VR.Review : Review Buku Ikigai – Rahasia Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang

[SPOILER ALERT!]

Ada suatu saat ketika saya merasa ‘passion’ itu sebuah kata yang berat sekali. Mungkin kamu sering lihat kata ini entah itu terselip di segala macam bentuk seminar motivasi, self-development, self-improvement. Apapun lah. Namun di saat yang sama sering terbersit kalau mau sukses, passion seakan-akan harus dikejar habis-habisan. Kamu akan rela capek2 tapi capek kamu akan kerasa fun karena itu toh kan “passion kamu”.

 

I was like : meh.

 

Meskipun saya mengerti maksud dari penjelasan tentang passion ini, sebagai orang yang punya sifat Jack of All Trades dan gampang bosenan, saya merasa ada penyampaian yang terlalu berlebihan, sugar-coated explanation, soal passion ini. Bahkan Steve Jobs sendiri mengakui bahwa me-maintain passion itu berat, makanya kebanyakan orang memilih hidup biasa-biasa saja.

Membaca buku ‘Ikigai – Rahasia Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang’ karya Hector Garcia & Aleber Liebermann membuat saya tertegun. Ketika kita merasa tidak punya tujuan, kok kayaknya ga sukses-sukses, punya passion tapi kok kayaknya susah diraih, ujung-ujungnya kita merasa sebagai diri yang ga berhasil, rendah diri, malu dan malas ketemu orang, dlsb mungkin karena kita udah overdosis segala macam penjelasan tentang pentingnya passion. Seolah-olah ada alasan untuk tidak bahagia dan merasa gagal, yang dapat membuat kita terjerumus kepada krisis eksistensi diri. Lalu, ‘Ikigai’ ini seolah-olah lahir sebagai penetral atas segala macam bumbu-bumbu tentang passion tadi.


Kalau passion seringkali dikaitkan dengan sebuah tujuan jangka panjang, maka ikigai adalah sebuah tujuan sederhana yang menjadi alasan kita bangun dari tempat tidur atau sesederhana alasan kenapa kita tidak bunuh diri.

Bunuh diri memang dosa, tapi ketika kita berpikir untuk bunuh diri atau mati adalah tanda bahwa ada perasaan tidak puas dalam kehidupan kita. Namun, apa yang membuat kita tidak mengeksekusi tindakan bunuh diri itu atau kemudian menyadari bahwa pikiran untuk mati itu tidak pantas? Apakah karena ada keluarga yang ditinggalkan, tanggung jawab yang belum tuntas, merasa amal ibadah belum cukup buat ketemu mati? Apapun alasannya, itu adalah ikigai-mu. Sesuatu yang memang sudah ada dalam diri kita.

 

Ikigai : Tujuan hidup yang sederhana

 

Ya, ikigai memang sederhana. Karena kenyataannya kita lebih sering menemukan kebahagiaan yang tulus dan menentramkan hati melalui hal-hal yang sederhana. Misalnya, saya senang dengan lingkungan atau ruangan yang rapi. Untuk mencapai kondisi tersebut saya harus bebersih dan rapi-rapi (yang kalau dikaitkan dengan passion, mungkin kebiasaan ini bisa diolok-olok sebagai mental babu). Meskipun ada rasa malas saat memulainya, namun ketika sudah mengerjakan sebentar saja (mungkin sekitar 3-5 menit) tau-tau saya asyik sendiri bebersih dan tidak sadar berjam-berjam sudah berlalu. Inilah yang disebut dengan flow. Dan konon dalam prinsip ikigai, orang yang paling bahagia di dunia bukanlah yang banyak pencapaiannya namun orang yang banyak menghabiskan hidupnya dalam keadaan flow, mengalir. Karena dengan “go with the flow”, kita menikmati prosesnya dan hadir di masa “sekarang”. Tidak pusing dengan masa depan yang belum terjadi namun juga tidak terjebak dalam masa lalu yang mengekang. Perhatikan saja teman-temanmu di kantor, yang kelihatan bahagia dan puas adalah yang bisa mengalir dan menikmati ritme pekerjaannya. Dalam bentuk yang lain, menikmati pekerjaan ini membuat seseorang sulit untuk benar-benar pensiun dari satu hal yang jelas-jelas adalah ikigai-nya. Seperti Hayao Miyazaki dan Jiro Sang Maestro Sushi yang tetap aktif bekerja & berkarya meskipun umurnya sudah terbilang tidak muda lagi. Tujuan hidup Hayao Miyazaki adalah menggambar dan bercerita dengan baik, bukan membangun bisnis animasi yang merajai bumi. Sementara Jiro ingin membuat sushi seenak mungkin, bukan berambisi menjadi Michelin Star Chef. Perhatikan perbedaan antara ikigai dan nafsu serta ambisi dalam kalimat sebelum ini.

