Posts in Category

Journal

Assalamualaikum wr. wb.

Hola. Setelah selama ini selalu ngebahas soal perdesainan sekali-kali saya mau curcol cerita pribadi.

Kalau kamu adalah teman saya di dunia nyata dan memfollow saya di social media mungkin bakal ngeh kalau isi postingan saya jalan-jalan melulu. Setelah awal November tahun lalu pelesir ke Jepang, awal Februari ini melancong ke Taiwan. Ciee~ Pike jalan-jalan melulu….

Sebenarnya agak malu juga dikomentarin begitu. Di satu sisi maklum bakal dikomentarin begitu, di sisi lain jadi ngerasa insecure juga. Insecure kenapa? “Wah Pike banyak duit”, “Emang ga puas udah ke Jepang jadi pengen jalan-jalan keluar negeri terus ya?” dsb dsb. Memang desas desus sebaiknya dicuekin saja, tapi mau ga mau kadang kepikiran juga biarpun selintas hehe.  Karena memang bagi saya, banyak jalan-jalan di waktu yang cukup berdekatan, keluar negeri pula terlihat fancy dan terkesan buang-buang duit yang ga sedikit. Hilanglah citra diri saya sebagai sosok yang gemar menabung *plak

Ke Jepang Dibayarin Kantor, Ke Taiwan Karena Mumpung

 

Sebenarnya kita harus percaya rezeki bentuknya ga cuma sekadar duit. Memang duit adalah visualisasi kesejahteraan yang paling mudah kita bayangkan, tapi dia hanyalah salah satu faktor yang perlu ditopang oleh faktor-faktor lainnya supaya efeknya berasa. Yang penting kita harus terus berusaha, berdoa dan bersyukur. Kalau sudah begitu Insya Allah rezeki ga seret karena sudah ada yang Maha Mengatur.

Setelah mulai aware alias peduli sama pemasukan dan pengeluaran alias segala macam urusan finansial pribadi, sebenarnya saya ga kebayang bisa keluar negeri sejauh Jepang. Soalnya dari cerita-cerita teman yang liburan ke sana bisa menghabiskan total 10 jutaan. Dengar 2 digit di depan kata juta langsung saya berpikir “oke, engga deh”. Sayonara deh Jepang~

Tapi ya mungkin itulah, rezeki ga kemana. Setahun kerja di Matareka, tiba-tiba pada suatu travel event perusahaan dapat promo paket liburan ke Jepang yang masuk budget, sehingga kita semua bisa berlibur ke Jepang. Yihuu!!
Yang ditanggung perusahaan adalah transport, akomodasi dan uang jajan sekian yen. Dengan subsidi yang sudah diberikan kantor, dari kocek saya pribadi hanya mengeluarkan biaya sekitar 1 sampai 1,5 juta saja.

Nah, sementara untuk jalan-jalan ke Taiwan sebenarnya sudah direncanakan sekitar 1,5-2 tahun lalu, ketika saya masih jadi freelancer. Ceritanya agak panjang si :

Yah tau lah ya kalau freelancer itu dianggap “semi-pengangguran” oleh banyak orang. Karena pendapatan yang fluktuatif kita jadi hati-hati banget buat ngeluarin duit. Karena saya pun tipenya ga fancy-fancy amat, jadinya jarang keliatan nongkrong atau belanja. Sebenarnya yaa belanja juga, tapi lebih ke belanja produktif seperti beli kamera, photobox, gadget atau barang apalah yang dirasa bisa menunjang produktivitas. Bagi saya barang-barang ini mahal, tapi rasanya bisa jadi “modal” buat mengembangkan usaha, dan yang pastinya ga kepikiran lah buat “pamerin” di sosial media. Buat apa kan? Nanti malah riya….

