Branding : Membangun Persepsi Konsumen Pada Produk

Bagi pemilik brand, brand berguna untuk menyampaikan nilai, membangun persepsi konsumen pada produk (baik rasional maupun emosional) yang pada akhirnya diharapkan konsumen akan membeli dan terus menggunakannya. Namun, pada akhirnya kesuksesan brand ada pada konsumennya. Bisa jadi produsen membuat value A namun konsumen menanggapinya sebagai value B. Oleh sebab itu, pemahaman yang jelas tentang prinsip-prinsip komunikasi dan consumer insight yang matang adalah kunci kesuksesan komunikasi merek yang baik.

Membangun Persepsi Konsumen : Apa saja karakteristiknya?

Ada beberapa ciri-ciri atau karakteristik untuk menghasilan brand image yang kuat, yaitu sebagai berikut :

  • Brand harus mempengaruhi sikap konsumennya.

    Hal ini berakar pada pengetahuan pemilik brand terhadap konsumennya, yang dinilai berdasarkan sikap dan reaksi konsumen terhadap brand tersebut. Tentu saja reaksi yang diharapkan adalah reaksi yang positif, misalnya konsumen merekomendasikan brand tersebut kepada keluarga, teman & relasinya.

  • Terkonsentrasi pada ide yang kuat.

    Sebuah konsep ide yang baik harus dapat bekerja secara sinergis sepanjang waktu, di bermacam-macam channel komunikasi, namun juga terbuka terhadap eksekusi-eksekusi yang segar untuk menambah dampak persuasi tanpa meninggalkan value dan ciri khas dari produk/brand.
    Contohnya adalah sereal sarapan instan yang  mengusung semangat anak-anak untuk gigih dan pantang menyerah dalam mengejar cita-cita.

  • Simple

    Sehingga komunikasi yang ingin disampaikan jelas dan tanpa bias. Misalnya untuk produk kosmetik muka, tagline “Wajah lebih cerah” akan lebih mudah diterima masyarakat daripada “Wajah menjadi tidak terlalu kusam”.

  • Kredibel & Realistis.

    Sehingga konsumen yakin dengan produk. Semisal kamu menemukan iklan obat pelangsing yang menjamin 100% berat badan turun 10kg dalam waktu 3 hari tanpa olahraga maka kamu harus curiga. Secara sains, hal tersebut tidak aman dan beresiko fatal. Bisa jadi kamu malah bangkrut karena harus bayar pengobatan dlsb. Kita juga harus hati-hati dengan bahasa marketing, karena semakin janji surgawi, semakin patut kita mencurigainya.

  • Memiliki ciri-ciri pembeda dengan kompetitor.

    Tidak hanya sekadar strategi merek (logo, elemen desain, palet warna, dlsb) yang membedakan kita dengan kompetitor, namun ide-ide serta  media-media yang kita gunakan juga dapat menjadi hal pembeda dan apabila digunakan dengan tepat akan memiliki keunggulan yang kompetitif.

  • Melibatkan konsumen dengan cara yang positif & asyik.

    Sehingga konsumen merasakan “keterikatan” dengan brand.
    Misalnya yang sedang hits saat ini adalah mengadakan fun run atau marathon.

  • Ide dan eksekusi dapat dikenali oleh konsumen sekaligus memberikan kesan.

    Ide yang dapat dikenali maksudnya masih “nyambung” dengan tujuan dan value brand, misalnya produk kosmetik mengadakan beauty class untuk konsumennya. Apabila produk kosmetik mengadakan adu panco, meskipun memberikan kesan yang aneh namun akan membuat rancu positioning brand tersebut dan tidak sesuai dengan tujuan brand untuk “mempercantik wanita Indonesia” (misalnya).

  • Memanfaatkan media dengan semaksimal mungkin sesuai dengan bagaimana konsumen memperlakukan media tersebut.

    Misalnya, jika membuat iklan radio, maka gunakan voice over talent yang suaranya enak didengar dan bicaranya jelas. Jika menggunakan gif banner pada website sebaiknya jangan terlalu banyak animasi yang njelimet. Begitupun jika membuat video (misalnya untuk di youtube), jangan gunakan gambar statis lalu di-dubbing sekenanya, karena asumsi konsumen dengan video adalah gambar bergerak.

Kira-kira itulah karakter sebuah brand yang baik. Kalau kamu punya pendapat atau poin lainnya, silakan tulis di kolom komentar ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Search stories by typing keyword and hit enter to begin searching.