7 Muslim Countries, 7 Kingdom.
Donald Trump, Joffrey Baratheon.
Justin Trudeau, Robb Stark.

Inilah dia, ketika cocoklogi dimulai…….

Awal Mula…

Cerita ini dimulai gara-gara postingan beberapa teman yang ikut nge-share tentang video Justin Trudeau atas sikapnya pasca Donald Trump menandatangani larangan masuknya imigran dari 7 negara muslim.

Sikap Trudeau ini langsung dielu-elukan oleh beberapa netizen dan ada yang menyebut Trudeau sebagai “King in the North”. Teman saya marah karena nasib King in The North tidak berakhir baik dalam serial Game of Thrones (GoT). Lalu kemudian saya berpikir, ada beberapa hal dari serial GoT yang bisa di-cocoklogi-kan dengan kondisi Amerika dan dunia saat ini. Hmm..

Donald Trump as Joffrey Baratheon

Donald Trump adalah Joffrey versi tua dan sedikit bengkak. Dia lahir dari keluarga kaya dan memiliki ego yang tinggi serta emosi yang meledak-meletup jika keinginannya tidak terpenuhi. Baik Joffrey atau Trump punya istri cantik dan tinggi semampai, Sansa dan Melania. Kenapa saya pilih Sansa bukannya Margaery? Karena Sansa lebih nurut sama suaminya, berusaha sabar meskipun suaminya semena-mena dan juga tetap menjaga wibawa suaminya (at least pada season-season awal). Kesan seperti itu juga muncul ketika melihat Melania saat ini.
Namun, akankah Melania ikut berubah sikapnya seperti Sansa? *insert dramatic music here*

Justin Trudeau as Robb Stark

King in The North

 

Tampan, berkuasa dan baik hati. Itulah sosok Robb Stark dan Justin Trudeau.
Dan tidak ketinggalan, dua-duanya berasal dari Utara!

Selain 3 hal yang bikin cewek klepek-klepek sama 2 orang ini, ternyata baik Robb Stark maupun Justin Trudeau punya papah yang lumayan berpengaruh dan “sempat menguasai pasar”. Dua tokoh ini sama-sama pernah dikucilkan karena dianggap hanya mendompleng nama besar orang tua dan tidak memiliki kualifikasi terutama dalam urusan politik. Namun pada akhirnya dua tokoh ini sanggup memenangkan hati banyak orang. Semoga Trudeau ga berakhir tragis seperti Robb ya…Amit-amit.

 

Daenerys Targaryen?

Setelah ada beberapa tokoh yang terkesan mirip dengan alur cerita GoT saya pun jadi berimajinasi tentang tokoh-tokoh lainnya dan men-“cocoklogi”-kannya dengan kondisi politik Amerika. Sayangnya cocoklogi ini dibatasi oleh lemahnya pengetahuan saya tentang politik Amerika dan dunia. Mungkin kalau saya orang Amerika saya bisa menerka-nerka siapa kiranya Peter Baelish dalam kasus ini…

Lalu,
Apakah Barney Sanders adalah Mace Tyrell atau justru Hillary Clinton adalah Olenna Tyrell?
Apakah Khal Drogo mewakili pangeran Arab  padang pasir yang kaya tapi yaudah si gitu doang….(?)
Apakah Tywin adalah Putyn? *sengaja typo*

Dan yang tak ketinggalan, siapakah gerangan Daenerys?

Daenerys dalam GoT digambarkan sebagai sosok pemimpin perempuan berambut perak dan mengendarai naga. Kalau menurut analisis kesotoyan cocoklogi saya, di satu dan lain hal Daenerys ini “mirip” dengan Ratu Elizabeth. Sama-sama wanita yang memimpin, sama-sama berambut silver dan sama-sama “terbuang”. Daenerys terbuang dari Westeros, Ratu Elizabeth dan Inggris “terbuang” dari Uni-Eropa karena Brexit-nya. Sementara Naga bagi saya identik dengan China dan Shenlong. Memang sih dari segi anatomi naga yang ditampilkan berbeda, naga GoT berbentuk kadal raksasa bersayap sementara naga China berbentuk ular terbang. Tapi toh sama-sama naga kan?

China yang selama ini diam saja sama seperti naga GoT yang dianggap sudah punah. Sekarang Sang Naga sudah tumbuh besar dan siap menguasai Essos bahkan Westeros. Ekspansi China di Asia sudah tidak diragukan lagi keagresifannya, namun akankah China bekerja sama dengan Inggris untuk menguasai negara barat?

