Operasi Cabut Gigi Geraham Bungsu di USU

cabut gigi

Akhirnya satu lagi PR per-gigi-an tuntas (biarpun belum tuntas-tuntas amat karena masih harus cabut jahitan minggu depan), yaitu cabut wisdom tooth alias gigi geraham bungsu. Kali ini saya ingin sharing tentang pengalaman operasi cabut geraham bungsu di USU.

Bukan Operasi yang Pertama

Sebelumnya saya juga pernah melakukan operasi geraham bungsu waktu masih muda dulu (cailah masi mudaaa~). Seingat saya sih gak sakit-sakit amat…Makanya akhirnya ketika harus operasi geraham bungsu lagi saya ingin dengan dokter gigi yang sama yaitu Drg. Edy Ketaren. Saya pun operasinya ditempat yang sama dengan yang pertama, yaitu di ruang praktek bedah mulut Universitas Sumatera Utara (USU).

Ketika saya datang dan masuk, ternyata Drg.Edy sudah ada di tempat tapi masih menindak operasi, jadilah saya harus menunggu terlebih dahulu. Selagi menunggu, saya sempatkan membaca e-book di hp dan bermain candy crush soda saga. Saya menunggu sekitar 45 menit dari waktu kesepakatan awal yaitu 8.30 pagi. Sekitar 20 menit-an ketika menunggu, tak sengaja saya mengamati 2 mbak-mbak hijab fashionista yang mondar-mandir depan ruang praktek bedah, berhubung kita hidup di Medan yang mana kalau orang ngobrol bisa kedengeran satu kampung, sepertinya salah satu mbaknya berniat operasi bedah mulut juga…Lalu kemudian ada ibu-ibu dari dalam memanggil mbak-mbak tersebut dan mbak-mbak itu ikut masuk ke dalam dan gak keluar-keluar lagi…
Laaah? ini gue kesalip apa gimana nih???

Ternyata Ga Kesalip

Sepanjang menunggu memang sih kita jadi suka curiga-curiga gitu sama pasien-pasien umum yang berkeliaran di sekitaran ruang praktek bedah. Apalagi kalau orangnya ga kontak sama mahasiswa, trus masuk dan ga keluar-keluar lagi…Kalau sempat kontak sama mahasiswa biasanya tandanya doi adalah pasien mahasiswa tersebut, tapi kalau tidak bisa diduga yang dia cari adalah dokter/dosen senior. Hmm….

Tapi pikiran itu berusaha saya tepis karena kan suudzon itu ga baik. Jadinya saya mengalihkan perhatian dengan lanjut membaca saja.

Nah, selain mbak-mbak hijab fashionista tadi, sempat ada bapak-bapak berpenampilan apik dan trendy dengan wireless earphone masuk ke ruang praktek bedah. Terlihat sehat sebetulnya, tapi masalah gigi mah siapa yang tau ya? Lagi-lagi si Bapak ini pun ga keluar-keluar….Saya pun mulai ngintip-ngintip apa perlu harus proaktif atau gimana gitu? Soalnya memang di USU ini ga ada nomor antrian atau semacamnya, jadi seperti menunggu tanpa kejelasan.

Lalu kemudian ada bapak-bapak lainnya yang masuk menggotong kursi roda. Ketika kursi roda itu keluar, kursi roda itu diduduki oleh ibu-ibu yang sudah tua dan didampingi oleh si bapak apik trendy (+wireless earphone) tadi. Muka ibunya sudah kuyu, mungkin menahan sakit ketika dioperasi, mulutnya menggigit kapas dan kelihatan lemas sekali. Melihat adegan itu tiba-tiba saya pun jadi ketar-ketir…..

Saya menduga ibu itu adalah pasien yang sedang ditindak Drg.Edy ketika saya datang. Prediksi saya harusnya setelah ini giliran saya, namun nama saya tak kunjung dipanggil juga. Wah jangan-jangan beneran disalip si mbak-mbak hijab fashionista tadi? Tapi apa mungkin antriannya ganti-ganti ya, pasien Drg. Edy dulu, baru pasiennya ibu-ibu dokter tadi, baru kemudian saya? Ya, ya bisa jadi…
Saya lanjut menunggu dan tak lama kemudian nama saya dipanggil.

Ketika di dalam ruangan, saya disuruh masuk ke ruangan yang ada di sebelah kiri, namun saya sempat mengintip ruangan sebelah kanan dan melihat mbak-mbak hijab fashionista itu ada di dalamnya. Doi terlihat sedang mengobrol dan air mukanya tampak cemas. Ohh, ternyata saya tidak disalip toh. Mungkin si mbaknya mau konsultasi dulu dan menyiapkan mental.

