palsu membuat masyarakat tidak percaya kepada institusi pemerintah seperti Dinas Kesehatan dan BPOM atas persebaran vaksin dan obat yang beredar di masyarakat dan juga pada rumah sakit. Ketika isu ini berlangsung maka atensi masyarakat akan berfokus pada pihak-pihak terkait tersebut.

Perubahan Sikap

Media sanggup memodifikasi sikap seseorang terhadap orang lain.

Contohnya adalah jika ada status facebook A (yang dalam hal ini facebook sebagai media) direspon secara offensive (menyerang) oleh si B padahal mereka dalam kehidupan sehari-hari baik-baik saja dan tidak ada masalah. Sikap offensive B dapat merubah sikap A terhadap B, begitupun sebaliknya.

Perubahan Kognitif

Media memiliki efek mengubah cara orang berpikir, cara orang menilai berbagai hal bahkan memodifikasi kepercayaan-kepercayaan.

Contohnya : kepercayaan bahwa perempuan berkulit putih itu lebih cantik daripada warna kulit lainnya. Cara berpikir dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tercipta suatu stigma bahwa berkulit gelap membuat perempuan terlihat “lebih kusam” daripada wanita berkulit putih.

Tanggapan Emosional/Reaksi Personal

Merupakan bagian yang lebih kecil dari reaksi kolektif. Singkatnya, kumpulan reaksi-reaksi personal yang sama akan membentuk suatu reaksi kolektif.

Penetapan Agenda

Media memiliki efek menetapkan agenda topik-topik yang penting.

Penetapan agenda ini mengajak bahkan cenderung memaksa masyarakat untuk mengikuti agenda tersebut, dan bahwa hal ini lah saat ini yang layak menjadi fokus kita semua.

Sosialisasi

Media memiliki efek mensosialisasikan kepada kita berbagai norma, nilai dan prilaku yang diterima dalam masyarakat kita. Contoh : Sosialisasi pengurangan penggunaan kantong plastik sebagai upaya melindungi alam/lingkungan.

Kontrol Sosial

Media memiliki efek mengontrol audiens dengan mengemukakan berbagai argumen yang menyokong konsensus, hukum, tatanan dengan menekankan, mempertanyakan serta mempertemukan berbagai argumen tersebut sesuai dengan cara-cara masyarakat beroperasi.

Hal ini maksudnya lebih kurang adalah pernyataan atau argumen-argumen tersebut dipaparkan dalam bahasa yang jelas yang dapat dimengerti masyarakat. Contohnya adalah talkshow yang mempertemukan berbagai kubu dan ahli sehingga didapat gambaran yang lebih jelas dari berbagai pihak. Contoh lebih spesifik lagi adalah acara ‘Mata Najwa’ di Metro TV 😀

Mendefinisikan Realitas

Media mendefinisikan realitas sosial, yaitu apa yang kita anggap sebagai nyata, normal dan memang semestinya.

Seperti misalnya Borobudur sebagai salah satu kebanggaan Indonesia yang sepatutnya dijaga dan dirawat. Borobudur kaya akan aspek historis, dan merupakan artefak penting bagi peradaban manusia dan sekaligus tempat keramat bagi umat Budha. Realitas yang dibangun adalah bahwa Borobudur itu penting dan harus dijaga karena faktor-faktor yang saya sebutkan di atas tadi. Hal ini akan kacau jika dikaitkan dengan sentimen bahwa Indonesia adalah negara mayoritas muslim dan Borobudur adalah tempat berhala maka harus dimusnahkan. Justru Borobudur adalah salah satu simbol bahwa Indonesia haruslah memiliki toleransi antar umat beragama karena itulah yang membuat kita kaya sebagai bangsa.
Di sinilah peran media untuk membangun kesadaran tentang realitas Indonesia sebagai bangsa yang ber-Bhineka dan Borobudur sebagai aset penting negara.

Penyokong Ideologi Dominan

Media memiliki efek menyokong pandangan dominan bagaimana suatu hal sepatutnya dijalankan. Maksud ‘Dominan’ dalam hal ini adalah sangat erat dengan penguasa.

