Posts in Category

Works

Ketika kita membicarakan soal usability maka itu akan erat sekali kaitannya dengan konsep desain yang ramah pengguna alias user-friendly.

Memang istilah ini masih terlihat rancu tentang bagaimana usability diartikan, apakah sebagai desain yang tepat guna ataukah bagaimana desain itu digunakan. Namun pada akhirnya, usability dalam ranah UX diarahakan pada pengertian kedua. Toh, meskipun tepat guna namun apabila user tidak bisa menggunakannya ya tidak akan terpakai juga kan?

Berbagai pendapat tentang prinsip-prinsip Usability

Karena kerancuan dari pengertian usability dalam desain interaksi, uraian mengenai usability ini terus-menerus direvisi.
Salah satu uraian mengenai usability ini muncul dalam buku Human Computer Interaction yang disusun oleh Alan Dix, Janet E. Finlay, Gregory D.Abowd dan Russel Beale. Mereka menjabarkan prinsip usability menjadi 3, yaitu :

  • Learnability (Kemampuan untuk dipelajari) : Seberapa mudah pengguna baru untuk menavigasi sistem ?
  • Flexibility (Fleksibilitas) : Berapa banyak cara pengguna berinteraksi dengan tampilan pada sistem?
  • Robustness (Ketahanan) : Seberapa baik kita membimbing pengguna yang menghadapi kendala/error ?

Sementara itu Nielsen dan Schneiderman memaparkan bahwa usability disusun atas 5 prinsip :

  • Learnability (Kemampuan untuk dipelajari) : Seberapa mudah pengguna baru untuk menavigasi interface ?
  • Efficiency (Efisiensi) : Seberapa cepat pengguna bisa melakukan pekerjaan/perintah yang diminta
  • Memorability (Daya Ingat) : Jika pengguna tidak menggunakan sistem selama beberapa saat, apakah ketika dia menggunakannya kembali akan ingat dengan interface-nya?
  • Errors : Berapa banyak error yang dibuat pengguna dan bagaimana mereka menyelesaikan error/kendala tersebut
  • Satisfaction (Kepuasan) : Apakah pengguna menikmati tampilan/interface yang ditampilkan dan senang menggunakannya?

Pada akhirnya, The International Standard (ISO 9241) memaparkannya dalam 5 prinsip, yaitu :

  • Learnability (Kemampuan untuk dipelajari) : Seberapa mudah pengguna baru untuk menavigasi interface ?
  • Understandability : Seberapa baik pengguna dapat mengerti tampilan yang mereka lihat?
  • Operability : Seberapa besar kendali yang dapat dilakukan pengguna terhadap sistem yang ditampilkan?
  • Attractiveness (Daya Tarik) : Seberapa menyenangkan tampilan sistem bagi pengguna?
  • Usability Compliance (Pemenuhan kebutuhan) : Apakah interface yang ditampilkan memenuhi standar?

 

 

Goal-driven design atau desain yang berfokus kepada hasil adalah suatu metodologi yang berfokus kepada pemecahan masalah sebagai prioritas utamanya. Metodologi ini dipopulerkan oleh Alan Cooper.  Dengan kata lain, goal-driven design memiliki fokus (atau bahkan dalam kondisi ekstrem tidak bisa ditawar-tawar) bagaimana menyelesaikan suatu kebutuhan yang spesifik untuk pengguna akhir apapun caranya. Cara ini sangat bertolak belakang dengan proses yang umum dilakukan di dunia industri saat ini, yang konon jika teknologinya belum tersedia/sulit/mahal maka proyek tidak dilanjutkan. Namun hal itulah yang juga menjadi kelebihan Goal-Driven design, karena sifatnya seringkali menawarkan kebaruan seiring dengan solusi yang ditawarkan.

Menurut Alan Cooper, ada 5 hal yang harus kita pikirkan sebagai designer:

1. Design dahulu, programming kemudian

Biarpun terdengar sedih untuk para programmer, tapi konsep goal-driven design dimulai dengan pertimbangan bagaimana pengguna berinteraksi dengan produk. Apakah pengguna dapat menggunakan produk? Apakah sesuai dengan tujuan yang diharapkan?
Sehingga dari hal ini perlu dipertimbangkan bagaimana tampilan dan stimulus apa yang dihasilkan. Maka pertimbangan desain lebih didahulukan dibandingkan dengan pertimbangan teknis.

2. Memisahkan tanggung jawab desain dengan tanggung jawab programming

Hal ini dimaksudkan agar designer benar-benar fokus dengan tujuan produk dan interaksi pengguna terhadap produk, alih-alih memikirkan kendala teknis. Seorang designer harus percaya bahwa programmer/developer mampu mengatasi kendala teknis tersebut.

3. Desainer bertanggung jawab untuk kualitas produk dan kepuasan pengguna

Perlu digarisbawahi bahwa kepuasan di sini adalah kepuasan pengguna, yaitu orang yang pada akhirnya akan berada di sisi lain layar, dan menggunakan produk. Bukan kepuasan investor, klien, stakeholder, dlsb. Dengan ini, kembali lagi, apakah tujuan produk sebagai suatu pemecahan masalah bisa diketahui berhasil atau tidak.

