Posts in Category

Works

2017 Trend Forecast : Ocean Glam

Terinspirasi dari ombak samudera, corak-corak seperti marble, tie-dye, shibori dan shuminagashi yang dipadu dengan aksen emas akan memberikan kesan natural, personal namun modern. Motif marble mulai menjadi hits di akhir tahun 2016 dan diprediksi akan tetap diminati sepanjang 2017. Berbeda dengan trend marbling dan tie-dye yang sempat hits beberapa tahun lalu yang kental dengan unsur tabrak warna, warna yang akan menjadi trend marbling/tie-dye kali ini justru adalah warna-warna pucat yang masih senada dan tidak terlalu mencolok sehingga lebih berfokus pada motif marble/tie-dye itu sendiri.


Personal Notes

Warna-warna yang saya pilih pada Ocean Glam ini ternyata muncul sebagai koleksi Elie Saab Spring 2017.
Saya merasa cukup terkejut dan sedikit bangga. Jangan-jangan saya punya bakat di bidang ini? Haha.

Sebagai disclaimer, Trend & Pattern Forecast ini saya buat untuk melatih sense saya terhadap kecenderungan selera dan trend global. Tentu masih perlu banyak latihan dan riset untuk benar-benar bisa menjadi pro di bidang ini.

Trend 2017 : Magnificent Iridescent

Trend 2017 : Kembalinya Sang Metalik

Apa kira-kira yang akan menjadi Trend 2017 ?

Dengan semakin berkembangnya teknologi, pada tahun 2017 pasar akan dibanjiri dengan produk-produk Virtual Reality dan fashion akan ikut menyemarakkan perkembangan teknologi tersebut dengan menghadirkan nuansa-nuansa futuristik. Warna-warna seperti hijau, ungu dan biru beraksen metalik akan sanggup meghadirkan nuansa futuristik dan cosmic tersebut, membuat kita seakan-akan siap menghadapi masa depan!

bertemu-klien

Kalau dulu saya pernah bercerita tentang pentingnya kesepakatan awal ketika memulai project. Sekarang saya ingin sharing tentang proses sebelum kita membahas kesepakatan itu. Kan gak enak aja kalau klien datang lalu langsung kita sodori S&K (Syarat dan Ketentuan) kalau mau kerja dengan kita harus begini-begini-begitu. Pasti ada sesi ngobrol dulu untuk membahas sebenarnya seperti apa sih project yang kita hadapi. Untuk ngobrol mengenai project ini juga ada tahapan-tahapannya, jangan langsung nyerocos tentang sulitnya ini-itu blabla atau bahkan sebaliknya “iyaa iyaa beress gampaaaang”.

Mengenal Proyek Klien : Konsep, Tujuan, Target Market, Highlight

Seringkali klien itu sebenarnya tidak tahu apa yang mereka hadapi. Mereka taunya ya sekadar jadi saja, misalnya : “Saya baru buka restoran, restoran Italia gitu…Saya butuh desain brosur”. Request yang standar dan familiar ya? Kita mungkin bisa kebayang membuat desain dengan warna-warna khas Italia: merah, cokelat, kuning, hijau. Lalu apa setelah dengar permintaan itu kita langsung mengiyakan? Di masa-masa awal inilah adalah kesempatan kita untuk menggali kebutuhan klien lebih lanjut karena mereka dalam kondisi siap menghadapi kita (percayalah bahwa kondisi klien yang siap/tidak siap untuk mengobrol itu bisa berefek dalam proses produksi dan berguna dalam penyamarataan persepsi plus saat yang tepat juga buat edukasi desain).

Untuk kasus restoran Italia itu kita mulai dengan bertanya konsep dari restorannya itu sendiri seperti apa. Apakah klasik, funky, modern, minimalis, dlsb. Tujuannya supaya desain kita memang mencerminkan restoran itu dan nyambung. Jika klien sulit untuk mendeskripsikan, mintalah mereka untuk menunjukkan foto-foto restoran. Tanya juga apa yang diharapkan klien tersebut dari brosur ini, ini akan menjadi panduan kita untuk menentukan highlight. Kalau hanya sekadar pengen “ya biar orang bisa tau kita buka restoran”  maka sebaiknya kita gali lagi kebutuhan klien tersebut. Bukan apa-apa, design yang bagus adalah design yang memiliki impact. Mungkin bisa ditonjolkan discount promo, menu favorit (misalnya pizza yang dengan keju meluber-luber sebagai highlight brosur), atau tempat yang cozy, dlsb. Ketika orang melihat brosur maka audience hanya perlu 1 detik untuk melihat apa yang paling menonjol dari brosur tersebut, baru kemudian menyisir info-info lainnya. Highlight berfungsi menjadi attention seeker di sini.

