Posts in Category

Review

Theta App : Quick View

Theta App adalah aplikasi yang dapat diinstal pada smartphone kita untuk meningkatkan performance dari Theta Camera. Overall, aplikasi ini cukup mudah digunakan dan sangat membantu terutama karena fitur remote shutter dan live view-nya. Pengaturan lain yang bisa kita lakukan melalui Theta App ini antara lain pengaturan Shutter Speed, ISO dan White Balance.

Auto Mode

 

Auto Mode bisa dibilang cukup baik. Entah karena ketika dicoba cahayanya lagi bagus atau gimana. Tapi memang dibanding fitur ‘shutter priority’ atau ‘ISO priority’ (yang distel asal saja) pada waktu pemotretan yang sama, fitur auto ini adalah yang paling jelas dengan bintik (grainy)  lebih sedikit dibandingkan fitur ISO Priority atau Shutter Priority.

Shutter Priority

 

Pada fitur “Shutter Priority“, kita bisa mengatur shutter speed yang kita inginkan. Shutter speed ini berfungsi “membekukan” gerakan. Angka yang tampil pada menu adalah 1/(focal length). Semakin besar focal length-nya maka sensor kamera akan semakin cepat. Jadi, kalau memotret benda bergerak supaya terlihat “beku” (misalnya hewan peliharaan) perbesar nilai focal length-nya.

ISO Priority

ISO Priority merupakan kebalikan dari shutter priority pada kamera Theta S ini. Jika Shutter Priority membebaskan kita mengatur shutter speed sementara ISO-nya otomatis ditentukan kamera, maka pada mode  ISO priority kita diberi kebebasan mengatur ISO yang akan digunakan. Semakin besar ISO maka semakin terang foto yang dihasilkan (namun dapat berakibat foto menjadi grainy atau berbintik).

Manual Mode

 

Pada Manual Mode, kita bisa mengatur baik ISO, Shutter speed, Exposure dan White Balance (WB). Memang Theta S hanya terdapat 4 settingan itu saja untuk fitur pemotretannya. Exposure dan WB sendiri bisa kita temukan dalam semua mode, baik auto, shutter priority, ISO priority ataupun manual.

Lainnya

Selain melakukan settingan untuk pemotretan, Theta App juga mendapatkan tugas untuk mengatur kualitas foto yang kita ambil. Tersedia 2 pilihan ukuran foto yang dapat kita pilih.

Selain itu kita juga bisa men-setting timer melalui aplikasi ini dengan fitur interval shot. Seperti yang saya keluhkan pada postingan pertama, saya masih merasa sayang sekali Theta S ini tidak memiliki fitur timer langsung pada body kamera. Jika sudah tersedia pada body kamera, kita bisa menggunakan fitur tersebut meskipun smartphone kita mati.

Personal Notes

Ada beberapa hal lain yang mungkin perlu kamu ketahui perihal Theta S + Theta App ini. Penggunaan app ini pada smartphone saya bisa dibilang sangat-sangat boros baterai dan bikin smartphone saya jadi luar biasa panas (saya pake Zenfone 5 btw).  Entah smartphone saya sedemikian usangnya atau bagaimana, yang jelas begitulah yang terjadi. Ibaratnya jika smartphone saya dalam keadaan baterai 100%, maka jika menggunakan aplikasi ini terus menerus selama 1 jam bersama Theta kameranya maka dalam satu jam kemudian smartphone saya bisa drop dead alias baterai 0%.

Selain itu konektivitas antara Theta S camera dengan Theta App adalah via Wi-Fi. Agak ga paham juga kenapa tidak ada opsi menggunakan bluetooth ya? Apa karena jangkauan wifi lebih luas dibanding bluetooth? Entahlah. Terlepas dari apapun alasannya, saya rasa koneksinya tidak sestabil kalau menggunakan bluetooth. Apalagi kalau ada wifi lain dalam jangkauan smartphone, seringkali smartphone malah otomatis mengoneksikan diri dengan wifi lain sehingga koneksi dengan Theta kamera jadi terputus. Dan tidak ketinggalan, Theta app ini juga berfungsi untuk men-share hasil foto kita ke sosial media termasuk Theta360.com.

