Inktober 2016!

 

inktober

Halo Oktober!! Siap-siap Inktober 2016!

Setiap Oktober berarti waktunya InkTober! InkTober adalah sebuah tantangan dimana seorang artis (atau siapapun sih) menggambar menggunakan tinta sepanjang bulan Oktober. Nah, tahun ini saya menantang diri saya untuk ikutan InkTober 2016 ini karena saya sudah lama sekali tidak menggambar. Heu….

Sejarah InkTober

InkTober pertama kali diadakan pada tahun 2009 diprakasai oleh Jake Parker. Dia menginisiasi InkTober untuk meningkatkan skill-nya dan membangun kebiasan menggambar yang tentu saja bermanfaat bagi yang menjalani profesi keartisan seperti Jake.

InkTober Rules

Cara ikut InkTober sebenarnya gampang banget. Kamu cuma perlu pulpen/pena, kertas, niat dan komitmen. (Komitmen-nya ini loh!!). Lalu ada syarat-syarat lainnya, seperti:

  1. Buat gambar berbasis tinta (boleh menggunakan pensil sebagai base awal)
  2. Posting online ke sosial media yang kamu punya.
  3. Beri hashtag #inktober dan #inktober2016
  4. Ulangi keesokan harinya sampai akhir Oktober

Nah, gimana? Ingin ikutan InkTober 2016 juga? Yuk, ikutan InkTober bareng-bareng!

Postingan ini bakal saya update dengan karya InkTober yang berhasil saya bikin. Semoga berhasil menyelesaikan tantangan dengan baik entah berapapun itu. 

inktober-day-1

inktober-day-2inktober-day-3inktober-day-4inktober-day-6

 

watermark2

Tidak ada benar-salah antara membubuhkan watermark atau tidak. Baik di-watermark ataupun tidak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tergantung kepada preferensi kita.

Melalui postingan ini saya ingin sharing pendapat tentang penggunaan watermark dalam foto. Haruskah kita watermark foto kita? atau tidak perlu?

Alasan Mengapa di-Watermark

1. Credit Terlampir

Dengan menambahkan watermark otomatis kita membubuhkan credit pada foto kita sendiri. Banyak orang malas mencari sumber foto dan main asal pakai saja. Dengan membubuhkan watermark setidaknya kita memberi tanda pada hasil karya kita sehingga jika ada yang lupa memberi kredit, orang lain yang melihat tetap bisa mengetahui milik siapa foto/karya itu sebenarnya.

2. Sebagai Branding

Sama halnya dengan label pada pakaian. Memberikan watermark dapat mengesankan suatu branding tersendiri bagi pemiliknya.

3. Melindungi Foto/Image dari Pencurian Digital

Dengan era yang serba digital, foto/image yang diupload bisa dengan mudah diambil orang. Untuk melindungi foto dari pencurian, watermark dianggap sebagai langkah mudah perlindungan foto. Kenapa mudah? Karena sifatnya “menindih” foto, jadi bisa dibilang dapat dilakukan oleh software-software pengolah image digital, pun aplikasi untuk membuat watermark sudah banyak beredar di jagad maya tinggal kita pilih mana yang kita suka.

Alasan Mengapa Tidak Di-Watermark

mona-lisa

Sumber: photodoto.com

1. Watermark Membuat Foto/Image Menjadi Jelek

Apalagi kalau tidak diimbangi dengan kemampuan desain/tipografi yang baik. Watermark bisa terlihat kebesaran, terlalu kontras dengan foto, mengganggu objek foto karena desain watermark yang terlalu mencolok, font yang digunakan tidak sesuai, dlsb. Saya sendiri juga punya masalah dengan hal ini, watermark yang dulu saya anggap bagus dan kece badai ternyata setelah beberapa tahun kemudian ketika melihat lagi saya hanya bisa mengernyitkan kening….

2. Niat Mencuri Sudah Bulat

Jadi katakanlah kita meletakkan watermark cukup kecil untuk tidak mengganggu foto. Namun kalau memang di luaran sana si maling foto memang sudah berniat mencuri foto, maka watermark yang kecil itu bakal dengan mudah diedit sedemikian rupa sehingga seolah-olah watermark itu tidak pernah ada di sana. Apalagi kalau posisi watermark-nya di ujung yang hanya cukup dengan meng-crop saja sudah hilang. Makanya ada sentimen kalau mau buat watermark untuk melindungi foto buatlah segede-gede dosa di tengah foto sehingga susah diedit, atau dibuat seperti pattern yang menyebar di setiap sisi foto seperti sh*tterstock. Jadi mengingat hal itu, bagi sebagian orang berpikir buat apa membuang waktu membuat watermark yang beresiko menghancurkan komposisi foto? Kalau memang di luar sana sudah niat mencuri, percuma membuat watermark.