Lalu, muncullah isu “sosial” dalam kehidupan saya. Dengan tidak adanya publisitas yang sifatnya hore-hore konsumtif, saya dianggap miskin merana mengenaskan. Sejujurnya saya ga terlalu peduli dianggap miskin gitu karena toh memang masih proses menuju kemapanan itu sendiri kan? Bagus juga ga banyak yang ngajakin jalan-jalan, nongkrong-nongkrong dlsb, karena bisa lebih hemat kalau di rumah saja. Tapiii ya, ga enak juga sih tiap ketemu orang, orang tersebut menatap kita kasihan karena kita miskin. Emang saya keliatan se-miskin itu ya? Meskipun ga mau punya gaya hidup boros nan hedon, tapi dianggap seperti itu juga bikin saya terganggu dan kepikiran juga…

Akhirnya saya bahas lah ini sama sahabat kental saya, Evelyn. Diskusi ini sampai pada kesimpulan bahwa sebaiknya perlulah sekali-sekali update di sosmed yang tampak bahagia. Salah satu contohnya posting foto jalan-jalan dan foto aktivitas. Supaya apa? Ya supaya keliatan aja kita ga mengenaskan-mengenaskan amat hidupnya, haha. Jadi orang-orang bisa lihat juga : we are happy, we are good and we are doing fine. Sebatas itu saja, bukan karena pengen pamer. Mungkin saya dikira di rumah aja karena “malu” ketemu orang karena saya “cuma” freelancer. Padahal emang malas keluar aja kalau ga ada faedahnya.

Dari diskusi tadi, kita sepakat untuk jalan-jalan bareng berdua sebelum umur 30. Jalan-jalan bareng berdua yang emang bisa cari suasana baru dan berasa banget liburannya. Karena kita juga punya prinsip ekonomi yang mirip dimana jalan-jalan jangan sampai bikin tabungan jebol, maka kita mulai hunting nyari best deal buat liburan kita ini, memikirkan kira-kira kemanalah libur berdua ini?

 

Eh tau-tau udah 2018 aja….

 

Mulailah kita keingetan lagi sama rencana kita jalan-jalan berdua sebelum umur 30.

2018 berarti tahun depan kita udah 30. Berarti si planning harus dieksekusi tahun ini.

Januari kita udah mulai lagi cari-cari tiket promo, yang kira-kira masuk budgetlah. Saat itu masih hunting-hunting berdasarkan harga tiket saja, belum tau mau ke mana. Sampai akhirnya kepikiran kenapa ga ke Taiwan aja. Kenapa ke Taiwan? Karena ada om yang kerja di Taiwan dan bisa numpang nginap di apartemen si om, jadi budget akomodasi bisa ditekan. Akhirnya menghubungi om dan dapat kabar kalau si Om sudah mau berakhir masa tugasnya di Taiwan akhir Februari. Walah!

Berarti kalau mau ke Taiwan harus akhir Januari, atau selambat-lambatnya pertengahan Februari. Akhir Januari ga bisa karena Eve masih ada urusan kantor dan gak dibolehin cuti. Tadinya mau berangkat pertengahan Februari karena cek cuaca konon katanya cerah. Tapi akhirnya dimajukan ke awal Februari mengingat pertengahan Februari ada Imlek. Nanya ke Om kalau Imlek di Taipei gimana? “Macet pike!”. Yaudah fix lah kita berangkat di awal Februari. Nah, semisal si om masa berakhir tugasnya bukan Februari nih ya, kemungkinan kita juga main ke sananya mundur karena aura liburan ke Jepangnya masih ada. Tapi yaaa karena sebab inilah akhirnya kita berangkat di awal Februari. And finally, our mission was completed. 

Jadi, berapa budget total perjalanan ke Taiwan? Sekitar 5 juta++ sudah total semua. 3 juta tiket pesawat PP, 2 juta untuk berbagai kebutuhan mulai dari makan, sewa wifi, transportasi umum, tiket-tiket masuk, oleh-oleh dlsb selama 6 hari 5 malam di Taipei. Tadinya target 5 juta, tapi ternyata kebablasan dikit, heuuu. Tapi yang terpenting perjalanan kita menyenangkan dan puas juga karena nafsu belanja dan spending money masih dalam tahap wajar dan terkendali. Alhamdulillah….