Mirip seperti mendefinisikan realitas, tapi lebih ke arah norma/sikap. Media harus mematuhi perintah-perintah yang dianggap penting oleh penguasa yang memiliki tujuan prilaku tertentu. Contoh: proses sensor yang bertujuan melindungi pandangan masyarakat dari sesuatu yang dianggap mengundang berahi, pornografi & pornoaksi. Meskipun dalam prakteknya sering sekali absurd, ini adalah contoh bahwa stasiun televisi tetap menyokong “ideologi” tersebut, yang mana dalam hal ini penguasa adalah lembaga sensor yang berhak mencabut hak tayang suatu acara atau bahkan stasiun televisi yang melanggar.

Sumber: ‘Yang Tersembunyi di Balik Media’ oleh Greame Burton. 2008.

bertemu-klien

Kalau dulu saya pernah bercerita tentang pentingnya kesepakatan awal ketika memulai project. Sekarang saya ingin sharing tentang proses sebelum kita membahas kesepakatan itu. Kan gak enak aja kalau klien datang lalu langsung kita sodori S&K (Syarat dan Ketentuan) kalau mau kerja dengan kita harus begini-begini-begitu. Pasti ada sesi ngobrol dulu untuk membahas sebenarnya seperti apa sih project yang kita hadapi. Untuk ngobrol mengenai project ini juga ada tahapan-tahapannya, jangan langsung nyerocos tentang sulitnya ini-itu blabla atau bahkan sebaliknya “iyaa iyaa beress gampaaaang”.

Mengenal Proyek Klien : Konsep, Tujuan, Target Market, Highlight

Seringkali klien itu sebenarnya tidak tahu apa yang mereka hadapi. Mereka taunya ya sekadar jadi saja, misalnya : “Saya baru buka restoran, restoran Italia gitu…Saya butuh desain brosur”. Request yang standar dan familiar ya? Kita mungkin bisa kebayang membuat desain dengan warna-warna khas Italia: merah, cokelat, kuning, hijau. Lalu apa setelah dengar permintaan itu kita langsung mengiyakan? Di masa-masa awal inilah adalah kesempatan kita untuk menggali kebutuhan klien lebih lanjut karena mereka dalam kondisi siap menghadapi kita (percayalah bahwa kondisi klien yang siap/tidak siap untuk mengobrol itu bisa berefek dalam proses produksi dan berguna dalam penyamarataan persepsi plus saat yang tepat juga buat edukasi desain).

Untuk kasus restoran Italia itu kita mulai dengan bertanya konsep dari restorannya itu sendiri seperti apa. Apakah klasik, funky, modern, minimalis, dlsb. Tujuannya supaya desain kita memang mencerminkan restoran itu dan nyambung. Jika klien sulit untuk mendeskripsikan, mintalah mereka untuk menunjukkan foto-foto restoran. Tanya juga apa yang diharapkan klien tersebut dari brosur ini, ini akan menjadi panduan kita untuk menentukan highlight. Kalau hanya sekadar pengen “ya biar orang bisa tau kita buka restoran”  maka sebaiknya kita gali lagi kebutuhan klien tersebut. Bukan apa-apa, design yang bagus adalah design yang memiliki impact. Mungkin bisa ditonjolkan discount promo, menu favorit (misalnya pizza yang dengan keju meluber-luber sebagai highlight brosur), atau tempat yang cozy, dlsb. Ketika orang melihat brosur maka audience hanya perlu 1 detik untuk melihat apa yang paling menonjol dari brosur tersebut, baru kemudian menyisir info-info lainnya. Highlight berfungsi menjadi attention seeker di sini.

Masalah yang biasanya timbul: 

Klien tidak tau apa yang harus jadi highlight. Klien merasa semua hal harus jadi sorotan, ya interior, ya menu, dlsb. Sehingga tidak ada hal yang menjadi fokus. Padahal otak kita tidak bekerja seperti itu, otak kita akan lebih mudah mengenali sesuatu yang “berbeda” dibanding lainnya atau kita sebut saja “kontras”, “fokus” atau dalam artikel ini saya sebut “highlight” tadi. Klien seperti ini akan mengarah pada dua kemungkinan : Klien yang pasrah apa adanya dan membiarkan kita berkreasi (yay~), atau client from hell yang pas ditanya ga bisa dijawab, tapi ketika disodori hasil bilangnya “kok saya ga suka ya, ini ga seperti yang saya bayangkan. Saya ga tau salahnya dimana tapi saya tau bukan ini yang saya mau”. Makanya, menggali info di awal adalah modal kita para designer, selain sebagai guidelines kerja, juga sebagai tameng kalau dicecar komentar pedas tak berdasar dari klien.