Ingin membuat foto 360° tapi malas men-stitching beberapa foto jadi satu dan mengatur formatnya agar terbaca sebagai spherichal image dlsb? Kini tak perlu repot lagi karena sudah banyak dijual kamera 360° untuk kebutuhan foto 360°, salah satunya adalah Ricoh Theta S.

Satu hal yang perlu dicatat adalah : ketika kita berbicara tentang Kamera 360 kita tidak sedang membicarakan sebuah aplikasi kecantikan yang cukup terkenal di AppStore ataupun Playstore. Untuk itulah saya sebisa mungkin menulisnya dengan menggunakan simbol derajat (°) pada 360, cuma ya kalau lupa mohon maafkan saya.

Diantara beberapa merk dan seri kamera 360°, akhirnya saya memutuskan untuk memilih Ricoh Theta S sebagai kamera 360° pertama saya.

Ricoh Theta S : Spesifikasi & Harga

  • Baterai : Lithium ion  (built in)
  • Battery life ± 260 foto*3
  • Image file format
    • Still image: JPEG (Exif Ver. 2.3), DCF2.0 compliant,
    • Video: MP4 (Video: MPEG-4 AVC/H.264, Audio: AAC)
  • External interface Micro USB terminal: USB 2.0
    HDMI-Micro terminal (Type-D): HDMI 1.4
  • Remote release CA-3-compatible
  • Exterior/external dimensions 44 mm
    • (W) x 130 mm (H) x 22.9 mm (17.9 mm *4) (D)
  • Berat ± 125g
  • Lens configuration 7 elements in 6 groups
  • Lens_F value : F2.0
  • Image sensor_size 1/2.3 CMOS (x2)
  • Effective pixels : ± 12 megapixels (x2)
  • Output pixels Equivalent to approx. 14 megapixels (x2)
  • Still image resolution L: 5376 x 2688, M: 2048 x 1024
  • Video resolution/frame rate/bit rate
    • L: 1920 x 1080/30 fps/16 Mbps
    • M: 1280 x 720/15 fps/6 Mbps
  • Live streaming resolution/frame rate (USB)
    • L: 1920 × 1080/30fps
    • M: 1280 × 720/15fps
      *The resolution and frame rate in Windows 7 is 1280 × 720 and 15fps.
  • Live streaming resolution/frame rate (HDMI)
    • L: 1920 x 1080/30 fps
    • M: 1280 x 720/30 fps
    • S: 720 x 480/30 fps
      *Automatically changes to match the display
  • Wi-Fi Communications Protocol HTTP (Open Spherical Camera API *7 compatible)
  • Usage temperature range 0°C – 40°C
  • Usage humidity range 90% or less
  • Storage temperature range -20°C – 60°C
  • Bundled items Soft case and USB cable

Sumber : https://theta360.com/

Harga pasaran ketika saya beli di akhir tahun 2016 adalah sekitar 5 juta ke atas. Tapi berhubung saya beli pas Harbolnas, jadi saya memperoleh kamera ini dengan harga 4,7 juta dengan diskon nego Bukalapak. Selain di Bukalapak, kamera ini juga dapat dibeli di e-commerce lainnya atau bahkan di toko kamera langganan anda.

Haruskah saya membeli Ricoh Theta S ?

Setelah sebulan lebih menggunakan Theta S, ada beberapa manfaat yang saya dapatkan dari kamera 360° ini. Mungkin manfaat ini lebih ke manfaat secara general dari kamera 360° daripada spesifik pada Theta S. Selain itu saya paparkan juga “masalah” yang saya alami selama penggunaan Theta S ini.

Bukan buat foto cantik

Bisa dibilang belum mapan untuk estetika fotografi. Memang Theta S bisa dikontrol jarak jauh karena memiliki wi-fi yang bisa disinkronisasikan dengan smartphone kita via Theta App. ‘Live View’ memungkinkan kita melihat  hasil tangkapan Theta S secara keseluruhan melalui layar ponsel. Namun keterbatasan ukuran layar smartphone dan cakupan gambar yang cukup luas (sampai 360°) membuat kita sulit menentukan fokus kamera ada dimana. Mengingat lensanya hanya 2, maka bisa diasumsikan fokus point-nya 2 juga, jadi di luar fokus agak blur. Masalahnya adalah : kita sulit menetukan fokusnya dimana, sehingga objek atau bagian yang ingin kita tonjolkan bisa jadi malah kurang tajam hasilnya.