Terima kasih om-om atas tumpangan, traktiran, dan lain-lainnya selama kita di Taiwan!

7 Muslim Countries, 7 Kingdom.
Donald Trump, Joffrey Baratheon.
Justin Trudeau, Robb Stark.

Inilah dia, ketika cocoklogi dimulai…….

Awal Mula…

Cerita ini dimulai gara-gara postingan beberapa teman yang ikut nge-share tentang video Justin Trudeau atas sikapnya pasca Donald Trump menandatangani larangan masuknya imigran dari 7 negara muslim.

Sikap Trudeau ini langsung dielu-elukan oleh beberapa netizen dan ada yang menyebut Trudeau sebagai “King in the North”. Teman saya marah karena nasib King in The North tidak berakhir baik dalam serial Game of Thrones (GoT). Lalu kemudian saya berpikir, ada beberapa hal dari serial GoT yang bisa di-cocoklogi-kan dengan kondisi Amerika dan dunia saat ini. Hmm..

Donald Trump as Joffrey Baratheon

Donald Trump adalah Joffrey versi tua dan sedikit bengkak. Dia lahir dari keluarga kaya dan memiliki ego yang tinggi serta emosi yang meledak-meletup jika keinginannya tidak terpenuhi. Baik Joffrey atau Trump punya istri cantik dan tinggi semampai, Sansa dan Melania. Kenapa saya pilih Sansa bukannya Margaery? Karena Sansa lebih nurut sama suaminya, berusaha sabar meskipun suaminya semena-mena dan juga tetap menjaga wibawa suaminya (at least pada season-season awal). Kesan seperti itu juga muncul ketika melihat Melania saat ini.
Namun, akankah Melania ikut berubah sikapnya seperti Sansa? *insert dramatic music here*

Justin Trudeau as Robb Stark

King in The North

 

Tampan, berkuasa dan baik hati. Itulah sosok Robb Stark dan Justin Trudeau.
Dan tidak ketinggalan, dua-duanya berasal dari Utara!

Selain 3 hal yang bikin cewek klepek-klepek sama 2 orang ini, ternyata baik Robb Stark maupun Justin Trudeau punya papah yang lumayan berpengaruh dan “sempat menguasai pasar”. Dua tokoh ini sama-sama pernah dikucilkan karena dianggap hanya mendompleng nama besar orang tua dan tidak memiliki kualifikasi terutama dalam urusan politik. Namun pada akhirnya dua tokoh ini sanggup memenangkan hati banyak orang. Semoga Trudeau ga berakhir tragis seperti Robb ya…Amit-amit.

 

Daenerys Targaryen?

Setelah ada beberapa tokoh yang terkesan mirip dengan alur cerita GoT saya pun jadi berimajinasi tentang tokoh-tokoh lainnya dan men-“cocoklogi”-kannya dengan kondisi politik Amerika. Sayangnya cocoklogi ini dibatasi oleh lemahnya pengetahuan saya tentang politik Amerika dan dunia. Mungkin kalau saya orang Amerika saya bisa menerka-nerka siapa kiranya Peter Baelish dalam kasus ini…

Lalu,
Apakah Barney Sanders adalah Mace Tyrell atau justru Hillary Clinton adalah Olenna Tyrell?
Apakah Khal Drogo mewakili pangeran Arab  padang pasir yang kaya tapi yaudah si gitu doang….(?)
Apakah Tywin adalah Putyn? *sengaja typo*

Dan yang tak ketinggalan, siapakah gerangan Daenerys?