Masalah lainnya yang mungkin timbul adalah bercampurnya selera pribadi klien dengan target market. Untuk masalah ini maka dituntut pengetahuan desainer tentang target market untuk meyakinkan klien. Kadang dari klien suka muncul ide-ide aneh yang cukup didengarkan dengan hormat tapi tak perlu dilakukan karena mencemari desain kita. Misalnya: Klien minta tulisannya dibuat 3D pelangi ala-ala wordart powerpoint supaya brosurnya mencolok. Iya, brosurnya sih mencolok, tapi balik lagi ke tujuan brosurnya, apa dengan brosur yang mencolok orang-orang jadi tertarik datang ke restoran lo? Engga gitu juga kan….

Memberitahu Proses Bekerja

Setelah selesai membahas tentang konsep, tujuan, target market, highlight dan sebagainya itu, ceritakan tentang proses kerja kita. Mulai dari persiapan bahan, kemungkinan penggunaan source berbayar, waktu pengerjaan, dlsb. Oiya, kita harus menyampaikan juga masalah tentang hak cipta. Soalnya di Indonesia masih rendah banget pengetahuan penggunaan hak cipta, jadi kesannya apa yang ada di google boleh dipake. Memang ada konten-konten gratis yang bisa dipakai, tapi mencarinya juga butuh waktu. Biasanya saya kembalikan lagi resikonya kepada klien kalau semisal mau menggunakan konten-konten yang gak jelas hak ciptanya.

Memastikan PIC (Person In Charge)

Sering kali tawaran yang masuk ke saya adalah dari rekomendasi teman. Jadi ada teman yang tau saya designer, trus nawarin proyek A, saya mau apa engga? Nah, yang sering kebablasan adalah kita jadi koordinasinya sama teman kita itu. Sebaiknya, hindari “klien ber-layer” seperti itu. Cari tau siapa yang benar-benar merupakan PIC dari proyek ini untuk mengurangi bias. Meskipun teman kita yang menawarkan dan ngobrolnya lebih enak, tanyakan siapa PIC yang sebenarnya, karena itulah sebenar-benarnya klien kita (teman kita bisa bantu juga untuk menengahi pemikiran karena kenal kedua belah pihak).

Untuk ilustrasi kasus kira-kira begini : Kita diminta buat brosur, spesifikasi ABCD, trus jadi, kita kirim, lalu kemudian datang jawaban “bentar ya, di ACC boss gue dulu”. Lalu kemudian, “Boss gw minta diubah ini-itu ini-itu”. Laah rempong kan.

Semenjak dulu masih ngantor hal ini juga pernah terjadi, saya lapor sama senior, eh ternyata harus revisi ini-itu sesuai selera dia, pas dia suka trus dilanjutkan ke bos, eh bosnya ga suka. Pas akhirnya pak bos nyamperin, ehhh sukanya sama desain yang pertama……Duhh rasanya seperti banyak waktu dan energi yang kebuang. Ya gak sih?

Kesimpulan?

Jika kita simpulkan dengan list mungkin kira-kira seperti berikut:

  1. Pastikan tujuan dari proyek (untuk menentukan fokus/highlight).
  2. Kenali konsep, target market, impact yang diharapkan dapat timbul dari desain kita.
  3. Menyiapkan outline rencana kerja, termasuk memprediksikan kendala-kendala yang mungkin akan dialami saat bekerja (tapi jangan sampai nakut-nakutin klien juga).
  4. Memastikan PIC dan komitmen klien agar pekerjaan berjalan lancar (misalnya: klien merespon ketika kita hubungi, memberikan aset sesuai waktu yang ditentukan, fokus pada kesepakatan awal).
  5. Setelah mengetahui aspek-aspek yang perlu kita ketahui, kita bisa memutuskan untuk menerima/menolak proyek.
  6. Jika lanjut, buatlah kesepakatan sebelum proyek tersebut dimulai.

Yah, ini sharing aja sih… Menurut kamu bagaimana?

cabut gigi

Akhirnya satu lagi PR per-gigi-an tuntas (biarpun belum tuntas-tuntas amat karena masih harus cabut jahitan minggu depan), yaitu cabut wisdom tooth alias gigi geraham bungsu. Kali ini saya ingin sharing tentang pengalaman operasi cabut geraham bungsu di USU.