Namun kenikmatan flow ini akan sulit tercapai dalam keadaan multitasking. Orang yang melakukan multitasking pada dasarnya bukan melakukan beberapa pekerjaan sekaligus namun yang dilakukan adalah beralih antartugas dengan cepat. Orang yang multitasking akan terlalu sensitif dengan berbagai stimulus, terlepas dari penting tidaknya stimulus tersebut, dan hal ini akan “menghabiskan” energi otak saat beralih antar tugas-tugas sehingga rentan kehilangan fokus dan cenderung melakukan kesalahan-kesalahan. Selain itu multitasking juga dapat menurunkan IQ dan produktivitas pelakunya karena pada akhirnya pelaku akan semakin cepat lelah.


Tetap Sibuk Namun Tidak Terburu-buru

 

Saat ini, kita hidup dengan kecepatan yang menimbulkan kepanikan dan persaingan dalam hidup. Selain urusan kerjaan pastinya, salah satu hal lainnya adalah persaingan hidup bahagia ala sosial media. Ingin yang paling cepat mencoba makanan kekinian, ootd terbaru, wisata ter-hits dlsb. Dalam hati seperti menjerit harus melakukan atau mendapatkan hal itu segera-segera-segera. Padahal mungkin kita tidak sadar bahwa tabiat itu adalah sebuah kepanikan. Panik tidak hits. Sesuatu yang justru menjadi penghalang kebahagian yang hakiki. Tentu tidak salah jika ingin menikmati hidup, namun yang menjadi masalah adalah ketika kita menginginkannya sesegera mungkin. Misalnya ingin coba restoran A, padahal tidak punya duit, tapi tetap dipaksakan meskipun harus ngutang. Pikiran kita tertancap pada hasrat bayang-bayang gemerlap dunia dan nafsu kebendaan, sehingga kita tidak menikmati diri kita di saat ini  dan di tempat ini namun hanya akan bahagia kalau segala nafsu-nafsu (yang konon gak habis-habis) terpenuhi. Alih-alih menikmati keadaan saat ini, pada akhirnya kita sendiri yang membatasi kebahagiaan kita pada hal-hal yang tidak/belum kita peroleh/rasakan.

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, ikigai adalah apa yang membuat kita bangkit dari tempat tidur dan beraktivitas. Bukan sekadar terpaksa ke kantor, namun karena saya ingin menjadi manusia yang bertanggung jawab, menyelesaikan pekerjaan A, B, C sesuai skala prioritas dan boleh merasa puas ketika hal tersebut sudah selesai dikerjakan dengan baik. Sesibuk apapun, lakukan satu hal dalam satu waktu, tanpa merasa terpaksa. Ketika lelah, berkumpullah bersama teman-teman dan nikmatilah hal-hal kecil. Dengan mengamati hal-hal kecil bisa jadi banyak yang bisa kita pelajari dan syukuri.

 

Kesimpulan

 

Tentu saja saya akan merekomendasikan buku ini kepada siapapun. Terutama kepada orang-orang yang merasa lelah dengan hidupnya. Saya pribadi merasa damai saat membaca buku ini dan mulai berusaha menikmati kesibukan dengan sudut pandang yang lebih menyenangkan, suatu aktivitas yang pada dasarnya bisa kita nikmati setiap harinya. Rasanya hidup ini bukan lagi seputar mengejar suatu passion yang sarat ambisi namun lebih kepada pencapaian-pencapaian kecil bertahap sehingga hari-hari kita semakin banyak diisi oleh kepuasan meskipun kepuasan-kepuasan itu terlihat kecil (mungkin di mata orang lain tidak berarti sama sekali, seperti soal bebersih tadi). Dan seperti rahasia umum (rahasia kok umum, tapi yaudahlah ya) rahasia umur panjang seringkali dikaitkan dengan kebahagiaan dan kebahagiaan muncul karena kepuasan dan kepuasan pada hakikatnya sebaiknya dekat dengan rasa syukur. Selain penjelasan yang sudah saya ceritakan di postingan saya ini, ada juga hal-hal lain yang menunjang resep umur panjang, seperti hubungan sosial yang sehat dan akrab, pola makan, olahraga (yang ga melulu harus nge-gym atau segala macam high impact workout) tapi lebih ke peregangan-peregangan otot dan sendi, kebiasaan berkebun, dlsb. Buat yang penasaran lebih lengkapnya, bukunya tersedia di Gramedia yah! Selamat membaca!