Daenerys dalam GoT digambarkan sebagai sosok pemimpin perempuan berambut perak dan mengendarai naga. Kalau menurut analisis kesotoyan cocoklogi saya, di satu dan lain hal Daenerys ini “mirip” dengan Ratu Elizabeth. Sama-sama wanita yang memimpin, sama-sama berambut silver dan sama-sama “terbuang”. Daenerys terbuang dari Westeros, Ratu Elizabeth dan Inggris “terbuang” dari Uni-Eropa karena Brexit-nya. Sementara Naga bagi saya identik dengan China dan Shenlong. Memang sih dari segi anatomi naga yang ditampilkan berbeda, naga GoT berbentuk kadal raksasa bersayap sementara naga China berbentuk ular terbang. Tapi toh sama-sama naga kan?

China yang selama ini diam saja sama seperti naga GoT yang dianggap sudah punah. Sekarang Sang Naga sudah tumbuh besar dan siap menguasai Essos bahkan Westeros. Ekspansi China di Asia sudah tidak diragukan lagi keagresifannya, namun akankah China bekerja sama dengan Inggris untuk menguasai negara barat?

Dan pertanyaan selanjutnya adalah:
Siapakah tokoh GoT lain yang kiranya pantas kita cocoklogi-kan dengan kondisi Amerika terkini?

つづく

cabut gigi

Akhirnya satu lagi PR per-gigi-an tuntas (biarpun belum tuntas-tuntas amat karena masih harus cabut jahitan minggu depan), yaitu cabut wisdom tooth alias gigi geraham bungsu. Kali ini saya ingin sharing tentang pengalaman operasi cabut geraham bungsu di USU.

Bukan Operasi yang Pertama

Sebelumnya saya juga pernah melakukan operasi geraham bungsu waktu masih muda dulu (cailah masi mudaaa~). Seingat saya sih gak sakit-sakit amat…Makanya akhirnya ketika harus operasi geraham bungsu lagi saya ingin dengan dokter gigi yang sama yaitu Drg. Edy Ketaren. Saya pun operasinya ditempat yang sama dengan yang pertama, yaitu di ruang praktek bedah mulut Universitas Sumatera Utara (USU).

Ketika saya datang dan masuk, ternyata Drg.Edy sudah ada di tempat tapi masih menindak operasi, jadilah saya harus menunggu terlebih dahulu. Selagi menunggu, saya sempatkan membaca e-book di hp dan bermain candy crush soda saga. Saya menunggu sekitar 45 menit dari waktu kesepakatan awal yaitu 8.30 pagi. Sekitar 20 menit-an ketika menunggu, tak sengaja saya mengamati 2 mbak-mbak hijab fashionista yang mondar-mandir depan ruang praktek bedah, berhubung kita hidup di Medan yang mana kalau orang ngobrol bisa kedengeran satu kampung, sepertinya salah satu mbaknya berniat operasi bedah mulut juga…Lalu kemudian ada ibu-ibu dari dalam memanggil mbak-mbak tersebut dan mbak-mbak itu ikut masuk ke dalam dan gak keluar-keluar lagi…
Laaah? ini gue kesalip apa gimana nih???

Ternyata Ga Kesalip

Sepanjang menunggu memang sih kita jadi suka curiga-curiga gitu sama pasien-pasien umum yang berkeliaran di sekitaran ruang praktek bedah. Apalagi kalau orangnya ga kontak sama mahasiswa, trus masuk dan ga keluar-keluar lagi…Kalau sempat kontak sama mahasiswa biasanya tandanya doi adalah pasien mahasiswa tersebut, tapi kalau tidak bisa diduga yang dia cari adalah dokter/dosen senior. Hmm….

Tapi pikiran itu berusaha saya tepis karena kan suudzon itu ga baik. Jadinya saya mengalihkan perhatian dengan lanjut membaca saja.

Nah, selain mbak-mbak hijab fashionista tadi, sempat ada bapak-bapak berpenampilan apik dan trendy dengan wireless earphone masuk ke ruang praktek bedah. Terlihat sehat sebetulnya, tapi masalah gigi mah siapa yang tau ya? Lagi-lagi si Bapak ini pun ga keluar-keluar….Saya pun mulai ngintip-ngintip apa perlu harus proaktif atau gimana gitu? Soalnya memang di USU ini ga ada nomor antrian atau semacamnya, jadi seperti menunggu tanpa kejelasan.