Bukan Operasi yang Pertama

Sebelumnya saya juga pernah melakukan operasi geraham bungsu waktu masih muda dulu (cailah masi mudaaa~). Seingat saya sih gak sakit-sakit amat…Makanya akhirnya ketika harus operasi geraham bungsu lagi saya ingin dengan dokter gigi yang sama yaitu Drg. Edy Ketaren. Saya pun operasinya ditempat yang sama dengan yang pertama, yaitu di ruang praktek bedah mulut Universitas Sumatera Utara (USU).

Ketika saya datang dan masuk, ternyata Drg.Edy sudah ada di tempat tapi masih menindak operasi, jadilah saya harus menunggu terlebih dahulu. Selagi menunggu, saya sempatkan membaca e-book di hp dan bermain candy crush soda saga. Saya menunggu sekitar 45 menit dari waktu kesepakatan awal yaitu 8.30 pagi. Sekitar 20 menit-an ketika menunggu, tak sengaja saya mengamati 2 mbak-mbak hijab fashionista yang mondar-mandir depan ruang praktek bedah, berhubung kita hidup di Medan yang mana kalau orang ngobrol bisa kedengeran satu kampung, sepertinya salah satu mbaknya berniat operasi bedah mulut juga…Lalu kemudian ada ibu-ibu dari dalam memanggil mbak-mbak tersebut dan mbak-mbak itu ikut masuk ke dalam dan gak keluar-keluar lagi…
Laaah? ini gue kesalip apa gimana nih???

Ternyata Ga Kesalip

Sepanjang menunggu memang sih kita jadi suka curiga-curiga gitu sama pasien-pasien umum yang berkeliaran di sekitaran ruang praktek bedah. Apalagi kalau orangnya ga kontak sama mahasiswa, trus masuk dan ga keluar-keluar lagi…Kalau sempat kontak sama mahasiswa biasanya tandanya doi adalah pasien mahasiswa tersebut, tapi kalau tidak bisa diduga yang dia cari adalah dokter/dosen senior. Hmm….

Tapi pikiran itu berusaha saya tepis karena kan suudzon itu ga baik. Jadinya saya mengalihkan perhatian dengan lanjut membaca saja.

Nah, selain mbak-mbak hijab fashionista tadi, sempat ada bapak-bapak berpenampilan apik dan trendy dengan wireless earphone masuk ke ruang praktek bedah. Terlihat sehat sebetulnya, tapi masalah gigi mah siapa yang tau ya? Lagi-lagi si Bapak ini pun ga keluar-keluar….Saya pun mulai ngintip-ngintip apa perlu harus proaktif atau gimana gitu? Soalnya memang di USU ini ga ada nomor antrian atau semacamnya, jadi seperti menunggu tanpa kejelasan.

Lalu kemudian ada bapak-bapak lainnya yang masuk menggotong kursi roda. Ketika kursi roda itu keluar, kursi roda itu diduduki oleh ibu-ibu yang sudah tua dan didampingi oleh si bapak apik trendy (+wireless earphone) tadi. Muka ibunya sudah kuyu, mungkin menahan sakit ketika dioperasi, mulutnya menggigit kapas dan kelihatan lemas sekali. Melihat adegan itu tiba-tiba saya pun jadi ketar-ketir…..

Saya menduga ibu itu adalah pasien yang sedang ditindak Drg.Edy ketika saya datang. Prediksi saya harusnya setelah ini giliran saya, namun nama saya tak kunjung dipanggil juga. Wah jangan-jangan beneran disalip si mbak-mbak hijab fashionista tadi? Tapi apa mungkin antriannya ganti-ganti ya, pasien Drg. Edy dulu, baru pasiennya ibu-ibu dokter tadi, baru kemudian saya? Ya, ya bisa jadi…
Saya lanjut menunggu dan tak lama kemudian nama saya dipanggil.

Ketika di dalam ruangan, saya disuruh masuk ke ruangan yang ada di sebelah kiri, namun saya sempat mengintip ruangan sebelah kanan dan melihat mbak-mbak hijab fashionista itu ada di dalamnya. Doi terlihat sedang mengobrol dan air mukanya tampak cemas. Ohh, ternyata saya tidak disalip toh. Mungkin si mbaknya mau konsultasi dulu dan menyiapkan mental.