Dan juga perlu diingat bahwa Theta S menggunakan lensa fish-eye. Jadi, jangan kaget kalau misalnya secara proporsi kita terlihat seperti crayon Shinchan yang kepalanya besar badannya kecil, atau justru sebaliknya badannya besar kepalanya kecil.

Handy & Efisien

Ukuran Theta S ini terbilang kompak dan ga menuh-menuhin tas. Mantap digenggam dan juga kokoh. Theta S atau spherical camera pada umumnya cocok buat kamu yang suka observasi. Kalau pakai kamera biasa mungkin kita harus mem-foto dari berbagai sudut untuk mendapatkan informasi, dengan kamera 360° cukup sekali jepret sekeliling kita sudah terekam dalam 1 file saja. Berguna banget buat share info misalnya kamu mau share foto ruangan (lagi cari kosan misalnya) atau suasana kafe. Lebih jujur daripada foto normal yang cenderung memilih sudut-sudut tertentu sebagai point of interest.


Bisa diedit tapi belum tentu bisa di-share dalam format 360° view

Post-processing cukup memungkinkan untuk pengolahan file 360° images karena format filenya masih JPEG. Biarpun untuk saat ini proses editing untuk image 360° ini cukup tricky.  Foto yang tampil seolah-olah “menggelembung” seperti hasil tangkapan lensa fish-eye pada umumnya. Yang paling aman sih, ganti tone warna atau menambah filter ala instagram. Kalau menambah elemen seperti tulisan atau shape  (lingkaran, kotak, segitiga, dll) perlu perlakuan khusus, karena bisa mengakibatkan teks atau shape tersebut mengalami distorsi yang tidak diinginkan.

Untuk proses editing langsung dari smartphone, Ricoh menyediakan aplikasi Theta+ untuk proses editing sederhana ala kadarnya. Kalau kamu pake ASUS Zenfone, aplikasi editing bawaan Zenfone juga bisa dipakai buat editing foto 360°. Another nice thing about Zenfone, ponsel ini bisa membaca foto 360° dengan format 360° view langsung dari gallery bawaan Zenfone itu sendiri. Yay!
Untuk aplikasi photo editing di smartphone (seperti Line Camera, Candy Camera dan Beautyplus) kebanyakan belum bisa baca spherical images/360° images. Jadi kalau kamu edit filenya di aplikasi itu data 360°-nya bakal ilang dan ketika di-upload ke Facebook tidak akan terbaca sebagai 360° images.  

Sementara untuk sharing file. Tempat paling asyik buat sharing foto 360° saat ini masih Facebook. Youtube juga sudah support untuk 360° video. File yang sudah kamu edit di Photoshop tadi bisa kamu save dan upload ke Facebook dan tetap terbaca sebagai 360° image. Yay (lagi)!
Sementara kalau kamu share via messenger seperti WhatsApp, Line atau Telegram, file tersebut akan ter-‘convert’ jadi still image biasa berbentuk persegi panjang. File ini ketika di-share ke Facebook tidak akan terbaca sebagai 360° images.

Penggunaan live view/remote shutter bikin boros baterai smartphone

Memang sih asyik karena bisa diatur jarak jauh via smartphone. Tapiiii, kalau pake aplikasi Theta App buat live view atau sebagai remote shutter bikin boros (banget!) baterai smartphone. Mungkin ini ponsel saya yang sudah kampring T_T. Sementara kalau tekan tombol shutter-nya langsung bikin jari-jari kita kelihatan aneh. Selain itu belum tersedia remote shutter khusus untuk Theta ini selain pakai smartphone. Sebenarnya untuk mengakali problematika itu harusnya bisa dengan timer pada body bawaan Theta S, tapi sayang sekali tidak ada fitur timer pada body bawaan Theta S.

Sekian dulu review kali ini. Untuk hands-on review alias review pemakaian Theta S nya nanti akan saya tulis di postingan lainnya. Stay tuned!

 

Search stories by typing keyword and hit enter to begin searching.