Lalu kemudian ada bapak-bapak lainnya yang masuk menggotong kursi roda. Ketika kursi roda itu keluar, kursi roda itu diduduki oleh ibu-ibu yang sudah tua dan didampingi oleh si bapak apik trendy (+wireless earphone) tadi. Muka ibunya sudah kuyu, mungkin menahan sakit ketika dioperasi, mulutnya menggigit kapas dan kelihatan lemas sekali. Melihat adegan itu tiba-tiba saya pun jadi ketar-ketir…..

Saya menduga ibu itu adalah pasien yang sedang ditindak Drg.Edy ketika saya datang. Prediksi saya harusnya setelah ini giliran saya, namun nama saya tak kunjung dipanggil juga. Wah jangan-jangan beneran disalip si mbak-mbak hijab fashionista tadi? Tapi apa mungkin antriannya ganti-ganti ya, pasien Drg. Edy dulu, baru pasiennya ibu-ibu dokter tadi, baru kemudian saya? Ya, ya bisa jadi…
Saya lanjut menunggu dan tak lama kemudian nama saya dipanggil.

Ketika di dalam ruangan, saya disuruh masuk ke ruangan yang ada di sebelah kiri, namun saya sempat mengintip ruangan sebelah kanan dan melihat mbak-mbak hijab fashionista itu ada di dalamnya. Doi terlihat sedang mengobrol dan air mukanya tampak cemas. Ohh, ternyata saya tidak disalip toh. Mungkin si mbaknya mau konsultasi dulu dan menyiapkan mental.

Proses Operasi

Saya disuruh rebahan di meja (?) operasi dan kepala+mata saya dibalut kain. Bagi saya, ritual penutupan mata ini membuat hati saya semakin mencekam. Tapi ternyata selain supaya air atau cipratan-cipratan sesuatu ga kena mata, ternyata balutan kain itu melindungi pandangan kita dari lampu operasi yang supersilau. Akhirnya saya pun kembali tenang. Tak lama kemudian operasi pun dimulai….

Pertama-tama area sekitar mulut bagian luar dan dalam diberi betadine. Ketika dioles, dokternya sempat berujar, “Ini saya oles betadine dulu ya ke, maaf ni lipsticknya jadi kehapus” “Gapapa dok”. Saat itu saya megenakan lipstik purbasari matte #89 yang dioles tipis saja ke bibir (ah elah pik! ga penting juga keleus infonya!). Lalu kemudian saya jadi teringat mbak-mbak hijab fashionista tadi yang pakai lipstick tebel banget (at least keliatannya begitu) dan warnanya merah cabe jreng-jreng! Wah, kalau doi dioperasi dan dioles betadine juga lipsticknya bisa celemotan banget kayaknya yaa.

Lalu saya disuntik anestesi  di beberapa tempat termasuk di bagian pipi dalam. Rasanya senut-senut pediss gimana gitu, habis disuntik mulut pun terasa kebas. Selanjutnya saya lupa karena memang ga ngeliat dan mulut juga udah mati rasa, yang jelas kita pasti notice ketika suara bor berderum. Ketika bor berderum, saya jadi ingat Ganis yang ketika operasi geraham bungsu biusnya kurang jadi sakitnya minta ampun. Saya pun berdoa semoga anestesinya cukup dan ga perlu merasakan sakitnya dibor tanpa dibius. Dan Alhamdulillah ga kenapa-kenapa sih….Cuma rasanya, dibanding operasi terdahulu operasi yang sekarang lebih rumit karena giginya sudah jauh lebih besar. Bunyi bor yang seperti membelah keramik, dan tang yang narik-narik gigi serta penggunaan benang buat narik giginya (?) dan aktivitas ramai di dalam mulut membuat saya merasakan perasaan diobok-obok aneh ibarat pembawa acara mengaduk nomor undian di acara Gebyar BCA…
Setelah gigi berhasil dikeluarkan, kemudian dilakukan penjahitan. Saya entah mengapa takut kalau si lidah dan bibir ikut kejahit juga, soalnya si lidah ini kayak ngerasain sensasi “kesayat” benang. Ga sakit gimana gitu sih, cuma bikin berimajinasi ga enak saja.