Proses Operasi

Saya disuruh rebahan di meja (?) operasi dan kepala+mata saya dibalut kain. Bagi saya, ritual penutupan mata ini membuat hati saya semakin mencekam. Tapi ternyata selain supaya air atau cipratan-cipratan sesuatu ga kena mata, ternyata balutan kain itu melindungi pandangan kita dari lampu operasi yang supersilau. Akhirnya saya pun kembali tenang. Tak lama kemudian operasi pun dimulai….

Pertama-tama area sekitar mulut bagian luar dan dalam diberi betadine. Ketika dioles, dokternya sempat berujar, “Ini saya oles betadine dulu ya ke, maaf ni lipsticknya jadi kehapus” “Gapapa dok”. Saat itu saya megenakan lipstik purbasari matte #89 yang dioles tipis saja ke bibir (ah elah pik! ga penting juga keleus infonya!). Lalu kemudian saya jadi teringat mbak-mbak hijab fashionista tadi yang pakai lipstick tebel banget (at least keliatannya begitu) dan warnanya merah cabe jreng-jreng! Wah, kalau doi dioperasi dan dioles betadine juga lipsticknya bisa celemotan banget kayaknya yaa.

Lalu saya disuntik anestesi  di beberapa tempat termasuk di bagian pipi dalam. Rasanya senut-senut pediss gimana gitu, habis disuntik mulut pun terasa kebas. Selanjutnya saya lupa karena memang ga ngeliat dan mulut juga udah mati rasa, yang jelas kita pasti notice ketika suara bor berderum. Ketika bor berderum, saya jadi ingat Ganis yang ketika operasi geraham bungsu biusnya kurang jadi sakitnya minta ampun. Saya pun berdoa semoga anestesinya cukup dan ga perlu merasakan sakitnya dibor tanpa dibius. Dan Alhamdulillah ga kenapa-kenapa sih….Cuma rasanya, dibanding operasi terdahulu operasi yang sekarang lebih rumit karena giginya sudah jauh lebih besar. Bunyi bor yang seperti membelah keramik, dan tang yang narik-narik gigi serta penggunaan benang buat narik giginya (?) dan aktivitas ramai di dalam mulut membuat saya merasakan perasaan diobok-obok aneh ibarat pembawa acara mengaduk nomor undian di acara Gebyar BCA…
Setelah gigi berhasil dikeluarkan, kemudian dilakukan penjahitan. Saya entah mengapa takut kalau si lidah dan bibir ikut kejahit juga, soalnya si lidah ini kayak ngerasain sensasi “kesayat” benang. Ga sakit gimana gitu sih, cuma bikin berimajinasi ga enak saja.

Pasca-Operasi

Selesai sudah operasi. Setelah operasi, ibu dokter memperlihatkan gigi yang diambil tadi. Seperti yang saya duga, giginya gede dan untuk pengoperasiannya harus dipecah jadi 2 bagian(?). Si ibu bertanya, “Ini mau dibuang aja apa mau disimpan?” “Ih buang ajalah Bu!” kata saya spontan. Yakali mau dijadiin kalung kayak suku-suku pedalaman gitu….
Lalu kemudian saya pun diberi resep, membayar biaya bedah mulut dan pulang.

Sehabis operasi, tidak ada masalah berarti. Masalah muncul ketika perlahan-lahan anestesi habis. Saya hanya bisa berguling-guling seperti kucing kutuan. Peluk-peluk guling dan berusaha tidur selagi menunggu papa menjemput obat. Setelah minum obat, kembali berguling-guling ria dan berusaha tidur. Akhirnya ketiduran juga dan ketika bangun dunia sudah lebih baik 🙂

Rincian Biaya

  • Sebelum operasi, beberapa hari sebelumnya diharuskan mengambil foto rontgen gigi panoramic. Saya melakukan foto panoramic di RS. Bunda Thamrin di Jl. Sei Batanghari Medan. Biaya : Rp. 100,000 dan hasilnya langsung jadi.
  • Operasi Geraham Bungsu di USU biayanya Rp. 1,5 juta/gigi. Ini tergolong murah atau standar murah setau saya.
  • Biaya resep obat : Dapat 3 obat untuk 3 hari dengan dosis 3x sehari. Biaya sekitar Rp. 186,000.

Saran saya sih, kalau ada masalah dengan kesehatan sebaiknya langsung diobati/ditindaklanjuti karena semakin ditunda bisa semakin kronis. Kalau sudah kronis otomatis biaya bisa lebih mahal.