Nah, kalau kamu sendiri cenderung bagaimana? Kalau saya sih masih memilih memasang watermark, lebih kepada branding diri sih. Semoga kalau misalnya foto saya menyebar, ada yang cukup perhatian dengan fotografer/creator nya dan saya pun bisa terkenal. Hehe.

Oiya, konon katanya untuk perlindugan digital bisa juga dengan membubuhkan copyright di bagian EXIF foto, sehingga nama kita tersimpan sebagai metadata jadi tidak mengganggu si foto namun kita masih bisa mengklaim kepemilikan foto tersebut.

Kalau ada ide bagaimana cara melindungi karya digital dengan metode lainnya boleh dishare di kolom komentar ya 😉

diskusi

Sebagai freelancer yang sibuk mengais-ngais proyek, fee tinggi memang menarik, tapi tunggu dulu…tidak jarang ternyata fee yang kita anggap tinggi tadi ternyata malah underprice dengan spesifikasi yang diminta. Atau mungkin kamu pernah merasa seperti “ditipu” klien? Diberi request A dengan spesifikasi 1,2,3 ehh ditengah jalan revisi terus sehingga hasilnya jauh dari spesifikasi yang diminta ketika awal….

Sebenarnya, cerita-cerita naas tentang menghadapi klien bisa kita hindari dan minimalisir dengan membuat kesepakatan di awal kontrak sebelum proyek dilaksanakan. Dengan adanya kesepakatan, baik freelancer maupun klien memiliki koridor yang jelas akan apa yang dituju, timeline, work-pace, proses revisi, pembayaran, dlsb. Teruntuk freelancer pemula yang merasa butuh banget proyekan karena alasan minim porto, percayalah, ini adalah salah satu hal penting yang perlu kamu perhatikan sejak awal untuk membangun pola hidup freelance yang sehat kalau kamu memang mau jadi full-time freelancer.

Down Payment di Awal Proyek Freelance

Pasti sering dengar saran kalau freelancer sebaiknya meminta DP (Down Payment) di awal proyek. Hal ini sebenarnya bagian yang cukup sulit terutama kalau kita berhadapan dengan klien yang jarang berurusan dengan freelancer. Soalnya jujur saja, kalau dilihat dari sudut pandang klien, mereka akan mentransfer sejumlah uang yang mana hasilnya belum ada. Pasti ada rasa cemas kalau uang itu dibawa kabur begitu saja, si freelancer kabur ga bisa dihubungi dlsb. Saya sendiri cukup sering mendengar cerita ini bahkan kejadian ini dialami oleh teman baik saya sendiri saat menggunakan jasa freelancer untuk kebutuhan tesis-nya. Duh!

Namun sebagai freelancer ternyata kita memang sebaiknya meminta DP sebagai “uang modal” untuk kerja kita sampai tahap pelunasan. Bisa saja uang itu untuk biaya internet, beli stok kopi dlsb. Meminta DP juga membantu kita untuk menghindari client from hell sebagai bukti bahwa mereka serius menggarap proyek tersebut bersama kita dan sebagai “pertanda” bahwa mereka akan sanggup bayar ketika pekerjaan sudah selesai dan memberikan kesan tidak ada masalah dengan pembayaran asalkan pekerjaan dikerjakan dan diselesaikan dengan baik.

Tapi seperti yang saya sampaikan tadi, meminta DP tidak segampang menengadahkan tangan. Bagaimana supaya klien percaya dengan kita dan mau membayar DP nya sementara klien tersebut tidak kenal dengan kita? (Kalau kenal biasanya lebih mudah karena sudah ada bayangan bagaimana karakter kita). Salah satunya adalah dengan membuat kesepakatan awal ini. Dengan menyampaikan kesepakatan sebelum proyek dimulai, klien akan melihat bahwa kita cukup professional karena sudah mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi dalam proses pengerjaan proyek. Klien juga dapat menambahkan poinnya sendiri sehingga kesepakatan awal yang dibuat memang memberikan hasil win-win solution. Down Payment itu sendiri bisa juga menjadi tanda bahwa kerja sama antara freelancer dan klien telah dimulai.