Pasca-Operasi

Selesai sudah operasi. Setelah operasi, ibu dokter memperlihatkan gigi yang diambil tadi. Seperti yang saya duga, giginya gede dan untuk pengoperasiannya harus dipecah jadi 2 bagian(?). Si ibu bertanya, “Ini mau dibuang aja apa mau disimpan?” “Ih buang ajalah Bu!” kata saya spontan. Yakali mau dijadiin kalung kayak suku-suku pedalaman gitu….
Lalu kemudian saya pun diberi resep, membayar biaya bedah mulut dan pulang.

Sehabis operasi, tidak ada masalah berarti. Masalah muncul ketika perlahan-lahan anestesi habis. Saya hanya bisa berguling-guling seperti kucing kutuan. Peluk-peluk guling dan berusaha tidur selagi menunggu papa menjemput obat. Setelah minum obat, kembali berguling-guling ria dan berusaha tidur. Akhirnya ketiduran juga dan ketika bangun dunia sudah lebih baik 🙂

Rincian Biaya

  • Sebelum operasi, beberapa hari sebelumnya diharuskan mengambil foto rontgen gigi panoramic. Saya melakukan foto panoramic di RS. Bunda Thamrin di Jl. Sei Batanghari Medan. Biaya : Rp. 100,000 dan hasilnya langsung jadi.
  • Operasi Geraham Bungsu di USU biayanya Rp. 1,5 juta/gigi. Ini tergolong murah atau standar murah setau saya.
  • Biaya resep obat : Dapat 3 obat untuk 3 hari dengan dosis 3x sehari. Biaya sekitar Rp. 186,000.

Saran saya sih, kalau ada masalah dengan kesehatan sebaiknya langsung diobati/ditindaklanjuti karena semakin ditunda bisa semakin kronis. Kalau sudah kronis otomatis biaya bisa lebih mahal.

Semoga bermanfaat ya!

 

Inktober 2016!

 

inktober

Halo Oktober!! Siap-siap Inktober 2016!

Setiap Oktober berarti waktunya InkTober! InkTober adalah sebuah tantangan dimana seorang artis (atau siapapun sih) menggambar menggunakan tinta sepanjang bulan Oktober. Nah, tahun ini saya menantang diri saya untuk ikutan InkTober 2016 ini karena saya sudah lama sekali tidak menggambar. Heu….

Sejarah InkTober

InkTober pertama kali diadakan pada tahun 2009 diprakasai oleh Jake Parker. Dia menginisiasi InkTober untuk meningkatkan skill-nya dan membangun kebiasan menggambar yang tentu saja bermanfaat bagi yang menjalani profesi keartisan seperti Jake.

InkTober Rules

Cara ikut InkTober sebenarnya gampang banget. Kamu cuma perlu pulpen/pena, kertas, niat dan komitmen. (Komitmen-nya ini loh!!). Lalu ada syarat-syarat lainnya, seperti:

  1. Buat gambar berbasis tinta (boleh menggunakan pensil sebagai base awal)
  2. Posting online ke sosial media yang kamu punya.
  3. Beri hashtag #inktober dan #inktober2016
  4. Ulangi keesokan harinya sampai akhir Oktober

Nah, gimana? Ingin ikutan InkTober 2016 juga? Yuk, ikutan InkTober bareng-bareng!

Postingan ini bakal saya update dengan karya InkTober yang berhasil saya bikin. Semoga berhasil menyelesaikan tantangan dengan baik entah berapapun itu. 

inktober-day-1

inktober-day-2inktober-day-3inktober-day-4inktober-day-6

 

Search stories by typing keyword and hit enter to begin searching.