Semoga bermanfaat ya!

 

Inktober 2016!

 

inktober

Halo Oktober!! Siap-siap Inktober 2016!

Setiap Oktober berarti waktunya InkTober! InkTober adalah sebuah tantangan dimana seorang artis (atau siapapun sih) menggambar menggunakan tinta sepanjang bulan Oktober. Nah, tahun ini saya menantang diri saya untuk ikutan InkTober 2016 ini karena saya sudah lama sekali tidak menggambar. Heu….

Sejarah InkTober

InkTober pertama kali diadakan pada tahun 2009 diprakasai oleh Jake Parker. Dia menginisiasi InkTober untuk meningkatkan skill-nya dan membangun kebiasan menggambar yang tentu saja bermanfaat bagi yang menjalani profesi keartisan seperti Jake.

InkTober Rules

Cara ikut InkTober sebenarnya gampang banget. Kamu cuma perlu pulpen/pena, kertas, niat dan komitmen. (Komitmen-nya ini loh!!). Lalu ada syarat-syarat lainnya, seperti:

  1. Buat gambar berbasis tinta (boleh menggunakan pensil sebagai base awal)
  2. Posting online ke sosial media yang kamu punya.
  3. Beri hashtag #inktober dan #inktober2016
  4. Ulangi keesokan harinya sampai akhir Oktober

Nah, gimana? Ingin ikutan InkTober 2016 juga? Yuk, ikutan InkTober bareng-bareng!

Postingan ini bakal saya update dengan karya InkTober yang berhasil saya bikin. Semoga berhasil menyelesaikan tantangan dengan baik entah berapapun itu. 

inktober-day-1

inktober-day-2inktober-day-3inktober-day-4inktober-day-6

 

watermark2

Tidak ada benar-salah antara membubuhkan watermark atau tidak. Baik di-watermark ataupun tidak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tergantung kepada preferensi kita.

Melalui postingan ini saya ingin sharing pendapat tentang penggunaan watermark dalam foto. Haruskah kita watermark foto kita? atau tidak perlu?

Alasan Mengapa di-Watermark

1. Credit Terlampir

Dengan menambahkan watermark otomatis kita membubuhkan credit pada foto kita sendiri. Banyak orang malas mencari sumber foto dan main asal pakai saja. Dengan membubuhkan watermark setidaknya kita memberi tanda pada hasil karya kita sehingga jika ada yang lupa memberi kredit, orang lain yang melihat tetap bisa mengetahui milik siapa foto/karya itu sebenarnya.

2. Sebagai Branding

Sama halnya dengan label pada pakaian. Memberikan watermark dapat mengesankan suatu branding tersendiri bagi pemiliknya.

3. Melindungi Foto/Image dari Pencurian Digital

Dengan era yang serba digital, foto/image yang diupload bisa dengan mudah diambil orang. Untuk melindungi foto dari pencurian, watermark dianggap sebagai langkah mudah perlindungan foto. Kenapa mudah? Karena sifatnya “menindih” foto, jadi bisa dibilang dapat dilakukan oleh software-software pengolah image digital, pun aplikasi untuk membuat watermark sudah banyak beredar di jagad maya tinggal kita pilih mana yang kita suka.

Alasan Mengapa Tidak Di-Watermark

mona-lisa

Sumber: photodoto.com

1. Watermark Membuat Foto/Image Menjadi Jelek

Apalagi kalau tidak diimbangi dengan kemampuan desain/tipografi yang baik. Watermark bisa terlihat kebesaran, terlalu kontras dengan foto, mengganggu objek foto karena desain watermark yang terlalu mencolok, font yang digunakan tidak sesuai, dlsb. Saya sendiri juga punya masalah dengan hal ini, watermark yang dulu saya anggap bagus dan kece badai ternyata setelah beberapa tahun kemudian ketika melihat lagi saya hanya bisa mengernyitkan kening….