Deadline & Proses Asistensi

Pertama-tama tanyakan kebutuhan klien, contoh: klien perlu brosur untuk dibagikan pada saat kelulusan siswa sekolah. Jadi jelas brosur harus jadi asumsikan 3 hari sebelum tanggal kelulusan karena brosur butuh diprint dlsb. Otomatis design harus jadi sebelum itu. Maka 5 hari sebelum hari kelulusan menjadi kesepakatan deadline bersama, dengan catatan bahan&informasi harus sudah masuk tanggal sekian sehinggga kalau bahan proyek terlambat masuk, maka deadline mundur sejumlah keterlambatan pengiriman bahan. Sebagai freelancer, tidak usah terlalu empati banget kalau klien kita butuh banget brosur tersebut pada tanggal yang telah ditentukan sementara si klien sendiri “bersantai-santai” mengirimkan bahan dan kemudian memforsir freelancer untuk bekerja mepet dan penuh tekanan. Yakinkan klien bahwa ini adalah pekerjaan estafet, yang mana waktu pengiriman bahan sangat mempengaruhi work flow pengerjaan. Kita berhak meminta pemunduran deadline jika memang keterlambatan ada di pihak klien. Hal ini perlu disampaikan di awal untuk meningkatkan awareness tanggung jawab masing-masing.

Dipertengahan proses kerja, pastikan klien memperoleh kesempatan untuk mengasistensi pekerjaan kita sesuai jumlah revisi yang kita tawarkan. Misalkan kita menawarkan 3 kali revisi, maka bagilah waktu kita menjadi 3 bagian dalam rentang waktu dari dimulainya pekerjaan sampai dengan deadline. Misal kita punya waktu sebulan (30 hari) untuk mengerjakan proyek, maka pada kesepakatan awal yakinkan klien bahwa klien sudah bisa “mengintip” hasilnya pada hari ke-10, sehingga bisa lihat apabila perlu direvisi. Waktu asistensi ini sebaiknya juga dimasukkan dalam kesepakatan awal, sehingga klien bisa siap dan menyediakan waktu pada hari itu untuk berdiskusi dengan kita. Hal ini juga dapat meningkatkan kepercayaan klien karena klien yakin bahwa proyeknya dikerjakan dan bisa memprediksi sudah berapa persen yang diselesaikan.

Batasi Revisi

Seperti halnya fashion, revisi ini juga tidak ada matinya kalau dituruti. Ketika klien minta revisi tiada batas (unlimited revision) biasanya lebih banyak mudharatnya dari pada berkahnya. Unlimited revision membuat klien dan freelancer memiliki spektrum yang terlalu luas untuk hasil akhir proyek. Misalnya, kita diminta membuat brosur untuk promosi bimbingan belajar. Spesifikasi awal yang diminta adalah brosur yang terlihat professional, lalu ditengah jalan pengen ganti jadi yang lebih fancy dan lebih meriah dengan alasan sasarannya adalah remaja, lalu kemudian minta ganti style lagi dengan yang lebih edgy dan SWAG karena trend remaja sekarang seperti itu. Belum lagi work flow yang terancam berantakan karena klien request ini-itu ditengah-tengah proses kerja seolah-olah request-nya itu seperti simsalabim bisa langsung ada tanpa perlu proses ini-itu dlsb. Maka, lebih baik tetapkan batas revisi di awal kerjasama sehingga kita bisa berfokus kepada hasil dan proses kerja tanpa terdistraksi kemungkinan-kemungkinan yang jumlahnya unlimited.


Nah, itulah kira-kira hal-hal yang bisa dipertimbangkan ketika membuat kesepakatan awal saat memulai proyek. Diskusi dengan klien untuk menambah poin-poin yang mereka rasa penting juga merupakan cara untuk membangun kepercayaan sekaligus mengenal klien. Kalau menurut kamu ada hal-hal lain yang perlu ditambahkan ketika membuat kesepakatan awal boleh dishare di kolom komentar ya 🙂

1 2 3 4 Page 4 of 4

Search stories by typing keyword and hit enter to begin searching.