Masalah yang biasanya timbul: 

Klien tidak tau apa yang harus jadi highlight. Klien merasa semua hal harus jadi sorotan, ya interior, ya menu, dlsb. Sehingga tidak ada hal yang menjadi fokus. Padahal otak kita tidak bekerja seperti itu, otak kita akan lebih mudah mengenali sesuatu yang “berbeda” dibanding lainnya atau kita sebut saja “kontras”, “fokus” atau dalam artikel ini saya sebut “highlight” tadi. Klien seperti ini akan mengarah pada dua kemungkinan : Klien yang pasrah apa adanya dan membiarkan kita berkreasi (yay~), atau client from hell yang pas ditanya ga bisa dijawab, tapi ketika disodori hasil bilangnya “kok saya ga suka ya, ini ga seperti yang saya bayangkan. Saya ga tau salahnya dimana tapi saya tau bukan ini yang saya mau”. Makanya, menggali info di awal adalah modal kita para designer, selain sebagai guidelines kerja, juga sebagai tameng kalau dicecar komentar pedas tak berdasar dari klien.

Masalah lainnya yang mungkin timbul adalah bercampurnya selera pribadi klien dengan target market. Untuk masalah ini maka dituntut pengetahuan desainer tentang target market untuk meyakinkan klien. Kadang dari klien suka muncul ide-ide aneh yang cukup didengarkan dengan hormat tapi tak perlu dilakukan karena mencemari desain kita. Misalnya: Klien minta tulisannya dibuat 3D pelangi ala-ala wordart powerpoint supaya brosurnya mencolok. Iya, brosurnya sih mencolok, tapi balik lagi ke tujuan brosurnya, apa dengan brosur yang mencolok orang-orang jadi tertarik datang ke restoran lo? Engga gitu juga kan….

Memberitahu Proses Bekerja

Setelah selesai membahas tentang konsep, tujuan, target market, highlight dan sebagainya itu, ceritakan tentang proses kerja kita. Mulai dari persiapan bahan, kemungkinan penggunaan source berbayar, waktu pengerjaan, dlsb. Oiya, kita harus menyampaikan juga masalah tentang hak cipta. Soalnya di Indonesia masih rendah banget pengetahuan penggunaan hak cipta, jadi kesannya apa yang ada di google boleh dipake. Memang ada konten-konten gratis yang bisa dipakai, tapi mencarinya juga butuh waktu. Biasanya saya kembalikan lagi resikonya kepada klien kalau semisal mau menggunakan konten-konten yang gak jelas hak ciptanya.

Memastikan PIC (Person In Charge)

Sering kali tawaran yang masuk ke saya adalah dari rekomendasi teman. Jadi ada teman yang tau saya designer, trus nawarin proyek A, saya mau apa engga? Nah, yang sering kebablasan adalah kita jadi koordinasinya sama teman kita itu. Sebaiknya, hindari “klien ber-layer” seperti itu. Cari tau siapa yang benar-benar merupakan PIC dari proyek ini untuk mengurangi bias. Meskipun teman kita yang menawarkan dan ngobrolnya lebih enak, tanyakan siapa PIC yang sebenarnya, karena itulah sebenar-benarnya klien kita (teman kita bisa bantu juga untuk menengahi pemikiran karena kenal kedua belah pihak).

Untuk ilustrasi kasus kira-kira begini : Kita diminta buat brosur, spesifikasi ABCD, trus jadi, kita kirim, lalu kemudian datang jawaban “bentar ya, di ACC boss gue dulu”. Lalu kemudian, “Boss gw minta diubah ini-itu ini-itu”. Laah rempong kan.

Semenjak dulu masih ngantor hal ini juga pernah terjadi, saya lapor sama senior, eh ternyata harus revisi ini-itu sesuai selera dia, pas dia suka trus dilanjutkan ke bos, eh bosnya ga suka. Pas akhirnya pak bos nyamperin, ehhh sukanya sama desain yang pertama……Duhh rasanya seperti banyak waktu dan energi yang kebuang. Ya gak sih?

Kesimpulan?