Proses Operasi

Saya disuruh rebahan di meja (?) operasi dan kepala+mata saya dibalut kain. Bagi saya, ritual penutupan mata ini membuat hati saya semakin mencekam. Tapi ternyata selain supaya air atau cipratan-cipratan sesuatu ga kena mata, ternyata balutan kain itu melindungi pandangan kita dari lampu operasi yang supersilau. Akhirnya saya pun kembali tenang. Tak lama kemudian operasi pun dimulai….

Pertama-tama area sekitar mulut bagian luar dan dalam diberi betadine. Ketika dioles, dokternya sempat berujar, “Ini saya oles betadine dulu ya ke, maaf ni lipsticknya jadi kehapus” “Gapapa dok”. Saat itu saya megenakan lipstik purbasari matte #89 yang dioles tipis saja ke bibir (ah elah pik! ga penting juga keleus infonya!). Lalu kemudian saya jadi teringat mbak-mbak hijab fashionista tadi yang pakai lipstick tebel banget (at least keliatannya begitu) dan warnanya merah cabe jreng-jreng! Wah, kalau doi dioperasi dan dioles betadine juga lipsticknya bisa celemotan banget kayaknya yaa.

Lalu saya disuntik anestesi  di beberapa tempat termasuk di bagian pipi dalam. Rasanya senut-senut pediss gimana gitu, habis disuntik mulut pun terasa kebas. Selanjutnya saya lupa karena memang ga ngeliat dan mulut juga udah mati rasa, yang jelas kita pasti notice ketika suara bor berderum. Ketika bor berderum, saya jadi ingat Ganis yang ketika operasi geraham bungsu biusnya kurang jadi sakitnya minta ampun. Saya pun berdoa semoga anestesinya cukup dan ga perlu merasakan sakitnya dibor tanpa dibius. Dan Alhamdulillah ga kenapa-kenapa sih….Cuma rasanya, dibanding operasi terdahulu operasi yang sekarang lebih rumit karena giginya sudah jauh lebih besar. Bunyi bor yang seperti membelah keramik, dan tang yang narik-narik gigi serta penggunaan benang buat narik giginya (?) dan aktivitas ramai di dalam mulut membuat saya merasakan perasaan diobok-obok aneh ibarat pembawa acara mengaduk nomor undian di acara Gebyar BCA…
Setelah gigi berhasil dikeluarkan, kemudian dilakukan penjahitan. Saya entah mengapa takut kalau si lidah dan bibir ikut kejahit juga, soalnya si lidah ini kayak ngerasain sensasi “kesayat” benang. Ga sakit gimana gitu sih, cuma bikin berimajinasi ga enak saja.

Pasca-Operasi

Selesai sudah operasi. Setelah operasi, ibu dokter memperlihatkan gigi yang diambil tadi. Seperti yang saya duga, giginya gede dan untuk pengoperasiannya harus dipecah jadi 2 bagian(?). Si ibu bertanya, “Ini mau dibuang aja apa mau disimpan?” “Ih buang ajalah Bu!” kata saya spontan. Yakali mau dijadiin kalung kayak suku-suku pedalaman gitu….
Lalu kemudian saya pun diberi resep, membayar biaya bedah mulut dan pulang.

Sehabis operasi, tidak ada masalah berarti. Masalah muncul ketika perlahan-lahan anestesi habis. Saya hanya bisa berguling-guling seperti kucing kutuan. Peluk-peluk guling dan berusaha tidur selagi menunggu papa menjemput obat. Setelah minum obat, kembali berguling-guling ria dan berusaha tidur. Akhirnya ketiduran juga dan ketika bangun dunia sudah lebih baik 🙂

Rincian Biaya

  • Sebelum operasi, beberapa hari sebelumnya diharuskan mengambil foto rontgen gigi panoramic. Saya melakukan foto panoramic di RS. Bunda Thamrin di Jl. Sei Batanghari Medan. Biaya : Rp. 100,000 dan hasilnya langsung jadi.
  • Operasi Geraham Bungsu di USU biayanya Rp. 1,5 juta/gigi. Ini tergolong murah atau standar murah setau saya.
  • Biaya resep obat : Dapat 3 obat untuk 3 hari dengan dosis 3x sehari. Biaya sekitar Rp. 186,000.

Saran saya sih, kalau ada masalah dengan kesehatan sebaiknya langsung diobati/ditindaklanjuti karena semakin ditunda bisa semakin kronis. Kalau sudah kronis otomatis biaya bisa lebih mahal.

Semoga bermanfaat ya!

 

Share thisShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Search stories by typing keyword and hit enter to begin searching.