4. Definisikan satu pengguna spesifik untuk produk yang diluncurkan

Dalam UX Design atau user research, pengguna spesifik ini kita istilahkan dengan persona. Alan selalu mengingatkan tentang pentingnya designer untuk memiliki pengetahuan mendalam mengenai user persona dan bagaimana koneksi serta interaksi persona terhadap produk.

Tanyakan : Siapakah pengguna produk ini? Dimana dia akan menggunakan produk ini? Apa yang ingin dia capai dengan menggunakan produk ini? dlsb.

5. Bekerja dalam tim

Yang terakhir, Alan Cooper mengatakan bahwa designer tidak boleh bekerja sendiri. Cukup masuk akal mengingat kita bekerja menghasilkan suatu produk untuk persona tertentu, maka bekerja sendiri hanya akan membuat kita terpaku dengan apa yang ada dipikiran kita saja. Mengajak project manager, content strategist, information architecht, misalnya, dapat memperkaya data dan sudut pandang untuk memutuskan mana yang benar-benar perlu, yang benar-benar aktual, masuk akal, efisien, dlsb.

Jenis-Jenis Harga Jual (Pricing) : Menetukan Jenis Harga yang Tepat untuk Klien

Dulu ketika masih freelancing, salah satu hal yang sering ditanyakan oleh teman saya adalah bagaimana menawarkan harga untuk klien. Kalau kita bicara soal nominal, lain designer lain pula rate harganya. Belum lagi menimbang beban kerja, waktu, bahan dlsb. Tapi pada postingan kali ini kita tidak akan membahas tentang bagaimana menentukan nominal harga, namun bagaimana harga yang ditawarkan bisa terlihat “menarik” untuk klien sekaligus memperbesar kemungkinan untuk menjalin kerja sama jangka panjang. Makanya kadang stalking tentang karakter klien dan bisnisnya bisa membantu kita menentukan penawaran terbaik untuk klien tersebut, dan kali ini saya akan membahas tentang jenis-jenis harga jual (pricing) yang bisa jadi inspirasi untuk menggaet calon klien/pembeli.

Yuk kita simak jenis-jenis harga dan semoga setelah mengetahuinya kita semakin kreatif untuk memberikan penawaran kepada klien sehingga kita semakin luwes dalam berbisnis yang penuh tawar-menawar ini 😛 .

1. Trial Pricing

Trial pricing adalah harga perkenalan yang ditawarkan biasanya untuk menarik minat calon pembeli untuk mencoba produk/servis baru. Dengan menggunakan Trial Pricing, klien dapat menilai apakah jasa yang kita berikan memang layak dengan harga asli yang kita tawarkan, begitupun freelancer memiliki potensi untuk menunjukan performance nya sebagai bukti bahwa harga yang kita tawarkan sesuai dengan hasil yang didapatkan.

2. Image Pricing

Harga yang dipasang sebagai gambaran yang diharapkan pembeli. Misalnya pada restoran mahal, restoran tersebut menaikkan harga sampai beberapa kali lipat sehingga memberikan kesan “elit”. Begitupun harga murah, agar pembeli mendapat kesan bahwa mereka melakukan transaksi yang menguntungkan dan dapat berhemat. Image pricing berguna untuk membangun kesan dari produk yang dijual.

3. Tier Pricing

Harga yang diberikan pada konsumen setelah mereka melakukan pembelian produk dalam kuantitas tertentu. Misalnya dapatkan 6 produk dengan cukup membayar harga untuk 4 produk.

4. Bundling Pricing

Menjual beberapa produk sekaligus dalam satu paket dan satu harga.

5. Value-added Pricing

Menambahkan nilai tambah tanpa merendahkan atau meninggikan harga jual produk. Misalnya beli pemanas air gratis instalasi (pemasangan).

6. Captive Pricing

Penjual menjual barang pelengkap dengan harga murah untuk “mengunci” pembelian produk utama yang mereka jual. Misalnya pisau silet merk A dijual murah namun untuk menggunakan pisau silet tersebut pembeli harus memiliki alat cukur merk A terlebih dahulu (yang mana alat cukur tersebut adalah produk utama merk A.

7. Pay-One-Price

Mengacu pada harga yang dibayar sekali untuk mendapatkan produk/servis yang tidak terbatas (unlimited). Misalnya pembayaran internet unlimited per bulan, konsumen cukup bayar sekali sebulan untuk mendapat akses internet tanpa batasan quota. Contoh lainnya adalah taman hiburan yang menjual tiket terusan, cukup 1 tiket pengunjung dapat main sepuasnya berkali-kali sepanjang hari.

8. Non-Negotiating Pricing

Contoh dari Non-Negotiating Pricing ini adalah supermarket yang mengklaim menjual produk paling murah dan bersedia mengganti selisih harga apabila pembeli menemukan harga yang lebih murah di tempat lain.

1 2 3 Page 1 of 3

Search stories by typing keyword and hit enter to begin searching.