2. Niat Mencuri Sudah Bulat

Jadi katakanlah kita meletakkan watermark cukup kecil untuk tidak mengganggu foto. Namun kalau memang di luaran sana si maling foto memang sudah berniat mencuri foto, maka watermark yang kecil itu bakal dengan mudah diedit sedemikian rupa sehingga seolah-olah watermark itu tidak pernah ada di sana. Apalagi kalau posisi watermark-nya di ujung yang hanya cukup dengan meng-crop saja sudah hilang. Makanya ada sentimen kalau mau buat watermark untuk melindungi foto buatlah segede-gede dosa di tengah foto sehingga susah diedit, atau dibuat seperti pattern yang menyebar di setiap sisi foto seperti sh*tterstock. Jadi mengingat hal itu, bagi sebagian orang berpikir buat apa membuang waktu membuat watermark yang beresiko menghancurkan komposisi foto? Kalau memang di luar sana sudah niat mencuri, percuma membuat watermark.


Nah, kalau kamu sendiri cenderung bagaimana? Kalau saya sih masih memilih memasang watermark, lebih kepada branding diri sih. Semoga kalau misalnya foto saya menyebar, ada yang cukup perhatian dengan fotografer/creator nya dan saya pun bisa terkenal. Hehe.

Oiya, konon katanya untuk perlindugan digital bisa juga dengan membubuhkan copyright di bagian EXIF foto, sehingga nama kita tersimpan sebagai metadata jadi tidak mengganggu si foto namun kita masih bisa mengklaim kepemilikan foto tersebut.

Kalau ada ide bagaimana cara melindungi karya digital dengan metode lainnya boleh dishare di kolom komentar ya 😉

diskusi

Sebagai freelancer yang sibuk mengais-ngais proyek, fee tinggi memang menarik, tapi tunggu dulu…tidak jarang ternyata fee yang kita anggap tinggi tadi ternyata malah underprice dengan spesifikasi yang diminta. Atau mungkin kamu pernah merasa seperti “ditipu” klien? Diberi request A dengan spesifikasi 1,2,3 ehh ditengah jalan revisi terus sehingga hasilnya jauh dari spesifikasi yang diminta ketika awal….

Sebenarnya, cerita-cerita naas tentang menghadapi klien bisa kita hindari dan minimalisir dengan membuat kesepakatan di awal kontrak sebelum proyek dilaksanakan. Dengan adanya kesepakatan, baik freelancer maupun klien memiliki koridor yang jelas akan apa yang dituju, timeline, work-pace, proses revisi, pembayaran, dlsb. Teruntuk freelancer pemula yang merasa butuh banget proyekan karena alasan minim porto, percayalah, ini adalah salah satu hal penting yang perlu kamu perhatikan sejak awal untuk membangun pola hidup freelance yang sehat kalau kamu memang mau jadi full-time freelancer.

Down Payment di Awal Proyek Freelance

Pasti sering dengar saran kalau freelancer sebaiknya meminta DP (Down Payment) di awal proyek. Hal ini sebenarnya bagian yang cukup sulit terutama kalau kita berhadapan dengan klien yang jarang berurusan dengan freelancer. Soalnya jujur saja, kalau dilihat dari sudut pandang klien, mereka akan mentransfer sejumlah uang yang mana hasilnya belum ada. Pasti ada rasa cemas kalau uang itu dibawa kabur begitu saja, si freelancer kabur ga bisa dihubungi dlsb. Saya sendiri cukup sering mendengar cerita ini bahkan kejadian ini dialami oleh teman baik saya sendiri saat menggunakan jasa freelancer untuk kebutuhan tesis-nya. Duh!

Namun sebagai freelancer ternyata kita memang sebaiknya meminta DP sebagai “uang modal” untuk kerja kita sampai tahap pelunasan. Bisa saja uang itu untuk biaya internet, beli stok kopi dlsb. Meminta DP juga membantu kita untuk menghindari client from hell sebagai bukti bahwa mereka serius menggarap proyek tersebut bersama kita dan sebagai “pertanda” bahwa mereka akan sanggup bayar ketika pekerjaan sudah selesai dan memberikan kesan tidak ada masalah dengan pembayaran asalkan pekerjaan dikerjakan dan diselesaikan dengan baik.

Tapi seperti yang saya sampaikan tadi, meminta DP tidak segampang menengadahkan tangan. Bagaimana supaya klien percaya dengan kita dan mau membayar DP nya sementara klien tersebut tidak kenal dengan kita? (Kalau kenal biasanya lebih mudah karena sudah ada bayangan bagaimana karakter kita). Salah satunya adalah dengan membuat kesepakatan awal ini. Dengan menyampaikan kesepakatan sebelum proyek dimulai, klien akan melihat bahwa kita cukup professional karena sudah mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi dalam proses pengerjaan proyek. Klien juga dapat menambahkan poinnya sendiri sehingga kesepakatan awal yang dibuat memang memberikan hasil win-win solution. Down Payment itu sendiri bisa juga menjadi tanda bahwa kerja sama antara freelancer dan klien telah dimulai.