Jika kita simpulkan dengan list mungkin kira-kira seperti berikut:

  1. Pastikan tujuan dari proyek (untuk menentukan fokus/highlight).
  2. Kenali konsep, target market, impact yang diharapkan dapat timbul dari desain kita.
  3. Menyiapkan outline rencana kerja, termasuk memprediksikan kendala-kendala yang mungkin akan dialami saat bekerja (tapi jangan sampai nakut-nakutin klien juga).
  4. Memastikan PIC dan komitmen klien agar pekerjaan berjalan lancar (misalnya: klien merespon ketika kita hubungi, memberikan aset sesuai waktu yang ditentukan, fokus pada kesepakatan awal).
  5. Setelah mengetahui aspek-aspek yang perlu kita ketahui, kita bisa memutuskan untuk menerima/menolak proyek.
  6. Jika lanjut, buatlah kesepakatan sebelum proyek tersebut dimulai.

Yah, ini sharing aja sih… Menurut kamu bagaimana?

watermark2

Tidak ada benar-salah antara membubuhkan watermark atau tidak. Baik di-watermark ataupun tidak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tergantung kepada preferensi kita.

Melalui postingan ini saya ingin sharing pendapat tentang penggunaan watermark dalam foto. Haruskah kita watermark foto kita? atau tidak perlu?

Alasan Mengapa di-Watermark

1. Credit Terlampir

Dengan menambahkan watermark otomatis kita membubuhkan credit pada foto kita sendiri. Banyak orang malas mencari sumber foto dan main asal pakai saja. Dengan membubuhkan watermark setidaknya kita memberi tanda pada hasil karya kita sehingga jika ada yang lupa memberi kredit, orang lain yang melihat tetap bisa mengetahui milik siapa foto/karya itu sebenarnya.

2. Sebagai Branding

Sama halnya dengan label pada pakaian. Memberikan watermark dapat mengesankan suatu branding tersendiri bagi pemiliknya.

3. Melindungi Foto/Image dari Pencurian Digital

Dengan era yang serba digital, foto/image yang diupload bisa dengan mudah diambil orang. Untuk melindungi foto dari pencurian, watermark dianggap sebagai langkah mudah perlindungan foto. Kenapa mudah? Karena sifatnya “menindih” foto, jadi bisa dibilang dapat dilakukan oleh software-software pengolah image digital, pun aplikasi untuk membuat watermark sudah banyak beredar di jagad maya tinggal kita pilih mana yang kita suka.

Alasan Mengapa Tidak Di-Watermark

mona-lisa

Sumber: photodoto.com

1. Watermark Membuat Foto/Image Menjadi Jelek

Apalagi kalau tidak diimbangi dengan kemampuan desain/tipografi yang baik. Watermark bisa terlihat kebesaran, terlalu kontras dengan foto, mengganggu objek foto karena desain watermark yang terlalu mencolok, font yang digunakan tidak sesuai, dlsb. Saya sendiri juga punya masalah dengan hal ini, watermark yang dulu saya anggap bagus dan kece badai ternyata setelah beberapa tahun kemudian ketika melihat lagi saya hanya bisa mengernyitkan kening….

2. Niat Mencuri Sudah Bulat

Jadi katakanlah kita meletakkan watermark cukup kecil untuk tidak mengganggu foto. Namun kalau memang di luaran sana si maling foto memang sudah berniat mencuri foto, maka watermark yang kecil itu bakal dengan mudah diedit sedemikian rupa sehingga seolah-olah watermark itu tidak pernah ada di sana. Apalagi kalau posisi watermark-nya di ujung yang hanya cukup dengan meng-crop saja sudah hilang. Makanya ada sentimen kalau mau buat watermark untuk melindungi foto buatlah segede-gede dosa di tengah foto sehingga susah diedit, atau dibuat seperti pattern yang menyebar di setiap sisi foto seperti sh*tterstock. Jadi mengingat hal itu, bagi sebagian orang berpikir buat apa membuang waktu membuat watermark yang beresiko menghancurkan komposisi foto? Kalau memang di luar sana sudah niat mencuri, percuma membuat watermark.


Nah, kalau kamu sendiri cenderung bagaimana? Kalau saya sih masih memilih memasang watermark, lebih kepada branding diri sih. Semoga kalau misalnya foto saya menyebar, ada yang cukup perhatian dengan fotografer/creator nya dan saya pun bisa terkenal. Hehe.

Oiya, konon katanya untuk perlindugan digital bisa juga dengan membubuhkan copyright di bagian EXIF foto, sehingga nama kita tersimpan sebagai metadata jadi tidak mengganggu si foto namun kita masih bisa mengklaim kepemilikan foto tersebut.

Kalau ada ide bagaimana cara melindungi karya digital dengan metode lainnya boleh dishare di kolom komentar ya 😉

1 2 3 Page 2 of 3

Search stories by typing keyword and hit enter to begin searching.