Dan pertanyaan selanjutnya adalah:
Siapakah tokoh GoT lain yang kiranya pantas kita cocoklogi-kan dengan kondisi Amerika terkini?

つづく

Rasanya masih belum ada yang bisa menggeser kedudukan Photoshop sebagai graphic design software yang paling sering dipakai. Memang sih, sejak Adobe mengeluarkan seri CC dengan model bisnis berlanggan, produk keluaran Adobe jadi lebih “terjangkau” dibandingkan seri sebelumnya yang satu software-nya saja bisa belasan juta.

Nah, sebagai alternatif dari Photoshop & Illustrator hadirlah Affinity Designer. Cukup sekali bayar kita sudah bisa memiliki software ini secara full dengan harga yang tidak terlalu mencekik.

Affinity Designer : First Impression 

Pertama kali saya tahu Affinity Designer karena ada teman yang share video introduction-nya Affinity Designer di timeline Facebook saya. Videonya beneran bikin ngiler designer! Waktu itu saya cuma bisa gigit jari karena Affinity hanya tersedia untuk Mac. Untungnya sekarang Affinity sudah tersedia untuk Windows, yay!

Update: Sayangnya video Affinity 1.0 sudah tidak available lagi. Jadi silakan nikmati video berikut untuk melihat kira-kira apa dan bagaimana Affinity Designer itu.

Affinity Designer : Interface

Untuk kamu yang sudah terbiasa dengan Photoshop, maka interface dari Affinity Designer ini harusnya cukup mudah dimengerti. Selain itu shortcut-nya juga mirip dengan Photoshop. Yang paling mencolok adalah adanya fitur Persona, yang mana jika diklik maka interface-nya akan berubah sesuai dengan persona yang dipilih. 

Berikut tampilan interface untuk mode ‘Draw Persona‘, cukup familiar bukan?

Tampilan Interface Affinity Designer untuk mode ‘Draw Persona’

Seperti yang saya bilang, dari segi layout si Affinity Designer ini cukup mirip dengan Photoshop. Mulai dari penempatan Menu Bar (File, Edit, Text, dll pada bagian atas), Options Bar yang memuat pilihan 3 Persona : Draw Persona, Pixel Persona & Export Persona. Ada juga tombol editing standar ala Microsoft Office, seperti Move Object Front/Back , Flip/Rotate Object. Dan juga tombol Add, Subtract, Intersect, dll untuk mengolah beberapa shape, seperti menggabungkan beberapa shape jadi satu, membuat irisan objek dlsb yang juga bisa kita temukan pada Adobe Illustrator. Tak ketinggalan penempatan Tools Panel di sisi kiri layar dan Docked Panels di sisi kanan layar. Selain itu, (masih mirip dengan Photoshop) ada beberapa tombol di bagian Tools Panel yang memiliki panah kecil di sisi kanan bawah tombolnya yang menandakan masih adanya pilihan lain dari fungsi tombol itu. Fungsi-fungsi lainnya ini bisa kita akses dengan mengklik kiri cukup lama atau klik kanan pada tombol yang memiliki panah kecil tersebut.

 

Perlukah Saya Membeli Affinity Designer?

Sebelum memutuskan apakah Affinity Designer ini cocok untuk kamu, maka ada hal yang harus kamu perhatikan.
Yang paling menentukan adalah kecenderungan penggunaan Photoshop. Jika kamu menggunakan Photoshop untuk mengedit foto, maka Affinity Designer ini kurang cocok untuk kamu. Namun demikian, Affinity mengeluarkan varian lain yaitu Affinity Photo sebagai software untuk mengedit foto.

Tapi jika kamu menggunakan Photoshop untuk membuat ilustrasi digital, maka Affinity Designer ini pilihan yang bisa kamu pertimbangkan. Cukup satu kali bayar kamu bisa mendapatkan software yang menggabungan tools esensial Photoshop dan Illustrator sekaligus. Software ini dibanderol seharga $39.99 atau sekitar 540 ribuan kalau dirupiah-kan (untuk Windows). Dan itu berlaku selamanya dan juga free updates! Jelas lebih murah dibandingkan produk Adobe CC yang 400ribuan (all-app)/bulan atau 196ribu (single app)/bulan. Asal jangan dibandingin dengan software bajakan aja 😛 .

Tertarik untuk mencoba atau membeli Affinity Designer ini?

Kamu bisa beli Affinity Designer dengan mengklik tautan berikut : https://affinity.store/en-us/

Atau pelajari lebih lengkap tentang fitur Affinity Designer di sini : https://affinity.serif.com/en-us/designer/

1 2 3 4 Page 2 of 4

Search stories by typing keyword and hit enter to begin searching.