Deadline & Proses Asistensi

Pertama-tama tanyakan kebutuhan klien, contoh: klien perlu brosur untuk dibagikan pada saat kelulusan siswa sekolah. Jadi jelas brosur harus jadi asumsikan 3 hari sebelum tanggal kelulusan karena brosur butuh diprint dlsb. Otomatis design harus jadi sebelum itu. Maka 5 hari sebelum hari kelulusan menjadi kesepakatan deadline bersama, dengan catatan bahan&informasi harus sudah masuk tanggal sekian sehinggga kalau bahan proyek terlambat masuk, maka deadline mundur sejumlah keterlambatan pengiriman bahan. Sebagai freelancer, tidak usah terlalu empati banget kalau klien kita butuh banget brosur tersebut pada tanggal yang telah ditentukan sementara si klien sendiri “bersantai-santai” mengirimkan bahan dan kemudian memforsir freelancer untuk bekerja mepet dan penuh tekanan. Yakinkan klien bahwa ini adalah pekerjaan estafet, yang mana waktu pengiriman bahan sangat mempengaruhi work flow pengerjaan. Kita berhak meminta pemunduran deadline jika memang keterlambatan ada di pihak klien. Hal ini perlu disampaikan di awal untuk meningkatkan awareness tanggung jawab masing-masing.

Dipertengahan proses kerja, pastikan klien memperoleh kesempatan untuk mengasistensi pekerjaan kita sesuai jumlah revisi yang kita tawarkan. Misalkan kita menawarkan 3 kali revisi, maka bagilah waktu kita menjadi 3 bagian dalam rentang waktu dari dimulainya pekerjaan sampai dengan deadline. Misal kita punya waktu sebulan (30 hari) untuk mengerjakan proyek, maka pada kesepakatan awal yakinkan klien bahwa klien sudah bisa “mengintip” hasilnya pada hari ke-10, sehingga bisa lihat apabila perlu direvisi. Waktu asistensi ini sebaiknya juga dimasukkan dalam kesepakatan awal, sehingga klien bisa siap dan menyediakan waktu pada hari itu untuk berdiskusi dengan kita. Hal ini juga dapat meningkatkan kepercayaan klien karena klien yakin bahwa proyeknya dikerjakan dan bisa memprediksi sudah berapa persen yang diselesaikan.

Batasi Revisi

Seperti halnya fashion, revisi ini juga tidak ada matinya kalau dituruti. Ketika klien minta revisi tiada batas (unlimited revision) biasanya lebih banyak mudharatnya dari pada berkahnya. Unlimited revision membuat klien dan freelancer memiliki spektrum yang terlalu luas untuk hasil akhir proyek. Misalnya, kita diminta membuat brosur untuk promosi bimbingan belajar. Spesifikasi awal yang diminta adalah brosur yang terlihat professional, lalu ditengah jalan pengen ganti jadi yang lebih fancy dan lebih meriah dengan alasan sasarannya adalah remaja, lalu kemudian minta ganti style lagi dengan yang lebih edgy dan SWAG karena trend remaja sekarang seperti itu. Belum lagi work flow yang terancam berantakan karena klien request ini-itu ditengah-tengah proses kerja seolah-olah request-nya itu seperti simsalabim bisa langsung ada tanpa perlu proses ini-itu dlsb. Maka, lebih baik tetapkan batas revisi di awal kerjasama sehingga kita bisa berfokus kepada hasil dan proses kerja tanpa terdistraksi kemungkinan-kemungkinan yang jumlahnya unlimited.


Nah, itulah kira-kira hal-hal yang bisa dipertimbangkan ketika membuat kesepakatan awal saat memulai proyek. Diskusi dengan klien untuk menambah poin-poin yang mereka rasa penting juga merupakan cara untuk membangun kepercayaan sekaligus mengenal klien. Kalau menurut kamu ada hal-hal lain yang perlu ditambahkan ketika membuat kesepakatan awal boleh dishare di kolom komentar ya 🙂

1 2 3 4 Page 4 of 4

Search stories by typing keyword and hit enter to begin searching.